KABAR PAJAJARAN – Harga minyak dunia kembali naik pada Senin (29/6/2026) seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pelaku pasar kembali mencermati potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah setelah kedua negara kembali terlibat aksi militer.
Mengacu pada perdagangan internasional, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,71 persen menjadi 69,72 dollar AS per barel. Kenaikan tersebut terjadi setelah harga WTI sempat turun di bawah level 70 dollar AS pada Jumat (26/6/2026), level terendah sejak akhir Februari 2026.
Sementara itu, minyak mentah acuan global Brent ikut menguat 0,36 persen menjadi 72,25 dollar AS per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perundingan Damai Belum Berlanjut
Kenaikan harga minyak turut dipengaruhi tertundanya pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Proses negosiasi berhenti sementara setelah Washington melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati kawasan tersebut sehingga setiap peningkatan konflik langsung memicu kekhawatiran terhadap stabilitas distribusi energi.
Seorang sumber dari Pakistan yang ikut terlibat dalam proses negosiasi menyebut seluruh delegasi masih berada di Swiss. Mereka menunggu persetujuan untuk melanjutkan pembahasan. Namun, sumber tersebut tidak menjelaskan pihak yang memutuskan penghentian sementara perundingan.
Pemerintah AS Bantah Negosiasi Gagal
Di tengah beredarnya kabar penundaan pembicaraan, pemerintah Presiden Donald Trump membantah bahwa proses negosiasi telah dibatalkan.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS menegaskan pembahasan teknis mengenai implementasi nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) tetap berjalan sesuai agenda.
Pejabat AS lainnya juga memastikan kedua pihak masih melanjutkan pembahasan berbagai aspek teknis dalam MoU. Menurutnya, kondisi di jalur pelayaran internasional mulai membaik sehingga kapal-kapal komersial dapat kembali melintas.
Ketegangan Militer Kembali Meningkat
Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Donald Trump memerintahkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Iran. Langkah tersebut menjadi respons atas serangan yang sebelumnya menyasar jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Di saat yang sama, Kuwait dan Bahrain melaporkan serangan rudal serta pesawat nirawak pada Minggu malam. Perkembangan itu semakin meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan.
Melalui akun Truth Social, Trump menyatakan militer AS menyerang lokasi penyimpanan rudal, drone, dan fasilitas radar pantai Iran. Ia menuding Teheran kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Pasar Energi Waspadai Gangguan Pasokan
Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah membuat investor kembali memburu aset energi karena khawatir distribusi minyak mentah dari kawasan tersebut akan terganggu.
Selama konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda, pasar diperkirakan tetap mencermati setiap perkembangan diplomatik maupun militer yang berpotensi memengaruhi pasokan minyak global. Kondisi tersebut juga berpeluang menjaga harga minyak tetap bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan.***(Ant)





