Warga Kasepuhan Ciptamulya Bangkit Usai Kebakaran, Pemkab Sukabumi Percepat Pemulihan

Rabu, 29 Juli 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kebakaran menghanguskan puluhan rumah dan fasilitas lainnya di Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (25/7/2026). Berdasarkan data BPBD Kabupaten Sukabumi men- catat ada 51 rumah hangus terbakar, mengakibatkan 51 kepala keluarga atau 159 jiwa terdampak.

Kebakaran menghanguskan puluhan rumah dan fasilitas lainnya di Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (25/7/2026). Berdasarkan data BPBD Kabupaten Sukabumi men- catat ada 51 rumah hangus terbakar, mengakibatkan 51 kepala keluarga atau 159 jiwa terdampak.

SUKABUMI, KABAR PAJAJARAN – Pemerintah Kabupaten Sukabumi mempercepat proses pemulihan bagi warga Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Kecamatan Cisolok, setelah kebakaran besar menghanguskan permukiman mereka pada Sabtu (25/7/2026). Di saat yang sama, masyarakat adat mulai menata kembali kehidupan mereka tanpa meninggalkan aturan leluhur.

Kebakaran itu menghanguskan 51 rumah dan 49 leuit atau lumbung padi. Musibah tersebut memengaruhi kehidupan 159 warga. Sebagian penyintas memilih tinggal di rumah kerabat, sementara warga lainnya bertahan di tenda pengungsian yang BPBD Kabupaten Sukabumi dirikan.

Wakil Bupati Sukabumi Andreas mengatakan pemerintah memprioritaskan pemulihan administrasi kependudukan agar warga dapat kembali mengakses berbagai layanan publik dan bantuan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemerintah telah mencetak seluruh Kartu Keluarga yang terbakar. Petugas juga menyiapkan KTP baru dan menyelesaikan pendataan rekening penerima bantuan bersama Bank BJB.

“Seluruh pendataan administrasi sudah selesai. KK sudah dicetak, KTP besok akan diberikan kepada warga. Pendataan rekening juga sudah rampung sehingga bantuan bisa segera disalurkan,” kata Andreas.

Bantuan Logistik Terus Mengalir

Pemerintah bersama relawan terus menyalurkan makanan, air bersih, perlengkapan sehari-hari, dan berbagai kebutuhan pokok ke lokasi pengungsian. Andreas memastikan seluruh warga masih dapat memenuhi kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat.

Karena kondisi logistik cukup aman, pemerintah mulai mengarahkan perhatian pada proses rehabilitasi permukiman.

“Semua unsur bergerak bersama. Alhamdulillah penanganan berjalan baik dan tim untuk tahap pemulihan juga sudah disiapkan,” ujarnya.

Selain memenuhi kebutuhan dasar, pemerintah mendata seluruh rumah yang terbakar. Data tersebut menjadi dasar penyusunan rencana rehabilitasi dan penyaluran bantuan perbaikan rumah.

Namun, pemerintah masih menunggu keputusan dari pihak Kasepuhan mengenai lokasi dan mekanisme pembangunan agar seluruh proses tetap menghormati ketentuan adat.

Tenaga Kesehatan Dampingi Penyintas

Puskesmas bersama tenaga kesehatan terus memberikan layanan medis dan pendampingan psikologis kepada para penyintas.

Andreas mengatakan kondisi kesehatan warga terus membaik. Pendampingan tersebut juga membantu warga mengurangi trauma akibat kebakaran.

“Alhamdulillah kondisi warga sehat. Memang sempat ada trauma beberapa hari lalu, tetapi sekarang sudah mulai pulih. Puskesmas juga terus siaga memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” ujarnya.

Warga Masih Memerlukan Pakaian Dalam dan Alat Bertani

Salah seorang penyintas, Hendi (45), mengatakan bantuan makanan, pakaian, dan air bersih terus berdatangan. Namun, warga masih memerlukan pakaian dalam, perlengkapan ibadah, dan peralatan pertanian.

Menurut Hendi, sebagian besar warga bekerja sebagai petani sehingga mereka membutuhkan pacul, parang, golok, dan alat kerja lainnya agar dapat kembali mengolah sawah.

“Kalau makanan mah alhamdulillah melimpah. Bantuan pakaian juga banyak, tetapi pakaian dalam belum ada,” kata Hendi.

Ia juga berharap pemerintah membantu warga mengurus STNK dan BPKB yang ikut terbakar agar administrasi kendaraan tetap lengkap.

