INDRAMAYU, KABAR PAJAJARAN – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram mulai menghantui warga di sejumlah wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Kondisi itu memaksa masyarakat berkeliling mencari gas bersubsidi, sementara harga di tingkat pengecer terus meningkat.
Pedagang kecil menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya. Mereka harus menyisihkan waktu untuk berburu gas sebelum memulai aktivitas berjualan.
Jujun, pedagang gorengan di depan SMAN 1 Sindang, mengaku harus mendatangi beberapa warung sebelum berhasil membawa pulang satu tabung gas melon.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Lagi langka, harus muter-muter dulu baru dapat,” kata Jujun, Kamis (30/7/2026).
Menurut Jujun, kelangkaan gas sudah berlangsung sekitar dua pekan. Hampir setiap hari ia menghadapi kesulitan yang sama.
Meski begitu, ia masih bisa memperoleh gas karena sebagian warung menerima pasokan pada sore hari.
“Kalau sore biasanya ada kiriman. Alhamdulillah masih dapat walaupun susah,” ujarnya.
Kelangkaan Gas Ancam Mata Pencarian Pedagang
Jujun mengandalkan usaha sempol sebagai satu-satunya sumber penghasilan keluarga. Ia tinggal di Indramayu bersama istri dan tiga anak yang masih kecil.
Karena tekanan ekonomi, ia menjual tabung gas cadangannya beberapa waktu lalu. Kini, ia hanya memiliki satu tabung untuk memenuhi kebutuhan usaha sekaligus memasak di rumah.
Setiap pagi Jujun memakai tabung itu untuk berjualan. Setelah selesai berdagang, ia membawa pulang tabung tersebut agar istrinya bisa memasak.
Kondisi itu membuatnya khawatir. Jika gas semakin sulit diperoleh, ia tidak bisa berjualan dan kehilangan penghasilan harian.
Harga Gas Melon Ikut Naik
Selain sulit dicari, harga elpiji 3 kilogram juga terus naik.
Sebelumnya Jujun membeli gas dengan harga sekitar Rp21.000 per tabung. Kini ia harus mengeluarkan sekitar Rp25.000.
Satu tabung hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama tiga hari. Akibatnya, biaya operasional usahanya ikut bertambah.
Tidak hanya itu, harga bahan baku juga meningkat. Harga ayam kini mencapai sekitar Rp38.000 per kilogram, sedangkan telur menyentuh Rp27.000 per kilogram.
Menurut Jujun, kenaikan harga bahan baku membuat keuntungan usahanya semakin tipis.
Warga Harus Berburu Gas dari Warung ke Warung
Kesulitan memperoleh gas juga dialami Andri, pedagang makanan di Kecamatan Sindang.
Pagi itu, Andri mendatangi sekitar 10 warung sebelum menemukan satu tabung gas elpiji 3 kilogram.
“Kosong terus. Baru di warung ke-10 ada,” katanya.
Pengalaman serupa dialami Gugun, warga Kecamatan Haurgeulis.
Ia mengelilingi sejumlah warung karena hampir semuanya kehabisan stok. Saat akhirnya menemukan gas, ia harus membayar Rp30.000 per tabung.
“Mau tidak mau saya beli karena harus masak,” ujarnya.
Pasokan Datang, Stok Langsung Habis
Penjaga warung di Kecamatan Sindang, Ari, membenarkan tingginya permintaan masyarakat.
Menurutnya, setiap kiriman gas langsung habis dalam waktu singkat karena banyak warga sudah menunggu.
“Begitu datang langsung banyak yang beli. Sekarang sudah habis lagi,” katanya.
Hingga kini, warga belum mengetahui penyebab pasti kelangkaan gas melon di Indramayu. Mereka berharap pemerintah segera menormalkan distribusi agar masyarakat dan pelaku usaha kecil kembali memperoleh gas bersubsidi dengan mudah. ***(Chq)






