Kota Bandung, Kabar Pajajaran – Stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak. Kondisi tersebut juga dapat mengganggu perkembangan otak dan kemampuan kognitif sejak usia dini.
Pesan itu mengemuka dalam siniar Kepikiran oleh PoV Media. Diskusi tersebut mengangkat tema Dampak Gizi pada Generasi.
Dalam siniar tersebut, praktisi kesehatan dan pengamat biomedis Dr. dr. Tauhid Nur Azhar, M.Kes, M.Si.Med hadir sebagai narasumber. Ia berdiskusi bersama akademisi Universitas Padjadjaran Dwi Indra Purnomo dan ahli gizi RSUD Bedas Tegalluar, Selvi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pembahasan berfokus pada nutrisi, perkembangan otak, dan pencegahan stunting kognitif. Selain itu, para narasumber menyoroti hubungan antara genetika, mikrobioma usus, dan fungsi otak manusia.
Menurut Tauhid, fondasi perkembangan otak terbentuk pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan atau 1000 HPK. Periode tersebut berlangsung sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Pada fase itu, otak mengalami pertumbuhan yang sangat cepat. Proses tersebut mencakup pembentukan sel saraf, sinapsis, dan jaringan pendukung fungsi kognitif.
Periode 1.000 HPK Menentukan Kualitas Otak Anak
Dokter Tauhid menjelaskan bahwa malnutrisi pada masa awal kehidupan dapat menimbulkan dampak jangka panjang. Dampaknya tidak hanya terlihat pada tinggi badan, tetapi juga pada kemampuan berpikir dan belajar.
Kekurangan nutrisi penting dapat menghambat pembentukan struktur otak. Akibatnya, anak berisiko mengalami penurunan kemampuan kognitif saat tumbuh dewasa.
Ia menekankan bahwa perkembangan otak membutuhkan berbagai nutrisi esensial. Di antaranya adalah DHA, asam arakidonat, folat, protein, dan sejumlah mikronutrien penting lainnya.
Selain faktor nutrisi, kondisi genetik juga memengaruhi pemanfaatan zat gizi dalam tubuh. Karena itu, pendekatan yang sama belum tentu menghasilkan manfaat yang sama pada setiap individu.
Konsep tersebut dikenal sebagai nutrigenomik. Bidang ilmu ini mempelajari hubungan antara gen dan respons tubuh terhadap makanan.
Menurut dr. Tauhid, pemahaman nutrigenomik dapat membantu menyusun strategi gizi yang lebih tepat sasaran. Dengan demikian, untuk benar-benar mendukung perkembangan otak, anak harus mengkonsumsi nutrisi yang tepat.
Dokter Tauhid Menilai Pangan Lokal Memiliki Potensi Besar
Dalam diskusi tersebut, dr. Tauhid juga menyoroti sejumlah pangan lokal yang berpotensi mendukung kesehatan otak. Bahan pangan tersebut tersedia luas di berbagai daerah Indonesia.
Salah satu yang mendapat perhatian adalah pegagan. Tanaman herbal ini memiliki kandungan senyawa yang mendukung fungsi saraf dan daya ingat.
Selain pegagan, ikan gabus juga menjadi sorotan. Ikan air tawar tersebut mengandung protein, albumin, dan asam amino yang penting bagi pertumbuhan tubuh.
Dokter Tauhid juga menyebut daun kelor sebagai sumber nutrisi yang kaya. Kelor mengandung berbagai vitamin, mineral, dan folat alami yang bermanfaat bagi ibu hamil serta anak.
Sementara itu, dadih dan tempe dinilai memiliki nilai tambah dari sisi kesehatan pencernaan. Kedua pangan tradisional tersebut mengandung mikroorganisme bermanfaat yang mendukung keseimbangan mikrobioma usus.
Para ahli kini semakin memahami hubungan erat antara usus dan otak. Hubungan tersebut dikenal sebagai gut-brain axis atau poros usus-otak.
Karena itu, kesehatan sistem pencernaan ikut memengaruhi perkembangan fungsi saraf dan kemampuan belajar anak.
Nutrisi Presisi Jadi Peluang Masa Depan
Perkembangan ilmu pengetahuan membuka peluang baru dalam pencegahan stunting kognitif. Pendekatan nutrisi kini tidak hanya berfokus pada jumlah kalori yang dikonsumsi.
Sebaliknya, para peneliti mulai memperhatikan kualitas nutrisi dan karakteristik biologis setiap individu. Pendekatan tersebut memungkinkan intervensi yang lebih efektif.
Dokter Tauhid menilai Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat besar. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung program peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, kombinasi antara ilmu nutrigenomik dan kearifan pangan lokal dapat menjadi solusi masa depan. Langkah tersebut berpotensi memperkuat perkembangan otak anak sejak usia dini.
Ia berharap diskusi akademik semacam ini dapat memperkaya perspektif masyarakat. Selain itu, hasil kajian tersebut dapat menjadi masukan bagi perancang program gizi nasional.
Dengan perhatian yang lebih besar terhadap kesehatan otak, Indonesia dapat membangun generasi yang lebih sehat, cerdas, dan kompetitif pada masa mendatang.***(BePe)






