Kabar Pajajaran – Masalah kesehatan mental di lingkungan kerja semakin banyak dialami generasi muda. Tekanan pekerjaan yang tinggi, proses adaptasi sebagai karyawan baru, hingga hubungan dengan atasan menjadi faktor yang paling sering memicu stres.
Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi Klinik Pertamina IHC, Muchammad Arief Gunawan, mengatakan pekerja muda menghadapi tantangan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Menurutnya, perubahan pola kerja dan lingkungan profesional membuat sumber stres semakin beragam.
“Generasi muda kini lebih banyak menghadapi masalah kesehatan mental dibanding generasi sebelumnya. Penyebab stres semakin beragam dan bersifat subjektif, misalnya tekanan pekerjaan, adaptasi pekerja baru atau fresh graduate, serta hubungan dengan atasan,” ujar Arief, dikutip dari ANTARA, Jumat (26/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tekanan Kerja Menjadi Pemicu Utama
Arief menjelaskan dunia kerja saat ini menuntut karyawan bergerak cepat dan mampu memenuhi target dalam waktu singkat. Kondisi tersebut membuat banyak pekerja muda merasa tertekan, terutama ketika harus menangani beberapa pekerjaan sekaligus.
Perusahaan juga memanfaatkan teknologi digital yang memungkinkan komunikasi berlangsung hampir tanpa batas waktu. Akibatnya, sebagian karyawan masih menerima pesan atau tugas di luar jam kerja sehingga waktu untuk beristirahat semakin berkurang.
Jika kondisi itu berlangsung terus-menerus, tingkat stres berpotensi meningkat dan dapat memengaruhi kesehatan mental maupun produktivitas kerja.
Fresh Graduate Menghadapi Masa Adaptasi
Lulusan baru juga menghadapi tantangan tersendiri saat memasuki dunia profesional. Mereka harus mempelajari budaya perusahaan, memahami sistem kerja, membangun hubungan dengan rekan kerja, sekaligus memenuhi harapan pimpinan.
Tidak sedikit pekerja baru yang berusaha menunjukkan kemampuan terbaik sejak hari pertama bekerja. Keinginan tersebut kerap berubah menjadi tekanan ketika mereka merasa belum mampu memenuhi ekspektasi perusahaan.
Karena itu, masa adaptasi menjadi periode yang cukup rentan bagi kesehatan mental pekerja muda.
Hubungan dengan Atasan Ikut Menentukan
Selain beban pekerjaan, kualitas hubungan dengan atasan turut memengaruhi kondisi psikologis karyawan.
Gaya komunikasi yang kurang efektif, minimnya apresiasi, hingga arahan yang tidak jelas dapat memicu rasa cemas dan menambah tekanan kerja. Sebaliknya, komunikasi yang terbuka dan umpan balik yang membangun mampu menciptakan suasana kerja yang lebih sehat.
Menurut Arief, perusahaan perlu mendorong budaya komunikasi yang positif agar setiap karyawan merasa dihargai dan memiliki ruang untuk berkembang.
Perusahaan Perlu Memberikan Dukungan
Arief menilai perusahaan tidak hanya bertanggung jawab terhadap kesehatan fisik pekerja, tetapi juga kesehatan mental mereka.
Perusahaan dapat menyediakan layanan konseling bersama psikolog atau psikiater sebagai bagian dari program kesehatan kerja. Langkah tersebut membantu karyawan memperoleh pendampingan ketika mulai mengalami tekanan psikologis.
Dukungan dari perusahaan juga dapat mencegah stres berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih serius.
Cara Mengurangi Stres Kerja
Arief menyarankan pekerja untuk segera melakukan aktivitas positif ketika mulai merasakan stres. Olahraga secara rutin, meditasi, menjalankan hobi, hingga meluangkan waktu bersama keluarga atau teman dapat membantu menurunkan tingkat tekanan.
Ia juga mengingatkan agar pekerja tidak mencari pelarian melalui kebiasaan yang merugikan kesehatan, seperti merokok berlebihan, mengonsumsi minuman beralkohol secara tidak terkendali, atau menyalahgunakan obat-obatan.
Apabila stres mulai mengganggu produktivitas, hubungan sosial, maupun aktivitas sehari-hari, pekerja sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater agar mendapatkan penanganan sejak dini.
Kesadaran Menjaga Kesehatan Mental Semakin Penting
Meningkatnya kasus stres di kalangan pekerja muda menunjukkan bahwa kesehatan mental kini menjadi bagian penting dari dunia kerja modern.
Selain membangun lingkungan kerja yang suportif, perusahaan dan karyawan perlu bekerja sama menciptakan budaya kerja yang sehat agar produktivitas tetap terjaga tanpa mengorbankan kondisi psikologis para pekerja.***(Chq)






