Banjir Bandang Nepal-Tibet: 2.980 Orang Masih Hilang, 682 Jenazah Ditemukan

Minggu, 30 Agustus 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas pemadam kebakaran dan penyelamat melakukan operasi pencarian dan penyelamatan sejauh 2 kilometer dari Pelabuhan Gyirong beberapa hari setelah tanah longsor pada 26 Agustus yang menghancurkan pelabuhan tersebut, di Kabupaten Gyirong, wilayah Tibet barat, China, pada 29 Agustus 2026. (CNS/AFP)

Petugas pemadam kebakaran dan penyelamat melakukan operasi pencarian dan penyelamatan sejauh 2 kilometer dari Pelabuhan Gyirong beberapa hari setelah tanah longsor pada 26 Agustus yang menghancurkan pelabuhan tersebut, di Kabupaten Gyirong, wilayah Tibet barat, China, pada 29 Agustus 2026. (CNS/AFP)

KABAR PAJAJARAN – Tim penyelamat Nepal dan China terus berpacu dengan waktu untuk mencari ribuan orang yang hilang setelah banjir bandang menerjang kawasan Himalaya.

Banjir yang membawa material longsor itu melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8/2026). Runtuhnya gletser memicu aliran air dalam jumlah besar yang kemudian menerjang kawasan di sepanjang sungai.

Data terbaru dari Nepal dan China mencatat 682 orang meninggal dunia, sementara 2.980 orang masih hilang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Nepal Catat 675 Korban Meninggal

Otoritas penanggulangan bencana Nepal mencatat 675 orang meninggal dunia dan 2.426 orang masih hilang.

Arus banjir membawa lumpur, batu, es, dan material longsor ke sejumlah permukiman. Kondisi tersebut menyulitkan petugas untuk menjangkau beberapa lokasi terdampak.

Tim penyelamat kini menyisir berbagai kawasan untuk mencari korban. Mereka juga memusatkan operasi di sejumlah fasilitas pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Di wilayah Tibet, China, Xinhua mencatat tujuh orang meninggal dunia. Sebanyak 554 orang lainnya masih hilang.

Jika menggabungkan data dari Nepal dan Tibet, bencana ini telah menewaskan sedikitnya 682 orang. Tim penyelamat juga masih mencari 2.980 orang.

Ratusan Pekerja PLTA Masih Dicari

Tim penyelamat menghadapi tantangan besar saat mencari korban di terowongan PLTA.

Otoritas Nepal memasukkan 933 pekerja PLTA ke dalam daftar orang hilang. Sebagian pekerja kemungkinan masih berada di dalam terowongan yang tertutup material banjir.

Pada Sabtu (29/8/2026), militer Nepal berhasil memasukkan pipa ke salah satu terowongan PLTA Trishuli 3A.

Petugas mengalirkan udara melalui pipa tersebut untuk membantu pekerja yang mungkin masih bertahan di dalam terowongan.

Setelah membuka jalur udara, tim penyelamat mulai menggali material yang menutup akses menuju terowongan. Mereka kemudian akan mengirim petugas masuk untuk mencari para pekerja.

Menteri Dalam Negeri Nepal Sudan Gurung mengatakan timnya sudah mengalirkan udara melalui celah kecil menuju terowongan.

Tim juga melanjutkan pencarian di PLTA Trishuli 3B.

Ratusan Warga Asing Masih Hilang

Bencana Himalaya juga membuat ratusan warga asing kehilangan kontak dengan keluarga mereka.

Otoritas Nepal mencatat 517 warga asing masih hilang. Mereka terdiri atas wisatawan, pekerja asing, serta peziarah Hindu yang melakukan perjalanan menuju Gunung Kailash di Tibet.

Nepal Tourism Board mencatat warga dari sejumlah negara masuk dalam daftar pencarian. Mereka berasal dari China, India, Amerika Serikat, Ukraina, Malaysia, Australia, Inggris, Kanada, Korea Selatan, Singapura, Jepang, dan beberapa negara Eropa.

Di Tibet, Xinhua mencatat 260 warga asing masih hilang. Pemerintah China belum merinci kewarganegaraan mereka.

Sementara itu, petugas India menemukan tujuh jenazah di sejumlah sungai yang mengalir dari Nepal. Petugas menduga arus banjir membawa korban hingga masuk ke wilayah India.

Amerika Serikat Tambah Bantuan

Amerika Serikat meningkatkan bantuan kemanusiaan untuk Nepal setelah bencana tersebut.

