Lombok Tengah, KP – Kebakaran melanda Desa Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (22/8/2026) malam.
Musibah tersebut menghantam salah satu kampung tradisional Suku Sasak yang selama ini menjadi tujuan wisata budaya di Lombok. Kebakaran juga menghanguskan rumah warga dan sejumlah peninggalan budaya yang tersimpan di kawasan tersebut.
Desa Adat Sade memiliki sejarah panjang. Masyarakat Sasak telah menghuni kampung ini hingga 15 generasi dan terus menjaga berbagai tradisi leluhur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Pokdarwis Sade, Sanah, mengatakan masyarakat tetap menjalankan kehidupan tradisional di kawasan tersebut. Warga juga mengikuti kepemimpinan kepala dusun yang mereka sebut Jero Keliang.
Desa Adat Sade Telah Bertahan 15 Generasi
Pertumbuhan penduduk kemudian mendorong masyarakat membentuk sejumlah kampung hunian di sekitar Sade. Kampung tersebut meliputi Sade Daye, Sade Lauk, Bontor Daye, Bontor Lauk, Panjar, Nampang, Lapuh, Kumbaq, dan Pendong-endong.
Wisatawan mancanegara mulai mengenal Desa Adat Sade sejak 1983. Sejak saat itu, kawasan tersebut terus menarik wisatawan yang ingin melihat langsung kehidupan tradisional masyarakat Sasak.
Sade mempertahankan bentuk kampung tradisional dengan rumah beratap alang-alang dan dinding anyaman bambu. Warga juga merawat lantai rumah menggunakan bahan tradisional.
Pada waktu tertentu, warga membersihkan lantai rumah dengan kotoran kerbau atau sapi. Cara tersebut menjadi salah satu tradisi yang masih mereka pertahankan hingga kini.
Sekitar 100 Bangunan Berdiri di Kampung Sade
Sebelum kebakaran terjadi, sekitar 100 unit bangunan berdiri di dalam kawasan Desa Adat Sade. Keterbatasan lahan membuat warga harus mencari lokasi di luar kawasan ketika ingin membangun rumah baru.
Arsitektur tradisional menjadi salah satu daya tarik utama Sade. Masyarakat masih mempertahankan bentuk rumah yang mencerminkan karakter asli bangunan Suku Sasak.
Sade memiliki dua bangunan tradisional yang dikenal luas, yakni Bale Tani dan Lumbung.
Warga menggunakan Bale Tani sebagai tempat tinggal. Mereka membangun rumah tersebut menggunakan kayu, memasang dinding anyaman bambu, lalu menutup bagian atap dengan alang-alang kering.
Untuk bagian lantai, masyarakat menggunakan campuran tanah, getah pohon, dan abu jerami.
Sementara itu, warga menggunakan Lumbung untuk menyimpan hasil panen. Bentuk bangunan tersebut juga menjadi salah satu ciri khas arsitektur tradisional Sasak.
Tenun dan Tradisi Sasak Menarik Wisatawan
Selain rumah tradisional, wisatawan datang ke Sade untuk menyaksikan kehidupan masyarakat Sasak secara langsung. Tari-tarian tradisional dan aktivitas menenun menjadi bagian dari pengalaman wisata di kampung tersebut.
Masyarakat Sade menghasilkan berbagai produk tenun secara manual. Mereka membuat taplak meja, kain sarung, selendang, hingga kain songket khas Lombok.
Kerajinan tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan wisatawan. Warga juga memasarkannya ke berbagai daerah sehingga aktivitas ekonomi Sade turut memberikan manfaat bagi masyarakat di dusun lain dan desa sekitar.
Sanah mengatakan wisatawan tidak perlu membeli tiket masuk ke kawasan Sade. Pengunjung dapat memberikan donasi secara sukarela di pintu masuk.
Kebakaran Menghantam Kampung Wisata Sade
Kebakaran pada Sabtu malam menjadi pukulan berat bagi masyarakat Sade. Material tradisional seperti kayu, bambu, dan alang-alang membuat api cepat mengancam bangunan di kawasan tersebut.
Musibah itu juga menghanguskan sejumlah warisan budaya. Naskah lontar kuno yang menjadi bagian dari sejarah masyarakat setempat turut terbakar dalam peristiwa tersebut.
Bagi masyarakat Sasak, Sade bukan sekadar destinasi wisata. Kampung ini menjadi tempat tinggal sekaligus ruang bagi warga untuk menjaga identitas, tradisi, arsitektur, kesenian, dan budaya leluhur.
Masyarakat kini menghadapi tantangan besar untuk memulihkan Sade setelah kebakaran. Mereka berharap proses pemulihan tetap mempertahankan karakter kampung tradisional dan nilai budaya yang telah mereka jaga selama 15 generasi.
Sanah juga berharap masyarakat dapat mempertahankan Desa Adat Sade sebagai salah satu kampung tradisional Sasak yang masih tersisa di Lombok. ***(Ant)






