Harga Minyak Dunia Diprediksi Tembus US$128, Ini Potensi Dampaknya pada Harga BBM di Indonesia
Lonjakan harga minyak dunia berpotensi membawa dampak langsung terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Sejumlah analis memperkirakan harga minyak global masih akan melanjutkan kenaikan tajam di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Analis teknikal Reuters, Wang Tao, memproyeksikan kontrak minyak Brent Crude Oil berpeluang melonjak ke kisaran US$120 hingga US$128 per barel dalam waktu dekat. Proyeksi ini muncul setelah harga Brent berhasil menembus area resistensi penting di kisaran US$105 hingga US$108 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut analisis tersebut, pola pergerakan harga saat ini menunjukkan terbentuknya runaway gap atau celah kenaikan yang biasanya menjadi sinyal kuat pasar sedang memasuki fase reli besar.
Jika momentum kenaikan terus berlanjut, harga Brent bahkan diperkirakan dapat menuju kisaran US$134 hingga mendekati US$139 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik setelah konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan United States.
Dampak Potensial ke Harga BBM di Indonesia
Kenaikan harga minyak mentah global biasanya akan memengaruhi biaya pengadaan BBM di Indonesia, terutama bagi BBM nonsubsidi yang harganya mengikuti mekanisme pasar.
Sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina menyesuaikan harga BBM nonsubsidi dengan mempertimbangkan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, serta biaya distribusi dan pengolahan.
Jika harga minyak dunia benar-benar menembus kisaran US$120 hingga US$128 per barel, maka tekanan terhadap biaya impor bahan bakar berpotensi meningkat. Kondisi ini bisa berdampak pada potensi penyesuaian harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Turbo.
Sementara itu, untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, harga biasanya lebih stabil karena sebagian ditopang oleh subsidi pemerintah.
Namun demikian, lonjakan harga minyak dunia dalam jangka panjang tetap berpotensi menambah beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Risiko Inflasi dan Tekanan Ekonomi
Selain memengaruhi harga BBM, kenaikan minyak dunia juga dapat memicu efek berantai pada berbagai sektor ekonomi. Biaya transportasi, logistik, hingga harga barang kebutuhan pokok berpotensi ikut meningkat.
Situasi ini pernah terjadi saat lonjakan harga energi global pada 2022, ketika harga minyak sempat mendekati US$140 per barel akibat gangguan pasokan global.
Apabila konflik geopolitik di Timur Tengah terus meningkat, pasar energi global berisiko menghadapi volatilitas tinggi yang dapat berdampak luas pada ekonomi berbagai negara, termasuk Indonesia. *** (Chokie)






