Karhutla Kalsel Masih Mengganas, OMC Terkendala Bibit Awan

Jumat, 11 September 2026 - 16:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kabut asap kiriman yang menyelimuti Banjarmasin, Kalsel, Jumat (11/9/2026) kian pekat. Warga merasa terganggu dan hanya bisa pasrah.(KOMPAS.com/ANDI MUHAMMAD HASWAR)

Kabut asap kiriman yang menyelimuti Banjarmasin, Kalsel, Jumat (11/9/2026) kian pekat. Warga merasa terganggu dan hanya bisa pasrah.(KOMPAS.com/ANDI MUHAMMAD HASWAR)

BANJARBARU, KP — Pemerintah terus menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel). Namun, upaya mendatangkan hujan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menghadapi kendala karena petugas kesulitan menemukan bibit awan yang memenuhi syarat untuk penyemaian.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengungkapkan kondisi atmosfer dalam beberapa hari hingga beberapa pekan terakhir menyulitkan tim OMC menemukan bibit awan.

“Bibit pertemuan awannya itu agak susah ini beberapa hari dan beberapa minggu ini,” ujar Suharyanto saat mendampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau Posko Karhutla Guntung Damar, Banjarbaru, Kamis (10/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi tersebut membuat pemerintah tidak bisa mengandalkan OMC setiap saat. BNPB bersama pemerintah daerah terus menggerakkan satgas darat dan armada udara untuk memadamkan api di sejumlah lokasi.

Musim Hujan Kalsel Diprediksi Mulai Oktober

Suharyanto mengatakan hujan alami dapat membantu pemerintah memadamkan karhutla, terutama pada wilayah yang memiliki lahan gambut.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan mulai meningkat di Kalsel sekitar Oktober 2026.

Sebelum hujan turun secara alami, pemerintah akan terus menjalankan pemadaman melalui jalur darat dan udara. Tim juga akan melanjutkan OMC setiap kali kondisi atmosfer menyediakan bibit awan yang sesuai.

“Ini bukan pembelaan, tetapi kita upayakan agar terus turun (hujan buatan),” kata Suharyanto.

BMKG Kalsel memperkirakan peningkatan curah hujan akan muncul lebih dahulu di wilayah utara. Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Selatan, dan Hulu Sungai Tengah masuk dalam wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan hujan lebih awal.

Setelah itu, peningkatan curah hujan akan meluas secara bertahap ke wilayah Kalsel lainnya.

BNPB Perkuat Satgas Darat

Sambil menunggu hujan, BNPB dan pemerintah daerah terus memperkuat satuan tugas darat. Petugas turun langsung ke lokasi untuk memadamkan api dan mencegah munculnya titik panas baru.

Satgas darat juga memantau titik api yang sebelumnya sudah mereka padamkan. Langkah tersebut penting karena kondisi lahan yang kering dapat memicu munculnya kembali api.

Lahan gambut membutuhkan penanganan khusus. Api dapat menjalar di bawah permukaan tanah sehingga petugas harus melakukan pendinginan secara menyeluruh.

Petugas tidak hanya mengejar kobaran api yang terlihat. Mereka juga membasahi area sekitar titik kebakaran untuk mengurangi risiko bara kembali menyala.

Empat Helikopter Water Bombing Bantu Pemadaman

BNPB juga memperkuat operasi udara untuk mendukung penanganan karhutla Kalsel. Saat ini, pemerintah mengoperasikan empat helikopter water bombing, dua helikopter patroli, dan satu pesawat.

Armada tersebut membantu satgas darat menjangkau lokasi kebakaran yang sulit diakses melalui jalur darat.

Namun, BNPB tidak bisa menggunakan helikopter water bombing untuk semua kondisi kebakaran. Efektivitas operasi udara sangat bergantung pada ukuran api, lokasi kebakaran, serta akses menuju titik api.

Suharyanto menjelaskan bahwa helikopter water bombing lebih efektif ketika petugas menemukan api yang masih kecil atau lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

“Heli water bombing itu hanya ketika apinya masih kecil, di tempat-tempat yang susah dijangkau lahan darat, dan hanya membantu satgas darat untuk memutus kepala apinya,” ujarnya.

Ratusan Hektare Lahan Gambut Masih Mengalami Penanganan

BNPB mencatat ratusan hektare lahan gambut di enam provinsi prioritas karhutla masih membutuhkan penanganan hingga awal September 2026.

Pemerintah juga terus menghadapi kemunculan titik kebakaran baru. Di sejumlah lokasi, api yang sebelumnya padam kembali muncul.

Kondisi lahan gambut membuat petugas harus melakukan penanganan secara berlapis. Satgas darat memadamkan api dan mendinginkan lahan, sedangkan armada udara membantu menjangkau titik kebakaran yang sulit diakses.

Pemerintah juga terus memantau kondisi atmosfer untuk menentukan waktu pelaksanaan OMC. Tim hanya dapat melakukan penyemaian ketika menemukan bibit awan yang sesuai.

Pemerintah Andalkan Berbagai Strategi

Keterbatasan bibit awan membuat pemerintah tidak dapat menjadikan OMC sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi karhutla Kalsel.

BNPB bersama pemerintah daerah akan terus mengandalkan satgas darat, operasi udara, dan OMC sesuai kondisi di lapangan.

Pemerintah berharap hujan alami mulai turun pada Oktober 2026 dan membantu proses pemadaman. Hujan juga dapat mendinginkan lahan gambut serta mengurangi risiko munculnya kembali asap dan titik api.

Sebelum musim hujan tiba, petugas harus menjaga intensitas pemadaman agar kebakaran tidak meluas. Pemerintah juga perlu memastikan setiap titik api mendapat penanganan hingga kondisi lahan benar-benar aman.

Dengan strategi tersebut, pemerintah berupaya menekan dampak karhutla Kalsel sambil menunggu kondisi cuaca yang lebih mendukung. ***

Facebook Comments Box

Sumber Berita: Tribun

Berita Terkait

Ledakan Ruko San Antonio Surabaya, Saksi Lihat Korban Berlari dengan Pakaian Terbakar
Tiga Gempa Guncang Tanggamus dalam 41 Menit, BMKG Minta Warga Tetap Waspada
Kalapas Cibinong Wisnu Hani Putranto Dipecat Imipas, 17 ASN Kena Sanksi
Remisi Indra Kenz Dievaluasi Ditjenpas, Pembebasan Bersyarat Bisa Dicabut
TPA Cikundul Sukabumi Terbakar, Api Hanguskan 500 Meter Persegi
Mata Air di Gunung Sindur Bogor Mendadak Merah, DLH Tunggu Hasil Uji Laboratorium
Jakarta Terancam Kekeringan, Pemprov DKI Kaji Desalinasi Air Laut
Pria Penendang Wanita di Senayan City Jadi Tersangka

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Ledakan Ruko San Antonio Surabaya, Saksi Lihat Korban Berlari dengan Pakaian Terbakar

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:00 WIB

Tiga Gempa Guncang Tanggamus dalam 41 Menit, BMKG Minta Warga Tetap Waspada

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Kalapas Cibinong Wisnu Hani Putranto Dipecat Imipas, 17 ASN Kena Sanksi

Kamis, 1 Oktober 2026 - 12:00 WIB

Remisi Indra Kenz Dievaluasi Ditjenpas, Pembebasan Bersyarat Bisa Dicabut

Minggu, 27 September 2026 - 08:00 WIB

TPA Cikundul Sukabumi Terbakar, Api Hanguskan 500 Meter Persegi

Berita Terbaru