Trump Ancam Serang Iran Lagi Jika Langgar Kesepakatan Damai

Kamis, 18 Juni 2026 - 08:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Donald Trump mengadakan rapat kabinet, Kamis, 29 Januari 2026

Presiden Donald Trump mengadakan rapat kabinet, Kamis, 29 Januari 2026

KABAR PAJAJARAN – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan pemerintahannya siap melancarkan serangan baru terhadap Iran jika Teheran melanggar komitmen dalam kesepakatan damai yang tengah dibahas kedua negara.

Trump menyampaikan peringatan itu saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 bersama Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Evian, Perancis. Ia menyampaikan pernyataan tersebut dua hari sebelum Amerika Serikat dan Iran menjadwalkan penandatanganan perjanjian damai di Swiss.

Trump meminta publik tidak menganggap proses perdamaian telah rampung. Menurut dia, Washington dan Teheran baru menyepakati nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU), bukan perjanjian final.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kesepakatan itu belum final. Saat ini kami baru memiliki nota kesepahaman. Jika saya tidak menyukainya, kami akan kembali menyerang mereka,” kata Trump.

AS Fokus Hentikan Ambisi Nuklir Iran

Trump kembali menegaskan bahwa pemerintah AS menempatkan isu nuklir sebagai prioritas utama dalam perundingan dengan Iran.

Washington ingin memastikan Iran tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir. Karena itu, AS memasukkan berbagai mekanisme pengawasan dan pembatasan dalam rancangan perjanjian baru.

Trump menilai kesepakatan tersebut mampu menutup celah yang dapat membuka jalan bagi Iran untuk memperoleh material maupun teknologi pembuat bom atom. Ia juga mengklaim pendekatan itu lebih ketat dibandingkan kesepakatan nuklir era Presiden Barack Obama pada 2015.

Menurut Trump, para pemimpin Iran saat ini menunjukkan sikap yang lebih rasional. Meski begitu, ia menegaskan AS akan merespons dengan keras jika menemukan indikasi pelanggaran.

Trump mengatakan Iran telah menyatakan komitmen untuk tidak memiliki senjata nuklir. Namun, ia mengingatkan bahwa konsekuensi besar akan muncul jika Teheran mengingkari janji tersebut.

AS Siapkan Pemusnahan Cadangan Uranium Iran

Trump juga memaparkan langkah yang akan ditempuh Washington setelah kedua negara merampungkan perjanjian damai.

Pemerintah AS berencana mengambil seluruh cadangan uranium yang telah Iran perkaya dan simpan di fasilitas bawah tanah. Setelah itu, AS akan memusnahkan material tersebut agar tidak lagi berpotensi mendukung program senjata nuklir.

Trump menegaskan Washington tidak ingin memanfaatkan uranium itu untuk kepentingannya sendiri. Sebaliknya, AS ingin menghilangkan seluruh potensi ancaman yang berasal dari material tersebut.

Di sisi lain, pemerintah Iran terus membantah tuduhan Barat terkait program senjata nuklir. Teheran menegaskan bahwa negara itu mengembangkan program nuklir semata-mata untuk memenuhi kebutuhan energi nasional dan kepentingan damai.

Dana Rekonstruksi Rp5.328 Triliun Masuk Draf Kesepakatan

Sejumlah dokumen yang beredar menunjukkan bahwa perundingan damai AS-Iran juga mencakup paket rekonstruksi ekonomi.

Dalam rancangan kesepakatan tersebut, para pihak memasukkan dana rekonstruksi senilai 300 miliar dollar AS atau sekitar Rp5.328 triliun untuk membantu pemulihan Iran setelah konflik berakhir.

Rancangan itu juga memberi ruang bagi Iran untuk mengelola pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut memegang peran penting dalam distribusi minyak dunia.

Dokumen itu menegaskan pemerintah AS tidak akan menggunakan dana pajak warga Amerika untuk mendukung program tersebut. Washington hanya akan membuka akses terhadap berbagai insentif ekonomi setelah Iran memenuhi seluruh target yang tercantum dalam kesepakatan.

Kesepakatan Era Obama Kembali Jadi Sorotan

Pemerintahan Trump turut menyoroti kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang lahir pada 2015.

Washington menilai perjanjian tersebut tidak memberikan perlindungan yang cukup terhadap potensi pengembangan senjata nuklir Iran. Karena itu, pemerintah AS memilih menyusun kerangka kerja baru yang lebih ketat.

Meski demikian, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa dana yang diterima Iran dalam skema JCPOA berasal dari aset milik Iran yang sebelumnya berada dalam status pembekuan, bukan dari anggaran pemerintah Amerika Serikat.

Jika tidak ada perubahan agenda, Amerika Serikat dan Iran akan menandatangani perjanjian damai tersebut di Swiss pada 19 Juni 2026. Kedua negara berharap langkah itu dapat membuka babak baru hubungan bilateral sekaligus meredakan ketegangan yang berlangsung selama bertahun-tahun. ***(Ant)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Perekrutan Tentara Rusia Tak Pandang Usia, WNI Cukup Lolos Tes Kesehatan
Malaysia Desak Aturan Tegas untuk Perusahaan Terkait Kabut Asap dari Indonesia
Singapura Siap Bantu Indonesia Padamkan Karhutla, Kabut Asap Masih Ganggu Kualitas Udara
Harga Minyak Dunia Naik, Brent Tembus 103,50 Dollar AS per Barrel
Pesawat Flydubai FZ1073 Mendarat Darurat di Arab Saudi, Pilot Ditikam di Kokpit
China Siapkan Strategi Baru Kuasai AI, Gandeng BRICS Bangun Ekosistem Open Source
Konflik Houthi-Arab Saudi Memanas, Pemerintah Diminta Siapkan Skenario Evakuasi Jemaah Umrah
AirAsia Dibeli Rp4.300, Kini Hadapi Tekanan Keuangan, Rute Domestik Jadi Sorotan

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 12:00 WIB

Perekrutan Tentara Rusia Tak Pandang Usia, WNI Cukup Lolos Tes Kesehatan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Malaysia Desak Aturan Tegas untuk Perusahaan Terkait Kabut Asap dari Indonesia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 12:29 WIB

Singapura Siap Bantu Indonesia Padamkan Karhutla, Kabut Asap Masih Ganggu Kualitas Udara

Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Harga Minyak Dunia Naik, Brent Tembus 103,50 Dollar AS per Barrel

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Pesawat Flydubai FZ1073 Mendarat Darurat di Arab Saudi, Pilot Ditikam di Kokpit

Berita Terbaru