Bandung, Kabar Pajajaran – Dinas Kesehatan Jawa Barat mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai penyakit yang berpotensi muncul selama musim kemarau tahun 2026. Pasalnya, Dinas Kesehatan Jawa Barat memprediksi bahwa musim kemarau kali ini akan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, mengatakan bahwa perubahan kondisi lingkungan selama kemarau dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Oleh karena itu, masyarakat perlu menerapkan langkah pencegahan sejak dini agar tetap sehat.
Menurut Vini, berkurangnya pasokan air bersih menjadi salah satu dampak utama musim kemarau ekstrem. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kebersihan lingkungan sekaligus meningkatkan risiko penyebaran penyakit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, konsentrasi virus dan bakteri cenderung meningkat ketika ketersediaan air bersih menurun. Akibatnya, sejumlah penyakit dapat berkembang lebih cepat dan mengancam kesehatan masyarakat.
Diare Menjadi Ancaman Saat Pasokan Air Bersih Berkurang
Vini menjelaskan bahwa diare merupakan salah satu penyakit yang sering muncul saat musim kemarau. Risiko penyakit ini meningkat ketika masyarakat kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi sanitasi yang kurang baik dapat mempercepat penyebaran bakteri maupun virus penyebab gangguan pencernaan. Karena itu, masyarakat perlu menjaga kebersihan makanan, minuman, dan lingkungan sekitar.
Selain menjaga kebersihan, warga juga perlu memastikan sumber air yang digunakan tetap aman. Langkah tersebut penting untuk mengurangi potensi penularan penyakit yang berasal dari kontaminasi air.
Baca juga: Ribuan Buruh Pabrik Sepatu Nike di Bandung Terancam Kehilangan Pekerjaan
Masyarakat Perlu Mewaspadai Dehidrasi dan Heatstroke
Musim kemarau juga identik dengan suhu udara yang lebih tinggi. Situasi tersebut dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan dalam jumlah besar sehingga memicu dehidrasi.
Tidak hanya itu, masyarakat juga perlu mewaspadai kondisi heatstroke atau peningkatan suhu tubuh secara drastis akibat paparan panas berlebih. Kondisi ini dapat membahayakan kesehatan apabila tidak segera ditangani.
Vini mengingatkan masyarakat untuk segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala tertentu. Gejala tersebut antara lain suhu tubuh melebihi 40 derajat Celsius, kulit terasa panas dan kemerahan, pusing, serta muntah.
“Apabila mengalami gejala suhu tubuh lebih dari 40 derajat Celsius, kulit panas dan merah, pusing, muntah, segera cari pertolongan medis,” ujar Vini, Minggu (21/6/2026).
Untuk mengurangi risiko dehidrasi, Vini menganjurkan agar masyarakat minum air putih dalam jumlah cukup setiap hari. Selain itu, waktu istirahat yang memadai juga membantu menjaga kondisi tubuh tetap prima.
Vini juga menyarankan warga agar menggunakan pelindung seperti topi atau payung saat beraktivitas di luar ruangan agar tidak terkena paparan sinar matahari secara langsung.
Baca juga: Minyakita Langka di Bandung, Harga Tembus Rp21.000 per Liter
ISPA dan Malnutrisi Mengintai Saat Kemarau Panjang
Selain diare dan dehidrasi, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga menjadi penyakit yang sering muncul selama musim kemarau. Penyakit ini biasanya berkaitan dengan penurunan kualitas udara.
Asap serta partikel debu yang meningkat saat cuaca kering dapat memengaruhi kesehatan saluran pernapasan. Oleh sebab itu, masyarakat perlu mengurangi paparan polusi udara, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Kemarau panjang juga berpotensi memengaruhi sektor pangan. Kekeringan dapat mengurangi hasil produksi pertanian sehingga ketersediaan bahan pangan ikut terdampak.
Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, risiko malnutrisi dapat meningkat. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan asupan gizi dengan mengonsumsi makanan yang seimbang dan bergizi.
Di samping menjaga pola makan, Dinas Kesehatan Jawa Barat juga mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan. Karena itu Dinkes Jabar mengajak masyarakat untuk dengan mengelola sampah secara benar dan tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan.
Vini juga mendorong masyarakat untuk menanam pohon sebagai langkah menjaga kualitas lingkungan. Menurutnya, tindakan sederhana tersebut dapat membantu mengurangi dampak buruk musim kemarau.
“Jangan membakar sampah dan lahan,” tegas Vini.
Pemerintah berharap masyarakat dapat menerapkan berbagai langkah pencegahan tersebut agar terhindar dari penyakit yang kerap muncul selama musim kemarau. Karena upaya menjaga kesehatan dan lingkungan dapat menekan risiko gangguan kesehatan.***(BePe)






