KABAR PAJAJARAN – Harga minyak dunia turun pada akhir perdagangan Kamis (30/7/2026) waktu setempat atau Jumat (31/7/2026) pagi WIB. Pelaku pasar mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Mereka juga menunggu langkah Arab Saudi membentuk koalisi pertahanan maritim.
Harga minyak Brent turun 1,71 dollar AS atau 1,88 persen. Brent akhirnya ditutup di level 89,03 dollar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 87 sen atau 1,03 persen. WTI ditutup pada level 83,59 dollar AS per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perdagangan berlangsung sangat fluktuatif. Brent sempat menyentuh 93,31 dollar AS per barel. Kenaikan itu terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling menyerang.
Arab Saudi Ingin Bentuk Koalisi Maritim
Arab Saudi mengusulkan pembentukan koalisi pertahanan maritim. Koalisi itu bertujuan meningkatkan keamanan di Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyebut 14 negara telah menyatakan dukungan. Turkiye, Pakistan, Mesir, Sudan, dan Djibouti termasuk di dalamnya.
Arab Saudi mengajukan usulan tersebut setelah kelompok Houthi mengumumkan blokade laut. Kelompok yang didukung Iran itu mengancam jalur ekspor minyak melalui Laut Merah.
Jalur tersebut menjadi alternatif penting ketika aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terganggu.
Pasar Menilai Pasokan Masih Aman
Analis Again Capital, John Kilduff, mengatakan pasar masih melihat peluang bertambahnya pasokan minyak. Karena itu, harga belum melonjak lebih tinggi.
Menurutnya, banyak pelaku pasar percaya pasokan akan kembali normal ketika konflik mereda.
Pandangan itu membuat investor memilih menahan aksi beli secara agresif.
Dialog Iran dan Oman Beri Harapan
Iran dan Oman terus melanjutkan pembicaraan mengenai Selat Hormuz.
Sebelumnya, Iran menolak usulan Oman tentang pengelolaan bersama jalur pelayaran. Namun, kedua negara masih membuka ruang dialog.
Ekonom Capital Economics, Hamad Hussain, menilai komunikasi tersebut memberi sinyal positif.
Ia menilai dialog itu dapat membuka peluang beroperasinya kembali Selat Hormuz secara normal.
Selat Hormuz Masih Menjadi Perhatian
Selat Hormuz menjadi jalur penting perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair melewati kawasan itu setiap hari.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat pasar terus mencermati wilayah tersebut.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan premi risiko masih bertahan.
Menurutnya, pasar menyambut baik upaya diplomasi. Namun, serangan militer yang terus terjadi tetap memengaruhi pergerakan harga minyak.
Gangguan Pasokan Terjadi di Berbagai Wilayah
Militer Amerika Serikat menyerang puluhan target Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Serangan itu menjadi balasan atas peluncuran rudal Iran ke pangkalan militer AS.
Di Mesir, serangan drone membakar dua kapal pengangkut gas di Pelabuhan Damietta.
Pemerintah Mesir segera mengalihkan pasokan energi dari sumber lain. Langkah itu menjaga kebutuhan energi dalam negeri.
Gangguan juga terjadi di Laut Hitam. Sejumlah kapal tanker meninggalkan terminal Caspian Pipeline Consortium setelah serangan mengenai salah satu kapal.
Di Rusia, drone Ukraina memicu kebakaran di kilang Perm milik Lukoil. Perusahaan kemudian menghentikan sementara satu unit penyulingan minyak.
Harga Minyak Masih Berpotensi Naik
Hamad Hussain menilai harga minyak masih berpeluang bertahan di level tinggi.
Gangguan pasokan masih terjadi di beberapa jalur pelayaran strategis. Persediaan minyak global juga terus menurun.
Kondisi tersebut dapat menopang harga minyak dalam beberapa waktu ke depan.
Sumber Berita: Reuters






