CEO Telegram Pavel Durov Hadapi Dakwaan Rusia, Unggahan Jari Tengah di X Jadi Sorotan

Kamis, 30 Juli 2026 - 11:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Aplikasi Telegram

Ilustrasi Aplikasi Telegram

KABAR PAJAJARAN – Telegram mengunggah foto pendiri sekaligus CEO-nya, Pavel Durov, yang memperlihatkan gestur mengacungkan jari tengah melalui akun resminya di platform X. Unggahan itu muncul beberapa saat setelah pemerintah Rusia mengajukan dakwaan terhadap Durov atas dugaan memfasilitasi aktivitas terorisme.

Telegram tidak menyertakan keterangan apa pun dalam unggahan tersebut. Hingga artikel ini terbit, perusahaan maupun Pavel Durov juga belum menyampaikan tanggapan resmi mengenai dakwaan tersebut.

FSB Masukkan Pavel Durov ke Daftar Buronan Internasional

Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) mengumumkan bahwa penyidik menetapkan Pavel Durov sebagai tersangka pada Rabu (29/7/2026). FSB juga memasukkan pendiri Telegram itu ke dalam daftar buronan internasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

FSB menilai Telegram tidak menutup sejumlah kanal, grup percakapan, dan bot yang menurut mereka digunakan oleh badan intelijen Ukraina serta kelompok teroris dan ekstremis.

Menurut FSB, para pelaku memanfaatkan kanal-kanal tersebut untuk menyusun rencana sabotase, mengoordinasikan serangan teroris, melakukan pembunuhan massal, serta menjalankan penipuan siber di wilayah Rusia.

FSB juga menuding intelijen Ukraina menggunakan Telegram untuk merekrut warga Rusia agar ikut melakukan aksi sabotase.

Karena alasan tersebut, aparat Rusia menerbitkan surat perintah penangkapan internasional terhadap Durov. Jika pengadilan Rusia memvonisnya bersalah, Durov berpotensi menjalani hukuman penjara seumur hidup.

Pavel Durov Kembali Berselisih dengan Pemerintah Rusia

Perselisihan antara Pavel Durov dan pemerintah Rusia sebenarnya sudah berlangsung lama.

Pada awal 2026, Durov mengungkapkan bahwa aparat Rusia membuka penyelidikan pidana terhadap dirinya. Ia menilai langkah itu hanya menjadi alasan untuk membatasi akses masyarakat terhadap Telegram.

Menurut Durov, pemerintah Rusia berusaha membungkam kebebasan berbicara sekaligus mengurangi hak masyarakat atas privasi.

Pada April 2026, aparat Rusia juga mengirim surat panggilan atas nama “P.V. Durov” ke apartemen lamanya di Rusia.

Durov kemudian menyindir pemerintah Rusia karena menganggap dirinya melanggar hukum hanya akibat mempertahankan Pasal 29 dan Pasal 23 Konstitusi Rusia yang menjamin kebebasan berbicara serta kerahasiaan komunikasi.

Telegram Terus Berhadapan dengan Pemerintah Rusia

Pavel Durov bersama saudaranya, Nikolai Durov, mendirikan Telegram pada 2013. Saat ini, aplikasi tersebut mengklaim memiliki lebih dari satu miliar pengguna aktif di seluruh dunia.

Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah Rusia terus memperketat pengawasan terhadap internet dan platform digital.

Pemerintah memblokir Facebook, Instagram, dan X. Otoritas juga memperlambat akses YouTube, kemudian memblokir Signal dan Viber.

Selain itu, pemerintah beberapa kali membatasi layanan WhatsApp dan Telegram. Pada periode 2018 hingga 2020, Rusia bahkan mencoba memblokir Telegram. Namun, upaya tersebut gagal menghentikan penggunaan aplikasi itu.

Rusia Promosikan MAX sebagai Pengganti Telegram

Pemerintah Rusia terus mendorong masyarakat menggunakan aplikasi pesan instan nasional bernama MAX sebagai alternatif Telegram.

MAX menawarkan layanan percakapan, layanan pemerintahan, hingga sistem pembayaran digital dalam satu aplikasi.

Namun, sejumlah pengamat menilai MAX berpotensi menjadi alat pengawasan pemerintah. Mereka menyoroti kebijakan aplikasi itu yang memungkinkan pengelola membagikan data pengguna kepada otoritas apabila menerima permintaan resmi.

Pakar keamanan siber juga mengkritik MAX karena aplikasi tersebut belum menerapkan enkripsi end-to-end untuk melindungi komunikasi pengguna.

Prancis Pernah Menangkap Pavel Durov

Kasus di Rusia bukan pertama kalinya Pavel Durov menghadapi proses hukum.

Pada 2024, aparat Prancis menangkap Durov karena menilai Telegram tidak cukup aktif mencegah perdagangan narkoba, penyebaran materi eksploitasi seksual anak, serta aktivitas kriminal lain di platformnya.

Otoritas Prancis juga menilai Telegram kurang kooperatif ketika aparat meminta bantuan penyelidikan.

Durov membantah seluruh tuduhan tersebut. Ia menegaskan Telegram tidak pernah melindungi aktivitas ilegal.

Pada Maret 2025, Durov mengumumkan kepulangannya ke Dubai, lokasi kantor pusat Telegram sekaligus tempat tinggalnya.

Hingga kini, belum ada informasi pasti mengenai keberadaan terbaru Durov. Unggahan terakhirnya di Telegram menunjukkan bahwa ia sempat mengunjungi Georgia dan berharap dapat kembali ke negara tersebut. ***(Ant)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Google Maps Perluas 2 Fitur Baru di Android Auto, Ada Navigasi Imersif dan Speedometer
Indonesia Masuk Jajaran Pendiri WAICO, Siap Ikut Menentukan Masa Depan AI Global
Robot Humanoid Agibot Buktikan Kemampuan di Pabrik Tablet, Jalankan Produksi Selama 64 Jam Nonstop
OpenAI Luncurkan GPT-Live, ChatGPT Voice Kini Bisa Mengobrol Senatural Manusia
Google Ubah Aturan Backup Android, Mulai Sekarang Seluruh Data Ikut Memakan Kuota Penyimpanan
WhatsApp Mulai Gulirkan Fitur Username di Indonesia, Pengguna Tak Perlu Lagi Bagikan Nomor HP
Bukan Lagi Pakai Listrik, China Kini Kembangkan Chip Berbasis Cahaya untuk AI
Agen AI dan Bot Kuasai Internet Dunia, Trafiknya Lampaui Aktivitas Manusia

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 11:30 WIB

CEO Telegram Pavel Durov Hadapi Dakwaan Rusia, Unggahan Jari Tengah di X Jadi Sorotan

Senin, 27 Juli 2026 - 18:42 WIB

Google Maps Perluas 2 Fitur Baru di Android Auto, Ada Navigasi Imersif dan Speedometer

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:00 WIB

Indonesia Masuk Jajaran Pendiri WAICO, Siap Ikut Menentukan Masa Depan AI Global

Jumat, 10 Juli 2026 - 07:18 WIB

Robot Humanoid Agibot Buktikan Kemampuan di Pabrik Tablet, Jalankan Produksi Selama 64 Jam Nonstop

Kamis, 9 Juli 2026 - 09:25 WIB

OpenAI Luncurkan GPT-Live, ChatGPT Voice Kini Bisa Mengobrol Senatural Manusia

Berita Terbaru

Jawa Barat

LPSK Catat Jawa Barat sebagai Daerah Asal Korban TPPO Terbanyak

Kamis, 30 Jul 2026 - 13:28 WIB