Pemerintah AS mengumumkan tambahan bantuan senilai 3,6 juta dollar AS. Dana itu akan membantu menyediakan kebutuhan pangan darurat bagi masyarakat terdampak.

Sebelumnya, pemerintah AS telah menjanjikan bantuan awal sebesar 500.000 dollar AS.

Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal memperkirakan pemerintah membutuhkan dana hingga miliaran dollar AS untuk membangun kembali wilayah yang rusak.

Namun, pemerintah Nepal masih mengutamakan operasi pencarian dan penyelamatan.

Khanal juga meminta bantuan berupa drone yang mampu mengangkat beban berat. Selain itu, Nepal membutuhkan teknologi pencari korban, peralatan forensik untuk mengidentifikasi jenazah, serta unit pendingin untuk menyimpan korban yang telah ditemukan.

Ancaman Banjir Susulan

Tim penyelamat juga menghadapi ancaman banjir susulan.

Aliran air membawa es dan lumpur hingga membentuk sejumlah danau baru di kawasan terdampak. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran karena salah satu danau berpotensi menghasilkan banjir baru.

Pada Sabtu, menteri luar negeri Nepal dan China membahas pertukaran data satelit serta informasi hidrologi. Kedua negara akan menggunakan data tersebut untuk memantau kondisi kawasan terdampak.

Di Tibet, otoritas sempat menghentikan operasi penyelamatan di kawasan Gyirong. Mereka mengambil keputusan tersebut karena khawatir air dari danau baru kembali meluap.

Namun, CCTV melaporkan air danau telah mengalir secara alami sehingga permukaannya mulai surut.

Xinhua mencatat sekitar 2.141 personel penyelamat berada di kawasan Gyirong. Lebih dari 500 petugas bekerja di lokasi yang mengalami kerusakan paling parah.

Runtuhnya Gletser Picu Banjir Dahsyat

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut runtuhnya gletser sebagai pemicu banjir dahsyat di perbatasan Nepal dan Tibet.

Para ahli masih mencari penyebab runtuhnya gletser tersebut.

Perubahan iklim turut meningkatkan perhatian terhadap risiko bencana di kawasan pegunungan. Pencairan gletser dapat mengubah kondisi aliran air dan meningkatkan risiko banjir bandang.

Kepala Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Simon Steill mengatakan bencana tersebut menunjukkan kerentanan kawasan pegunungan terhadap perubahan lingkungan.

Menurutnya, pemanasan global akibat pembakaran batu bara, minyak, dan gas dapat meningkatkan peluang terjadinya bencana serupa.

Tim penyelamat Nepal dan China kini terus mencari ribuan orang yang masih hilang. Mereka juga harus bekerja cepat karena kondisi medan dan ancaman banjir susulan dapat menghambat operasi pencarian.***(Ant)

Facebook Comments Box

Sumber Berita: AFP, Xinhuanet

Berita Terkait

Harga Minyak Mentah Naik ke Level Tertinggi Enam Pekan, Konflik AS-Iran Memanas
Harga Minyak Dunia Naik 2,7 Persen, Brent Tembus 90 Dollar AS
Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 160 Orang, Ratusan Turis Masih Hilang
Banjir Bandang Nepal Tewaskan 157 Orang, Ratusan Masih Hilang
Apple PHK Lebih dari 200 Karyawan, Tim Vision Pro dan Siri Kena Imbas
Kabut Asap Karhutla Indonesia Pengaruhi Kualitas Udara Malaysia, 29 Wilayah Masuk Kategori Tidak Sehat
16 Negara yang Merayakan Kemerdekaan dan Hari Nasional pada Agustus, Indonesia 17 Agustus
Kacamata Gerhana Matahari Langka di Inggris, Warga Rela Antre hingga Berburu di Toko Roti

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 08:12 WIB

Harga Minyak Mentah Naik ke Level Tertinggi Enam Pekan, Konflik AS-Iran Memanas

Selasa, 1 September 2026 - 11:00 WIB

Harga Minyak Dunia Naik 2,7 Persen, Brent Tembus 90 Dollar AS

Minggu, 30 Agustus 2026 - 18:00 WIB

Banjir Bandang Nepal-Tibet: 2.980 Orang Masih Hilang, 682 Jenazah Ditemukan

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 160 Orang, Ratusan Turis Masih Hilang

Kamis, 27 Agustus 2026 - 10:18 WIB

Banjir Bandang Nepal Tewaskan 157 Orang, Ratusan Masih Hilang

Berita Terbaru

Teknologi

iOS 27 Resmi Dirilis, Ini Daftar 33 iPhone yang Kebagian Update

Selasa, 15 Sep 2026 - 13:14 WIB