Dr. dr. Tauhid Nur Azhar Jelaskan Tinjauan Neuropsikologi di Balik Kasus Penyekapan dan Penyiksaan

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. dr. Tauhid Nur Azhar, M.Kes saat menjadi narasumber Siniar Kepikiran POV Media

Dr. dr. Tauhid Nur Azhar, M.Kes saat menjadi narasumber Siniar Kepikiran POV Media

BANDUNG, KABAR PAJAJARAN – Kasus dugaan penyekapan dan penyiksaan yang menggemparkan publik memunculkan pertanyaan besar. Mengapa seseorang tega melakukan kekerasan secara berulang hingga menyebabkan korban mengalami luka berat dan trauma mendalam?

Neurosaintis Dr. dr. Tauhid Nur Azhar, M.Kes menjelaskan, tindakan menyekap atau menahan orang lain secara paksa bukan merupakan diagnosis klinis. Menurutnya, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan sejumlah gangguan neuropsikologi. Namun, psikolog atau psikiater tetap harus melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum menetapkan diagnosis.

“Kita tidak boleh langsung menyimpulkan seseorang mengalami gangguan jiwa hanya berdasarkan perilaku yang tampak. Ilmu neuropsikologi hanya menjelaskan mekanisme yang mungkin berperan,” ujar Tauhid.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penyekapan Bukan Diagnosis, tetapi Perilaku Kriminal

Tauhid menjelaskan, beberapa kondisi neuropsikologis dapat berkaitan dengan tindakan agresif, manipulatif, atau mengendalikan orang lain.

Salah satunya ialah Gangguan Kepribadian Antisosial (Antisocial Personality Disorder/ASPD) yang masyarakat sering sebut sebagai psikopat. Penderita umumnya memiliki empati dan rasa bersalah yang sangat rendah. Kondisi itu membuat mereka lebih mudah mengeksploitasi, mengontrol, bahkan menyakiti orang lain demi memenuhi kepentingannya.

Selain itu, Intermittent Explosive Disorder (IED) juga dapat memicu perilaku agresif. Gangguan ini menyebabkan ledakan kemarahan yang muncul berulang dan tidak sebanding dengan pemicunya.

Tauhid juga menyinggung skizofrenia. Pada kondisi tertentu, penderita dapat mengalami waham atau halusinasi berat. Akibatnya, mereka memandang orang lain sebagai ancaman meski kenyataannya tidak demikian.

Sementara itu, Gangguan Kepribadian Narsisistik (NPD) membuat seseorang memiliki kebutuhan tinggi untuk mengendalikan orang lain. Mereka sering memanipulasi atau mengisolasi korban demi mempertahankan dominasi.

Pada fase manik yang berat, penderita gangguan bipolar juga dapat bertindak sangat impulsif tanpa mempertimbangkan risiko maupun keselamatan orang lain.

Di sisi lain, Tauhid menjelaskan bahwa sebagian korban penyekapan justru menunjukkan simpati kepada pelaku. Masyarakat mengenal kondisi tersebut sebagai Sindrom Stockholm. Namun, psikologi trauma modern juga mengenal konsep trauma bonding yang sering muncul dalam hubungan penuh kekerasan.

Gangguan Ledakan Amarah Berasal dari Disfungsi Otak

Tauhid menilai IED menjadi salah satu kondisi yang penting dipahami masyarakat. Gangguan ini tidak sekadar membuat seseorang mudah marah.

Menurutnya, IED muncul akibat gangguan pada sirkuit kortiko-limbik otak yang mengatur emosi dan pengendalian diri.

Pada orang yang sehat, sistem limbik mengirimkan sinyal ancaman. Setelah itu, Korteks Prefrontal Ventromedial (vmPFC) dan Korteks Cingulate Anterior (ACC) mengevaluasi situasi sebelum seseorang bertindak.

Namun, penelitian menggunakan functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI) menunjukkan aktivitas vmPFC justru menurun pada penderita IED.

Akibatnya, fungsi eksekutif tidak mampu mengendalikan impuls agresif secara optimal.

Sebaliknya, amigdala menunjukkan aktivitas yang jauh lebih tinggi. Bagian otak tersebut memproses rasa takut dan agresi.

Kondisi itu memicu amygdala hijack, yaitu saat emosi mengambil alih keputusan sebelum otak rasional sempat bekerja.

Tauhid juga menjelaskan bahwa penelitian menemukan hubungan antara IED dan gangguan sistem serotonin.

“Serotonin membantu menghambat perilaku agresif. Ketika fungsinya menurun, kemampuan mengendalikan impuls juga ikut menurun,” jelasnya.

NPD Tidak Hanya Merusak Penderita

Tauhid mengatakan, Narcissistic Personality Disorder (NPD) berbeda dengan IED. NPD merupakan gangguan struktur kepribadian yang ditandai rasa superior, kebutuhan akan validasi, dan rendahnya empati.

