MEDAN, KABAR PAJAJARAN – Pemerintah Amerika Serikat (AS) berencana menutup Konsulat AS di Medan, Sumatera Utara, sebagai bagian dari kebijakan efisiensi jaringan diplomatik di berbagai negara. Langkah tersebut menjadi bagian dari agenda pemerintahan Presiden Donald Trump untuk memangkas birokrasi dan mengurangi pengeluaran pemerintah.
Kementerian Luar Negeri AS telah mengirimkan pemberitahuan kepada Kongres mengenai rencana penutupan lima kantor perwakilan diplomatik di luar negeri. Reuters mengungkapkan informasi itu dengan mengutip sejumlah sumber yang mengetahui isi pemberitahuan tersebut. Para sumber meminta identitas mereka dirahasiakan karena pemerintah AS belum mengumumkan kebijakan itu kepada publik.
Jika pemerintah AS menjalankan rencana tersebut, Konsulat AS di Medan akan menghentikan operasionalnya. Saat ini Amerika Serikat masih mengoperasikan tiga kantor konsulat di Indonesia, yaitu Medan, Surabaya, dan Bali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain Medan, pemerintah AS juga memasukkan kantor diplomatik di St. George’s, Grenada, Nagoya, Jepang, Douala, Kamerun, dan Winnipeg, Kanada, ke dalam daftar penutupan.
Pemerintah AS Pangkas Jaringan Diplomatik
Pemerintahan Donald Trump terus mengevaluasi keberadaan kantor-kantor diplomatik Amerika Serikat di berbagai negara. Pemerintah menilai sebagian kantor berukuran kecil tidak lagi memberikan manfaat yang sebanding dengan biaya operasionalnya.
Sejak awal 2025, Gedung Putih telah menyusun berbagai opsi penghematan, termasuk mengurangi jumlah kantor diplomatik di luar negeri. Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih bahkan mengusulkan penutupan hingga 30 kantor perwakilan sebagai bagian dari agenda America First.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menegaskan bahwa kementeriannya perlu menyesuaikan ukuran organisasi dengan kebutuhan saat ini. Menurutnya, langkah tersebut akan membuat penggunaan anggaran menjadi lebih efisien dan tepat sasaran.
Langkah yang Jarang Terjadi
Para pengamat menilai rencana tersebut sebagai langkah yang tidak biasa dalam sejarah diplomasi Amerika Serikat. Selama beberapa dekade, Washington justru memperluas jaringan diplomatiknya untuk memperkuat pengaruh di berbagai kawasan.
Kini pemerintah AS memilih mengurangi jumlah kantor perwakilan tanpa mengaitkannya dengan konflik atau perkembangan geopolitik tertentu. Keputusan itu menunjukkan perubahan strategi diplomatik yang lebih menekankan efisiensi birokrasi.
Kritik Mengarah ke Gedung Putih
Partai Demokrat bersama sejumlah mantan pejabat bidang diplomasi dan keamanan nasional langsung mengkritik kebijakan tersebut. Mereka menilai pengurangan kehadiran diplomatik dapat melemahkan posisi Amerika Serikat di panggung internasional.
Mereka juga mengingatkan bahwa kebijakan itu berpotensi membuka ruang lebih besar bagi China dan Rusia untuk memperluas pengaruhnya di berbagai negara. Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah pemerintah AS mengurangi peran Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) di sejumlah wilayah.
Kementerian Luar Negeri Belum Memberikan Konfirmasi
Hingga kini, Kementerian Luar Negeri AS belum mengonfirmasi secara resmi rencana penutupan lima kantor diplomatik tersebut.
Dalam tanggapannya kepada Reuters, kementerian menyatakan pemerintah terus mengevaluasi jaringan diplomatik agar tetap efisien, efektif, dan mampu mendukung kepentingan luar negeri Amerika Serikat.
Departemen tersebut juga menegaskan akan mengikuti seluruh prosedur pemberitahuan kepada Kongres sebelum mengambil keputusan akhir mengenai perubahan jaringan diplomatik di luar negeri.
Konsulat Medan Masuk Daftar Penutupan
Konsulat AS di Medan menjadi salah satu dari tiga kantor konsulat yang masuk daftar penutupan. Dua kantor lainnya berada di Nagoya, Jepang, dan Winnipeg, Kanada.
Sementara itu, kantor di St. George’s berstatus kedutaan besar, sedangkan kantor di Douala berfungsi sebagai cabang kedutaan.
Di sisi lain, China masih memiliki kehadiran diplomatik di Medan, Nagoya, dan St. George’s. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa pengurangan jaringan diplomatik Amerika Serikat akan memberi peluang lebih besar bagi Beijing untuk memperluas pengaruhnya di sejumlah kawasan.
Pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden, Amerika Serikat justru membuka beberapa kantor perwakilan baru di kawasan Pasifik untuk memperkuat pengaruhnya di tengah persaingan dengan China.
Apabila pemerintah AS merealisasikan rencana tersebut, Washington akan mencatat salah satu pengurangan jaringan diplomatik terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Kebijakan itu sekaligus menandai perubahan arah diplomasi Amerika Serikat yang kini lebih berfokus pada efisiensi anggaran dibandingkan perluasan kehadiran global. ***(Ant)
Sumber Berita: Reuters






