Kabar Mengejutkan dari Timur Tengah: Selat Hormuz Akan Dibuka Lagi?

Senin, 25 Mei 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Selat Hormuz.(Wikimedia Commons)

Ilustrasi Selat Hormuz.(Wikimedia Commons)

KABAR PAJAJARAN–Teheran dilaporkan menyepakati kerangka awal untuk membuka kembali Selat Hormuz. Kesepakatan ini juga mencakup komitmen Iran untuk memusnahkan uranium yang telah diperkaya tinggi.

Media New York Times melaporkan hal tersebut pada Minggu (24/5), mengutip pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya. Pejabat itu mengatakan kedua pihak telah menyetujui prinsip dasar kerja sama.

Namun, kesepakatan itu belum final. Kedua negara masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Negosiasi Masih Fokus pada Uranium Iran

Pejabat AS menjelaskan bahwa kedua pihak masih membahas metode pemusnahan uranium. Proses ini menjadi salah satu isu utama dalam perundingan.

Ia menegaskan bahwa belum ada keputusan akhir terkait teknis pelaksanaan. Pembahasan masih berlangsung di tingkat negosiator.

AS Buka Peluang Pelonggaran Sanksi

Fox News melaporkan pejabat Washington membuka peluang pelonggaran sanksi. Langkah itu bisa terjadi jika Iran memenuhi komitmen terkait uranium.

Pejabat tersebut mengatakan AS menyiapkan mekanisme penanganan seluruh material nuklir Iran. Ia juga menyebut Iran menunjukkan sikap lebih terbuka dibandingkan negosiasi sebelumnya.

Selat Hormuz Tidak Akan Terapkan “Tarif Tol”

Pejabat AS yang dikutip New York Times menolak wacana tarif di Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa ide tersebut tidak pernah diajukan secara resmi.

Menurutnya, kedua pihak tidak membahas skema pungutan untuk jalur pelayaran tersebut. Fokus utama tetap pada keamanan dan pembukaan akses.

Rancangan Dinilai Lebih Kuat dari Kesepakatan 2015

CBS News melaporkan bahwa rancangan kesepakatan ini dinilai lebih kuat dari kesepakatan nuklir 2015. Kesepakatan itu merujuk pada era Presiden Barack Obama.

Dalam skema baru, AS disebut akan mencabut pembatasan terhadap kapal Iran. Langkah ini bertujuan memperlancar arus pelayaran di kawasan.

Koordinasi Keamanan dan Keterlibatan Pejabat Tinggi

Komando Pusat AS (CENTCOM) dan mitra Teluk akan mengatur keamanan jalur pelayaran. Mereka akan mengawasi pergerakan kapal di Selat Hormuz.

Sejumlah pejabat tinggi juga ikut dalam proses negosiasi. Di antaranya Wakil Presiden JD Vance, Steve Witkoff, dan Jared Kushner.

Belum Ada Pernyataan Resmi

Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait laporan ini. Pemerintah Iran juga belum memberikan tanggapan.

Negosiasi masih terus berjalan dan belum menghasilkan keputusan final. ***(Ant)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Sembilan WNI Mengaku Mengalami Kekerasan Saat Ditahan Aparat Israel
WHO Tegaskan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Bukan Awal Pandemi Baru
Harga Minyak Dunia Turun Usai Iran Kirim Proposal Damai ke Mediator Pakistan
Bus Jemaah Haji Indonesia Kecelakaan di Jabal Magnet, 10 Orang Luka dan Dirawat
Penembakan di Jamuan Gedung Putih Disorot, Trump Puji Aparat dan Dorong Proyek Ballroom Antipeluru
Malaysia dan Singapura Tolak Wacana Tarif Kapal di Selat Malaka
Harga Minyak Dunia Turun Tipis ke US$98, Harapan Damai AS–Iran Jadi Penentu
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Ancaman ke Kapal Dagang Picu Kekhawatiran Global

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 12:00 WIB

Kabar Mengejutkan dari Timur Tengah: Selat Hormuz Akan Dibuka Lagi?

Jumat, 22 Mei 2026 - 10:00 WIB

Sembilan WNI Mengaku Mengalami Kekerasan Saat Ditahan Aparat Israel

Jumat, 8 Mei 2026 - 14:00 WIB

WHO Tegaskan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Bukan Awal Pandemi Baru

Sabtu, 2 Mei 2026 - 10:30 WIB

Harga Minyak Dunia Turun Usai Iran Kirim Proposal Damai ke Mediator Pakistan

Rabu, 29 April 2026 - 19:47 WIB

Bus Jemaah Haji Indonesia Kecelakaan di Jabal Magnet, 10 Orang Luka dan Dirawat

Berita Terbaru

Nasional

Konversi LPG ke CNG Dinilai Bisa Kurangi Impor Energi

Selasa, 26 Mei 2026 - 21:00 WIB