Ia menjelaskan bahwa penderita NPD masih mampu memahami cara berpikir orang lain. Namun, mereka sulit merasakan penderitaan emosional orang lain.

Sejumlah penelitian neuroimaging juga menemukan penipisan materi abu-abu pada insula anterior kiri dan korteks prefrontal dorsolateral.

Kedua area tersebut berperan penting dalam empati dan regulasi emosi.

Ketika harga diri penderita merasa terancam, mereka dapat mengalami narcissistic injury.

Kondisi itu memicu narcissistic rage, yaitu ledakan kemarahan yang bertujuan mempertahankan dominasi atau citra diri.

Meski demikian, Tauhid menegaskan bahwa tidak semua penderita NPD melakukan kekerasan fisik.

“Banyak kasus justru memperlihatkan manipulasi psikologis, kontrol berlebihan, dan gaslighting terhadap pasangan maupun anggota keluarga,” katanya.

Korban Mengalami Perubahan pada Fungsi Otak

Tauhid mengingatkan bahwa perhatian tidak boleh hanya tertuju kepada pelaku.

Korban penyiksaan juga menghadapi risiko gangguan neuropsikologis yang serius.

Paparan stres berkepanjangan meningkatkan produksi hormon kortisol. Hormon tersebut dapat mengganggu fungsi hipokampus yang berperan dalam pembentukan memori.

Akibatnya, korban sering mengalami brain fog, sulit berkonsentrasi, dan kesulitan mengingat berbagai peristiwa.

Di sisi lain, amigdala menjadi semakin sensitif.

Kondisi tersebut membuat korban terus berada dalam keadaan waspada atau hipervigilan, bahkan ketika ancaman sudah tidak ada.

Trauma yang berlangsung lama juga dapat berkembang menjadi Complex Post-Traumatic Stress Disorder (C-PTSD).

Menurut Tauhid, siklus kekerasan yang diselingi perhatian atau kasih sayang juga dapat membentuk trauma bonding. Ikatan tersebut membuat korban sulit melepaskan diri dari pelaku.

Literasi Kesehatan Jiwa Harus Terus Diperkuat

Tauhid mengajak masyarakat meningkatkan literasi kesehatan jiwa agar mampu mengenali hubungan yang manipulatif maupun perilaku agresif sejak dini.

Ia juga mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap layanan kesehatan mental.

Menurutnya, teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) dapat membantu masyarakat memperoleh edukasi kesehatan jiwa. Namun, aplikasi digital hanya berfungsi sebagai alat bantu.

“Pemeriksaan langsung oleh psikolog atau psikiater tetap menjadi standar utama dalam menegakkan diagnosis dan menentukan terapi,” ujar Dr. dr. Tauhid Nur Azhar, M.Kes.

Ia berharap meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai kesehatan jiwa dapat membantu mencegah kekerasan, mempercepat penanganan korban, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.***(Chq)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Psikopat Ramai Dikaitkan dengan Kasus Taufik Hidayat, Pakar Minta Publik Tak Asal Memberi Label
Dokter Ungkap Alasan Generasi Muda Mudah Stres Saat Mulai Bekerja
Air Putih atau Air Lemon? Simak Pilihan Terbaik untuk Menjaga Hidrasi Tubuh
Kemarau Lebih Kering dan Panjang, Dinkes Jabar Mengingatkan Warga Waspadai Diare hingga ISPA
Cegah Stunting Kognitif, Pakar Soroti Peran Nutrigenomik dan Pangan Lokal dalam Perkembangan Otak Anak
Sering Lemas Meski Sudah Istirahat? Waspadai Gejala Diabetes
Harga Obat Bakal Naik? Ini Penjelasan Lengkap dari Menkes dan Kemenkes
Rutin Minum Kopi Bisa Jaga Kesehatan Ginjal, Ini Temuan Peneliti

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:44 WIB

Dr. dr. Tauhid Nur Azhar Jelaskan Tinjauan Neuropsikologi di Balik Kasus Penyekapan dan Penyiksaan

Jumat, 26 Juni 2026 - 19:00 WIB

Psikopat Ramai Dikaitkan dengan Kasus Taufik Hidayat, Pakar Minta Publik Tak Asal Memberi Label

Jumat, 26 Juni 2026 - 18:00 WIB

Dokter Ungkap Alasan Generasi Muda Mudah Stres Saat Mulai Bekerja

Rabu, 24 Juni 2026 - 07:53 WIB

Air Putih atau Air Lemon? Simak Pilihan Terbaik untuk Menjaga Hidrasi Tubuh

Senin, 22 Juni 2026 - 06:00 WIB

Kemarau Lebih Kering dan Panjang, Dinkes Jabar Mengingatkan Warga Waspadai Diare hingga ISPA

Berita Terbaru