Harga Minyak Mentah Naik ke Level Tertinggi Enam Pekan, Konflik AS-Iran Memanas

Selasa, 8 September 2026 - 08:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Minyak Dunia, Harga minyak dunia sempat anjlok tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan perang dengan Iran hampir selesai. Namun, analis menilai penurunan harga tersebut belum mencerminkan kondisi pasokan energi global yang masih terganggu. (Google)

Ilustrasi Minyak Dunia, Harga minyak dunia sempat anjlok tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan perang dengan Iran hampir selesai. Namun, analis menilai penurunan harga tersebut belum mencerminkan kondisi pasokan energi global yang masih terganggu. (Google)

KABAR PAJAJARAN – Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Senin setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memanas. Serangkaian serangan selama akhir pekan membuat pasar kembali mencermati potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Harga minyak Brent, yang menjadi salah satu patokan utama dunia, naik 1,5 persen menjadi 97,73 dollar AS per barel. Brent bahkan sempat menyentuh 97,93 dollar AS per barel dalam perdagangan intraday.

Level tersebut menjadi harga tertinggi Brent sejak 23 Juli 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat. Harga WTI naik 1,8 persen menjadi 93,10 dollar AS per barel, sekaligus mencatat level tertinggi sejak akhir Juli 2026.

Konflik AS-Iran Picu Kekhawatiran Pasar

Kenaikan harga minyak terjadi ketika ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat. Kedua negara melancarkan serangkaian serangan selama akhir pekan sehingga pasar kembali mengantisipasi risiko terhadap jalur perdagangan dan pasokan minyak global.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf turut memberikan pernyataan keras melalui media sosial X.

Qalibaf memperingatkan AS bahwa Iran akan memberikan balasan jika Amerika menyerang aset negaranya.

Pernyataan tersebut muncul setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan Iran mengenai konsekuensi jika pasukan Iran menyerang kapal-kapal milik AS.

Hegseth bahkan menyatakan AS akan menghancurkan kapal tanker minyak Iran jika Iran menyerang kapal Amerika.

Fasilitas Saudi Aramco Kembali Diserang

Ketegangan pasar semakin meningkat setelah fasilitas minyak Saudi Aramco di Jizan, Arab Saudi, dilaporkan menjadi sasaran serangan pada Senin.

Financial Times melaporkan bahwa pihak terkait masih melakukan penilaian terhadap kerusakan fasilitas tersebut.

Fasilitas Jizan memiliki kilang dengan kapasitas sekitar 400.000 barel per hari. Hingga kini, pihak berwenang belum memastikan siapa yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Pasar minyak langsung merespons perkembangan itu karena gangguan terhadap fasilitas energi Arab Saudi dapat memengaruhi sentimen pasokan minyak dunia.

AS Serang Tiga Kapal Tanker Iran

Sebelumnya, Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan militer Amerika menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu.

CENTCOM menyebut ketiga kapal tersebut terkait dengan jaringan bayangan bernilai miliaran dollar AS. Menurut pihak AS, jaringan tersebut membantu membiayai Garda Revolusi Iran dan kelompok proksi Iran di kawasan.

Iran kemudian mengecam serangan terhadap kapal-kapal dagang tersebut.

Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan itu sebagai kejahatan perang sekaligus bentuk perang ekonomi.

Situasi tersebut membuat pelaku pasar semakin khawatir terhadap kemungkinan meluasnya konflik dan dampaknya terhadap distribusi minyak mentah.

Harga Bahan Bakar Berpotensi Ikut Naik

Kenaikan harga minyak mentah dunia juga dapat memberikan tekanan terhadap harga berbagai produk energi.

Ketika harga minyak meningkat, biaya produksi dan distribusi bahan bakar seperti bensin dan solar berpotensi ikut terdorong naik. Dampaknya juga dapat merambat ke biaya transportasi serta harga berbagai barang yang bergantung pada distribusi menggunakan kendaraan.

Pasar sebelumnya menikmati periode relatif tenang selama sekitar satu bulan. Namun, pertempuran antara AS dan Iran kembali pecah sekitar sepekan lalu.

Kini, pelaku pasar kembali mengawasi perkembangan konflik tersebut, terutama kemungkinan serangan terhadap fasilitas minyak, kapal tanker, serta jalur pengiriman energi.

Jika konflik terus meluas, harga minyak mentah berpotensi menghadapi tekanan kenaikan lebih lanjut karena pasar akan memperhitungkan risiko gangguan pasokan global. ***(Ant)

Facebook Comments Box

Sumber Berita: CNBC

Berita Terkait

Harga Minyak Dunia Naik, Brent Tembus 103,50 Dollar AS per Barrel
Pesawat Flydubai FZ1073 Mendarat Darurat di Arab Saudi, Pilot Ditikam di Kokpit
China Siapkan Strategi Baru Kuasai AI, Gandeng BRICS Bangun Ekosistem Open Source
Konflik Houthi-Arab Saudi Memanas, Pemerintah Diminta Siapkan Skenario Evakuasi Jemaah Umrah
AirAsia Dibeli Rp4.300, Kini Hadapi Tekanan Keuangan, Rute Domestik Jadi Sorotan
Drone Houthi Mengarah ke Mekkah, Sistem Pertahanan Udara Saudi Berhasil Mencegat
Harga Solar AS Tembus US$200 per Barrel, IEA Ungkap Krisis Pasokan Global
Harga Minyak Dunia Naik 2,7 Persen, Brent Tembus 90 Dollar AS

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Harga Minyak Dunia Naik, Brent Tembus 103,50 Dollar AS per Barrel

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Pesawat Flydubai FZ1073 Mendarat Darurat di Arab Saudi, Pilot Ditikam di Kokpit

Senin, 21 September 2026 - 07:00 WIB

China Siapkan Strategi Baru Kuasai AI, Gandeng BRICS Bangun Ekosistem Open Source

Jumat, 18 September 2026 - 15:00 WIB

Konflik Houthi-Arab Saudi Memanas, Pemerintah Diminta Siapkan Skenario Evakuasi Jemaah Umrah

Jumat, 18 September 2026 - 12:00 WIB

AirAsia Dibeli Rp4.300, Kini Hadapi Tekanan Keuangan, Rute Domestik Jadi Sorotan

Berita Terbaru