TEHERAN, KABAR PAJAJARAN – Pemerintah Iran resmi membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz pada Jumat (17/4/2026). Kebijakan ini muncul setelah tercapai kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa seluruh kapal komersial kini dapat melintasi selat strategis tersebut selama masa gencatan senjata berlangsung. Ia menyampaikan pernyataan itu melalui akun X dan dikutip media internasional CNN.
Menurut Araghchi, pembukaan jalur pelayaran dilakukan pada rute yang telah dikoordinasikan oleh otoritas pelabuhan dan maritim Iran. Pemerintah Iran menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas kawasan dan menjamin kelancaran perdagangan global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gencatan Senjata 10 Hari Diumumkan AS
Kesepakatan penghentian sementara konflik diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Washington memfasilitasi gencatan senjata selama 10 hari setelah sekitar enam pekan pertempuran antara Israel dan kelompok bersenjata Hezbollah di Lebanon selatan.
Israel Tetap Bertahan di Wilayah Dikuasai
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan negaranya menerima gencatan senjata untuk mendorong upaya perdamaian. Namun, ia menegaskan pasukan Israel tidak akan menarik diri dari wilayah yang telah dikuasai.
Pernyataan tersebut dikutip oleh Associated Press. Sikap ini menunjukkan Israel tetap mempertahankan posisi militernya di lapangan meski sepakat menghentikan operasi ofensif.
AS Tegaskan Hak Bela Diri Israel
Sementara itu, US Department of State menyatakan Israel tetap memiliki hak membela diri terhadap ancaman yang dianggap mendesak. Di sisi lain, Israel disebut tidak akan melancarkan operasi militer ofensif terhadap target Lebanon selama masa gencatan senjata.
Meski begitu, Hizbullah memperingatkan akan membalas jika terjadi serangan baru. Situasi ini membuat stabilitas kesepakatan masih dipandang rapuh dan berpotensi berubah sewaktu-waktu.
Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi sinyal positif bagi perdagangan global, mengingat jalur ini merupakan salah satu rute energi paling vital di dunia. Namun, perkembangan konflik Israel–Lebanon tetap menjadi faktor penentu keberlanjutan stabilitas kawasan. ***(Ant)
















