Banyak Gen Z Memanfaatkan Second Account sebagai Ruang Ekspresi
Bandung, Kabar Pajajaran – Memiliki lebih dari satu akun media sosial kini menjadi hal yang lazim, terutama di kalangan Generasi Z (Gen Z). Mereka memanfaatkan second account sebagai ruang yang lebih privat untuk mengekspresikan diri tanpa tekanan menjaga citra seperti di akun utama.
Hasil wawancara terhadap sejumlah Gen Z berusia 19 hingga 26 tahun di Kota Bandung menunjukkan hampir seluruh narasumber memiliki akun kedua. Masing-masing menggunakan akun tersebut untuk kebutuhan yang berbeda, mulai dari berbagi aktivitas sehari-hari hingga menyalurkan hobi.
Di sisi lain, tren second account memunculkan berbagai spekulasi di media sosial. Sebagian warganet mengaitkannya dengan gangguan kesehatan mental atau depresi. Namun, psikolog menilai anggapan tersebut belum memiliki dasar ilmiah yang kuat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Second Account Jadi Ruang Aman untuk Berbagi Cerita
Florence, salah seorang Gen Z di Bandung, mengaku sengaja membuat dua second account di Instagram agar bisa membagikan kesehariannya tanpa harus memilih daftar close friends setiap kali mengunggah cerita.
Pengalaman serupa juga dirasakan Septa. Ia mengelola tiga akun Instagram dengan fungsi yang berbeda. Akun utama ia gunakan untuk pekerjaan karena terhubung dengan rekan kantor. Sementara itu, akun kedua menjadi tempat berbagi cerita bersama teman dekat, sedangkan akun lainnya ia manfaatkan untuk mengikuti komunitas K-Pop.
Acip juga memilih memisahkan kehidupan pribadinya dari akun utama. Ia memakai second account untuk berbagi cerita kepada teman-teman terdekat, bahkan tetap menggunakan fitur close friends agar hanya orang tertentu yang bisa melihat unggahannya.
Berbeda dengan mereka, Farrel membuat akun kedua khusus untuk mengunggah hasil fotografi. Sementara itu, Zaki mengaku pernah memiliki second account hanya karena mengikuti tren teman-temannya. Kini ia sudah menutup akun tersebut karena merasa tidak lagi membutuhkannya.
Pengalaman para narasumber memperlihatkan bahwa alasan membuat second account sangat beragam. Meski begitu, hampir semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu memperoleh ruang digital yang lebih nyaman dan lebih privat.
Penelitian Sebut Second Account Kurangi Tekanan Sosial
Penelitian yang dilakukan Rofiqo Ramadhani Siahaan bersama tim pada 2026 menunjukkan bahwa banyak pengguna memanfaatkan second account untuk melindungi privasi sekaligus mengurangi tekanan sosial di media digital.
Para peneliti menemukan bahwa pengguna cenderung menjaga citra pada akun utama karena akun tersebut berkaitan dengan reputasi sosial maupun profesional. Sebaliknya, mereka memakai akun kedua untuk mengungkapkan perasaan secara lebih jujur.
Tim peneliti juga memperkenalkan istilah aesthetic fatigue, yaitu kelelahan akibat tuntutan agar selalu tampil sempurna di media sosial. Tekanan algoritma, budaya mencari validasi, serta penilaian publik mendorong sebagian pengguna mencari ruang digital yang lebih nyaman agar tetap menikmati media sosial.
Psikolog: Second Account Bukan Fenomena Baru
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba), Stephani Reihana, menegaskan bahwa second account bukan fenomena yang hanya dialami Generasi Z.
Ia menjelaskan bahwa manusia telah lama menampilkan identitas berbeda sesuai lingkungan sosialnya. Kehadiran internet dan media sosial hanya memperluas kesempatan bagi setiap orang untuk membangun berbagai persona.
Dalam ilmu psikologi, persona merupakan sisi diri yang sengaja ditampilkan seseorang agar lebih mudah diterima di lingkungan tertentu. Karena itu, seseorang bisa bersikap berbeda ketika berada di rumah, di kantor, maupun saat berkumpul bersama teman tanpa kehilangan identitas aslinya.
Media sosial kemudian menjadi ruang yang memudahkan pengguna membangun persona tersebut. Banyak orang menampilkan citra ideal melalui akun utama, sedangkan akun kedua mereka manfaatkan untuk menunjukkan sisi diri yang lebih personal.
Terlalu Banyak Persona Bisa Menguras Energi Mental
Stephani menegaskan bahwa kepemilikan lebih dari satu akun media sosial tidak otomatis menunjukkan seseorang mengalami depresi atau gangguan kesehatan mental.
Namun, ia mengingatkan bahwa membangun terlalu banyak identitas berbeda membutuhkan energi psikologis yang besar. Seseorang harus menjaga konsistensi setiap persona yang ditampilkan kepada lingkungan sosialnya.
Kondisi tersebut dapat menguras energi mental apabila persona yang dibangun sangat berbeda dari karakter aslinya. Sebaliknya, orang yang mampu menerima dirinya sendiri cenderung lebih mudah tampil autentik di berbagai situasi.
Karena itu, jumlah akun media sosial tidak bisa menjadi ukuran kesehatan mental. Kemampuan menerima diri dan menampilkan kepribadian secara apa adanya justru menjadi indikator yang lebih penting dalam menjaga kesehatan psikologis.
Algoritma Media Sosial Ikut Membentuk Perilaku Pengguna
Stephani menilai algoritma media sosial ikut membentuk perilaku pengguna ketika mereka mengunggah konten.
Budaya mengejar likes, komentar, pengikut, dan validasi sosial membuat banyak orang lebih memilih menampilkan sisi terbaik kehidupannya daripada keseharian yang sebenarnya.
Situasi tersebut mendorong banyak pengguna membuat second account sebagai ruang yang lebih aman untuk berbagi cerita tanpa tekanan penilaian publik.
Di sisi lain, Stephani mengingatkan pentingnya menjaga hubungan yang sehat, baik di dunia nyata maupun di media sosial. Pengguna juga perlu menyeleksi akun yang mereka ikuti agar algoritma tidak terus memunculkan konten yang memicu stres, kecemasan, atau rasa tidak percaya diri.
Ia menilai media sosial seharusnya membantu pengguna merasa nyaman dan berkembang. Karena itu, setiap orang perlu membangun lingkungan digital yang sehat sehingga aktivitas di media sosial tidak berubah menjadi sumber tekanan psikologis. ***(Ant)

![Kantor baru Apple Inc di California, Amerika Serikat. [Shutterstock]](https://kabarpajajaran.com/wp-content/uploads/2026/08/apple-225x129.jpg)




