SUKABUMI, KABAR PAJAJARAN – Pemerintah Kabupaten Sukabumi mempercepat proses pemulihan bagi warga Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Kecamatan Cisolok, setelah kebakaran besar menghanguskan permukiman mereka pada Sabtu (25/7/2026). Di saat yang sama, masyarakat adat mulai menata kembali kehidupan mereka tanpa meninggalkan aturan leluhur.
Kebakaran itu menghanguskan 51 rumah dan 49 leuit atau lumbung padi. Musibah tersebut memengaruhi kehidupan 159 warga. Sebagian penyintas memilih tinggal di rumah kerabat, sementara warga lainnya bertahan di tenda pengungsian yang BPBD Kabupaten Sukabumi dirikan.
Wakil Bupati Sukabumi Andreas mengatakan pemerintah memprioritaskan pemulihan administrasi kependudukan agar warga dapat kembali mengakses berbagai layanan publik dan bantuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemerintah telah mencetak seluruh Kartu Keluarga yang terbakar. Petugas juga menyiapkan KTP baru dan menyelesaikan pendataan rekening penerima bantuan bersama Bank BJB.
“Seluruh pendataan administrasi sudah selesai. KK sudah dicetak, KTP besok akan diberikan kepada warga. Pendataan rekening juga sudah rampung sehingga bantuan bisa segera disalurkan,” kata Andreas.
Bantuan Logistik Terus Mengalir
Pemerintah bersama relawan terus menyalurkan makanan, air bersih, perlengkapan sehari-hari, dan berbagai kebutuhan pokok ke lokasi pengungsian. Andreas memastikan seluruh warga masih dapat memenuhi kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat.
Karena kondisi logistik cukup aman, pemerintah mulai mengarahkan perhatian pada proses rehabilitasi permukiman.
“Semua unsur bergerak bersama. Alhamdulillah penanganan berjalan baik dan tim untuk tahap pemulihan juga sudah disiapkan,” ujarnya.
Selain memenuhi kebutuhan dasar, pemerintah mendata seluruh rumah yang terbakar. Data tersebut menjadi dasar penyusunan rencana rehabilitasi dan penyaluran bantuan perbaikan rumah.
Namun, pemerintah masih menunggu keputusan dari pihak Kasepuhan mengenai lokasi dan mekanisme pembangunan agar seluruh proses tetap menghormati ketentuan adat.
Tenaga Kesehatan Dampingi Penyintas
Puskesmas bersama tenaga kesehatan terus memberikan layanan medis dan pendampingan psikologis kepada para penyintas.
Andreas mengatakan kondisi kesehatan warga terus membaik. Pendampingan tersebut juga membantu warga mengurangi trauma akibat kebakaran.
“Alhamdulillah kondisi warga sehat. Memang sempat ada trauma beberapa hari lalu, tetapi sekarang sudah mulai pulih. Puskesmas juga terus siaga memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” ujarnya.
Warga Masih Memerlukan Pakaian Dalam dan Alat Bertani
Salah seorang penyintas, Hendi (45), mengatakan bantuan makanan, pakaian, dan air bersih terus berdatangan. Namun, warga masih memerlukan pakaian dalam, perlengkapan ibadah, dan peralatan pertanian.
Menurut Hendi, sebagian besar warga bekerja sebagai petani sehingga mereka membutuhkan pacul, parang, golok, dan alat kerja lainnya agar dapat kembali mengolah sawah.
“Kalau makanan mah alhamdulillah melimpah. Bantuan pakaian juga banyak, tetapi pakaian dalam belum ada,” kata Hendi.
Ia juga berharap pemerintah membantu warga mengurus STNK dan BPKB yang ikut terbakar agar administrasi kendaraan tetap lengkap.
Selain itu, warga memerlukan sarung, mukena, sajadah, dan Al-Qur’an untuk menunjang aktivitas ibadah sehari-hari.
Trauma Masih Membekas
Hendi mengaku sebagian warga, terutama kaum ibu, masih menyimpan trauma. Beberapa orang bahkan belum sanggup melihat lokasi bekas kebakaran.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga menyetujui rencana pindah kampung. Namun, masyarakat adat memilih menunda rencana itu karena mereka harus mengikuti ketentuan adat.
Masyarakat Adat Pegang Teguh Aturan Leluhur
Sesepuh Adat Kasepuhan Ciptamulya, Abah Hendrik, menegaskan masyarakat tidak bisa langsung membangun rumah meski pemerintah siap memberikan bantuan.
Menurutnya, masyarakat adat wajib mematuhi aturan leluhur yang mengatur seluruh proses pembangunan rumah.
“Kalau membangun rumah tidak bisa sembarangan. Ada aturan adat yang harus dipatuhi,” katanya.
Abah Hendrik menjelaskan masyarakat adat melarang pembangunan rumah selama bulan Safar hingga 14 Rabiul Awal dalam penanggalan adat. Karena itu, warga baru akan memulai pembangunan setelah masa pantangan berakhir.
Sambil menunggu, warga mengumpulkan bambu, kayu, ijuk, dan material tradisional lain untuk mempercepat proses pembangunan ketika waktunya tiba.
Ia juga meminta pemerintah mempertahankan tenda pengungsian sampai seluruh warga kembali memiliki rumah.
Rumah Adat Tetap Pertahankan Arsitektur Tradisional
Abah Hendrik memastikan masyarakat tetap mempertahankan bentuk rumah adat Kasepuhan Ciptamulya.
Warga akan membangun rumah panggung dengan pondasi batu alam, memasang dinding bambu atau papan kayu, lalu menutup atap menggunakan ijuk atau rumbia. Sebaliknya, masyarakat adat melarang penggunaan beton sebagai struktur utama maupun desain rumah permanen.
Sebelum memulai pembangunan, warga menggelar musyawarah bersama sesepuh adat untuk menentukan hari baik berdasarkan kalender adat. Setelah itu, seluruh warga bergotong royong membangun rumah secara bersama-sama.
Menurut Abah Hendrik, rekonstruksi kampung adat bukan sekadar membangun tempat tinggal baru. Proses tersebut juga menjaga identitas budaya yang telah hidup selama ratusan tahun.
“Kami ingin rumah-rumah yang dibangun tetap sesuai adat. Bantuan sangat kami syukuri, tetapi pakem yang diwariskan leluhur juga harus tetap dijaga,” pungkasnya. ***(Chq)






