LAMPUNG, KABAR PAJAJARAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta pengguna transportasi laut di Lampung meningkatkan kewaspadaan. Gelombang tinggi berpotensi menerjang sejumlah perairan Lampung dalam beberapa hari ke depan.
BMKG memprakirakan gelombang dengan ketinggian 2,5 hingga 4 meter terjadi di perairan barat Lampung dan Selat Sunda bagian selatan Lampung pada 15-18 September 2026.
Prakirawan BMKG Maritim Lampung, Amalia Khoirunnisa, menjelaskan pola angin menjadi salah satu faktor yang memicu peningkatan gelombang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Amalia, angin di wilayah perairan Lampung umumnya bergerak dari arah timur hingga selatan.
“Kecepatan angin tertinggi berpotensi terjadi di perairan barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan Lampung, serta perairan Teluk Lampung bagian selatan,” kata Amalia, Senin (14/9/2026).
Kondisi tersebut dapat meningkatkan tinggi gelombang di sejumlah wilayah perairan Lampung.
Gelombang Capai 4 Meter
Berdasarkan prakiraan BMKG, perairan barat Lampung dan Selat Sunda bagian selatan Lampung berpotensi mengalami gelombang setinggi 2,5-4 meter.
Sementara itu, BMKG memperkirakan gelombang di perairan Teluk Lampung bagian selatan mencapai 1,25-2,5 meter.
Kondisi laut tersebut perlu mendapat perhatian dari masyarakat yang menggunakan transportasi laut. Operator pelayaran dan nelayan juga perlu memperhitungkan kondisi cuaca sebelum melaut.
Amalia mengingatkan gelombang tinggi dapat meningkatkan risiko keselamatan, terutama bagi kapal dengan ukuran dan kemampuan tertentu.
“Pengguna jasa pelayaran perlu meningkatkan kewaspadaan karena gelombang tinggi dapat berisiko terhadap keselamatan pelayaran, terutama bagi kapal-kapal dengan ukuran dan kemampuan tertentu,” ujarnya.
BMKG Petakan Batas Risiko Kapal
BMKG juga mencatat setiap jenis kapal memiliki batas risiko yang berbeda ketika menghadapi angin dan gelombang tinggi.
Perahu nelayan mulai menghadapi risiko ketika kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter.
Untuk kapal tongkang, risiko mulai meningkat saat kecepatan angin mencapai 16 knot dengan tinggi gelombang sekitar 1,5 meter.
Sementara itu, kapal feri mulai menghadapi risiko ketika kecepatan angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter.
Dengan potensi gelombang hingga 4 meter, masyarakat perlu mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum melakukan perjalanan laut.
BMKG Minta Masyarakat Pantau Cuaca
BMKG meminta operator pelayaran, nelayan, dan masyarakat yang menggunakan transportasi laut terus memantau perkembangan cuaca.
Pemantauan tersebut penting untuk membantu masyarakat menentukan waktu dan rute perjalanan yang lebih aman.
“Kondisi cuaca dan gelombang perlu diperhatikan sebelum melakukan perjalanan maupun selama berada di perairan,” kata Amalia.
Ia menegaskan informasi cuaca dan gelombang dapat menjadi pertimbangan penting dalam menjaga keselamatan perjalanan laut.
Masyarakat juga perlu menghindari keputusan berlayar ketika kondisi perairan menunjukkan peningkatan gelombang dan angin yang berpotensi membahayakan. ***(Ant)



![Cara operasikan AC mobil. Sebagai ilustrasi [Shutterstock].](https://kabarpajajaran.com/wp-content/uploads/2026/09/ac-225x129.jpg)

