KABAR PAJAJARAN – Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat (12/6/2026). Pelaku pasar merespons positif meningkatnya peluang tercapainya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dapat membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak Brent ditutup turun 3,4 persen menjadi 87,33 dollar AS per barel. Posisi tersebut menjadi level terendah sejak awal Maret 2026. Dalam sepekan terakhir, harga Brent juga terkoreksi hingga 6,2 persen.
Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 3,2 persen. Pelemahan tidak hanya terjadi di pasar minyak. Harga gas alam Eropa juga sempat merosot hingga 8,4 persen sepanjang perdagangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Harapan Perdamaian Dorong Tekanan Harga
Pelaku pasar menilai peluang kesepakatan antara Washington dan Teheran semakin terbuka. Sejumlah pejabat dari kedua negara mengisyaratkan bahwa proses negosiasi telah memasuki tahap akhir.
Kesepakatan tersebut berpotensi membuka kembali Selat Hormuz yang selama beberapa bulan terakhir mengalami gangguan akibat konflik geopolitik. Jalur laut itu memegang peran penting karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasinya setiap hari.
Meski demikian, pasar masih menunggu kepastian mengenai waktu penandatanganan dan isi final kesepakatan. Perbedaan pernyataan dari kedua pihak membuat investor tetap berhati-hati dalam mengambil posisi.
Pasar Mulai Beradaptasi dengan Gangguan Pasokan
Selain faktor diplomasi, harga minyak juga mendapat tekanan karena pasar mulai menyesuaikan diri terhadap gangguan distribusi energi dari Timur Tengah.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah kapal tanker tetap melintasi kawasan Teluk Persia meski menghadapi risiko keamanan yang tinggi. Di saat bersamaan, peningkatan ekspor minyak AS dan penurunan impor China membantu menjaga keseimbangan pasokan global.
Senior Investment Strategist US Bank, Rob Haworth, menilai pasokan minyak dunia masih berpotensi ketat meskipun Selat Hormuz kembali beroperasi.
Menurut dia, proses normalisasi distribusi minyak membutuhkan waktu karena kapal tanker memerlukan perjalanan pulang-pergi hingga dua bulan dari Teluk Persia menuju pasar utama di Asia.
Harga Minyak Sudah Turun 30 Persen
Sejak mencapai puncaknya pada fase awal konflik Timur Tengah, harga minyak dunia telah turun sekitar 30 persen.
Sebelum perang pecah pada Februari lalu, pasar minyak global sebenarnya sudah menghadapi kondisi kelebihan pasokan. Saat itu, harga Brent bergerak di kisaran 70 dollar AS per barel.
Kini, prospek pembukaan kembali Selat Hormuz semakin memperkuat ekspektasi bahwa pasokan energi global akan bertambah dalam beberapa bulan ke depan.
Meski begitu, sebagian perusahaan pelayaran masih memilih menunggu kepastian hasil perundingan sebelum meningkatkan aktivitas pengiriman di kawasan tersebut.
Investor Tetap Waspadai Risiko
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut kesepakatan antara Iran dan AS berada pada posisi paling dekat untuk diselesaikan dibandingkan periode sebelumnya.
Pernyataan tersebut memperkuat optimisme pasar. Namun investor belum sepenuhnya yakin karena beberapa upaya negosiasi sebelumnya gagal menghasilkan kesepakatan konkret.
Analis energi ICAP, Scott Shelton, menilai banyak negara kemungkinan tetap mengandalkan minyak mentah asal AS dalam jangka pendek. Menurutnya, gangguan di Selat Hormuz telah mendorong pembeli energi untuk mendiversifikasi sumber pasokan mereka.
Kehati-hatian investor juga tercermin dari menurunnya aktivitas perdagangan kontrak berjangka minyak Brent. Minat terbuka atau open interest pada kontrak acuan global itu bahkan turun ke level terendah dalam lebih dari satu tahun.
Cadangan Minyak Global Menipis
Di tengah koreksi harga, sejumlah pelaku industri mengingatkan bahwa cadangan minyak global terus menyusut.
Chief Executive Officer Chevron, Mike Wirth, mengatakan persediaan minyak dunia saat ini telah turun ke level yang mulai menimbulkan kekhawatiran. Pada saat yang sama, cadangan darurat minyak AS terus mengalir ke pasar dalam jumlah besar untuk membantu menjaga stabilitas pasokan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun harga minyak sedang melemah, risiko gangguan pasokan global masih dapat kembali memicu volatilitas pasar energi dalam waktu dekat.***






