BANDUNG, KABAR PAJAJARAN – Stok minyak goreng bersubsidi Minyakita menghilang dari sejumlah pasar tradisional di Kota Bandung. Kondisi ini langsung menekan ketersediaan barang di lapak pedagang dan mendorong harga naik melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Pantauan di Pasar Kiaracondong dan Pasar Ciwastra menunjukkan pedagang tidak lagi menjual Minyakita secara rutin. Konsumen juga mulai kesulitan menemukan produk tersebut di rak penjualan.
Pedagang Tidak Lagi Menerima Pasokan
Agus, pedagang di Pasar Kiaracondong, mengatakan distributor berhenti mengirim Minyakita ke tokonya selama lebih dari satu bulan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sebelumnya distributor membatasi kiriman. Sekarang mereka tidak mengirim sama sekali,” kata Agus, Jumat (19/6/2026).
Ia menambahkan pembatasan distribusi sebelumnya membuat stok cepat habis di tingkat pedagang. Ia juga melihat permintaan masyarakat tetap tinggi karena harga Minyakita lebih murah dibanding minyak lain.
Pasokan Naik, Harga Tetap Melonjak
Di Pasar Ciwastra, pedagang justru masih menerima pasokan Minyakita dalam jumlah lebih besar dibanding sebelumnya. Namun kondisi itu tidak menurunkan harga di tingkat konsumen.
Yuyu, pedagang setempat, menyebut distributor mengirim hingga 60–70 karton. Namun ia tetap menjual Minyakita di harga Rp21.000 per liter.
“Saya membeli satu karton Rp228.000 dan menjual per liter Rp21.000,” ujar Yuyu.
Harga Melewati HET Pemerintah
Pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyakita sebesar Rp15.700 per liter. Namun pedagang di Bandung tetap menjual lebih tinggi karena harga beli dari distributor sudah meningkat.
Kondisi ini menunjukkan pasar merespons langsung ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Ketika stok terbatas, pedagang menaikkan harga untuk menyesuaikan biaya pembelian.
Pemerintah Kota Turun Tangan
Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung langsung menurunkan tim untuk memeriksa kondisi di lapangan. Kepala Disdagin Kota Bandung, Ronny Ahmad Nurdin, mengatakan pihaknya memeriksa seluruh pasar untuk menemukan sumber masalah distribusi.
“Kami segera turun ke pasar untuk mengecek kondisi dan mencari penyebab gangguan distribusi,” kata Ronny.
Warga Menunggu Normalisasi Pasokan
Masyarakat berharap pemerintah segera memulihkan distribusi Minyakita agar harga kembali stabil. Mereka menilai minyak goreng bersubsidi ini masih menjadi kebutuhan utama rumah tangga karena harganya lebih terjangkau dibanding produk lain.***(CHq)