Selain itu, warga memerlukan sarung, mukena, sajadah, dan Al-Qur’an untuk menunjang aktivitas ibadah sehari-hari.

Trauma Masih Membekas

Hendi mengaku sebagian warga, terutama kaum ibu, masih menyimpan trauma. Beberapa orang bahkan belum sanggup melihat lokasi bekas kebakaran.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga menyetujui rencana pindah kampung. Namun, masyarakat adat memilih menunda rencana itu karena mereka harus mengikuti ketentuan adat.

Masyarakat Adat Pegang Teguh Aturan Leluhur

Sesepuh Adat Kasepuhan Ciptamulya, Abah Hendrik, menegaskan masyarakat tidak bisa langsung membangun rumah meski pemerintah siap memberikan bantuan.

Menurutnya, masyarakat adat wajib mematuhi aturan leluhur yang mengatur seluruh proses pembangunan rumah.

“Kalau membangun rumah tidak bisa sembarangan. Ada aturan adat yang harus dipatuhi,” katanya.

Abah Hendrik menjelaskan masyarakat adat melarang pembangunan rumah selama bulan Safar hingga 14 Rabiul Awal dalam penanggalan adat. Karena itu, warga baru akan memulai pembangunan setelah masa pantangan berakhir.

Sambil menunggu, warga mengumpulkan bambu, kayu, ijuk, dan material tradisional lain untuk mempercepat proses pembangunan ketika waktunya tiba.

Ia juga meminta pemerintah mempertahankan tenda pengungsian sampai seluruh warga kembali memiliki rumah.

Rumah Adat Tetap Pertahankan Arsitektur Tradisional

Abah Hendrik memastikan masyarakat tetap mempertahankan bentuk rumah adat Kasepuhan Ciptamulya.

Warga akan membangun rumah panggung dengan pondasi batu alam, memasang dinding bambu atau papan kayu, lalu menutup atap menggunakan ijuk atau rumbia. Sebaliknya, masyarakat adat melarang penggunaan beton sebagai struktur utama maupun desain rumah permanen.

Sebelum memulai pembangunan, warga menggelar musyawarah bersama sesepuh adat untuk menentukan hari baik berdasarkan kalender adat. Setelah itu, seluruh warga bergotong royong membangun rumah secara bersama-sama.

Menurut Abah Hendrik, rekonstruksi kampung adat bukan sekadar membangun tempat tinggal baru. Proses tersebut juga menjaga identitas budaya yang telah hidup selama ratusan tahun.

“Kami ingin rumah-rumah yang dibangun tetap sesuai adat. Bantuan sangat kami syukuri, tetapi pakem yang diwariskan leluhur juga harus tetap dijaga,” pungkasnya. ***(Chq)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Hari Anak Nasional 2026 di Majalengka Meriah, Pemkab Perkuat Komitmen Wujudkan Kabupaten Layak Anak
Bentrokan di Menteng Bermula dari Keributan di Gerobak Nasi Uduk, 1 Orang Tewas
Satpam Waduk Jatiluhur Ditemukan Tewas Mengambang dengan Tangan Terborgol
10 Kabupaten/Kota Jabar-Jateng Siap Deklarasikan Dukungan Penuh untuk Bandara Kertajati
Hadapi Tantangan Media Digital, Puluhan Wartawan Ikuti UKW di Majalengka
Indramayu Siaga Darurat Kekeringan dan Karhutla hingga September 2026, BPBD Minta Warga Hemat Air
BRIN Pastikan Cahaya Biru yang Lintas di Langit Majalengka Merupakan Meteor Besar
Bupati Majalengka Resmikan Gedung Baru SMPN 1 Leuwimunding, Ingatkan Pentingnya Merawat Fasilitas Sekolah

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 15:00 WIB

Warga Kasepuhan Ciptamulya Bangkit Usai Kebakaran, Pemkab Sukabumi Percepat Pemulihan

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:30 WIB

Hari Anak Nasional 2026 di Majalengka Meriah, Pemkab Perkuat Komitmen Wujudkan Kabupaten Layak Anak

Senin, 27 Juli 2026 - 09:00 WIB

Bentrokan di Menteng Bermula dari Keributan di Gerobak Nasi Uduk, 1 Orang Tewas

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:00 WIB

Satpam Waduk Jatiluhur Ditemukan Tewas Mengambang dengan Tangan Terborgol

Sabtu, 25 Juli 2026 - 12:00 WIB

10 Kabupaten/Kota Jabar-Jateng Siap Deklarasikan Dukungan Penuh untuk Bandara Kertajati

Berita Terbaru