Blokade Selat Hormuz Dimulai, AS Siap Cegat Kapal dari dan ke Iran

Senin, 13 April 2026 - 12:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Selat Hormuz.(Wikimedia Commons)

Ilustrasi Selat Hormuz.(Wikimedia Commons)

KABAR PAJAJARAN – Komando militer Amerika Serikat, US Central Command (Centcom), mengumumkan akan mulai menerapkan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang keluar-masuk Iran pada Senin, 13 April 2026 pukul 10.00 waktu setempat (22.00 WIB). Kebijakan ini menyusul perintah Presiden Donald Trump setelah negosiasi damai Washington–Teheran kembali menemui jalan buntu.

Centcom menegaskan, blokade berlaku untuk semua kapal dari berbagai negara yang berlayar menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran. Kebijakan tersebut mencakup pelabuhan Iran di kawasan Teluk Arab dan Teluk Oman.

Meski demikian, militer AS memastikan kebebasan navigasi tetap berlaku bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju pelabuhan non-Iran. Centcom juga akan memberi pemberitahuan awal kepada kapal komersial serta meminta seluruh armada di kawasan memantau siaran maritim dan berkoordinasi dengan angkatan laut AS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Strategi Tekan Ekspor Energi Iran

Sejumlah analis menilai langkah blokade ini sebagai upaya strategis menekan pendapatan energi Iran. Sekitar separuh pemasukan pemerintah Teheran diketahui berasal dari sektor minyak dan gas.

Mantan pejabat Pentagon, Matthew Kroenig dari Atlantic Council, menyebut blokade berpotensi meniru strategi yang pernah diterapkan Washington terhadap Venezuela. Dalam wawancaranya dengan The Wall Street Journal, ia menilai langkah tersebut bisa meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintah Iran dan memaksa mereka menghadapi dilema baru.

Negosiasi Nuklir AS–Iran Gagal

Kebijakan blokade muncul setelah pembicaraan kedua negara di Islamabad, Pakistan, gagal mencapai kesepakatan. Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan, perselisihan utama masih berkisar pada jaminan Iran terkait program nuklirnya.

Dalam pernyataan yang dikutip AFP, Vance menuntut komitmen jangka panjang Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir maupun teknologi pendukungnya.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai tuntutan Washington tidak realistis. Melalui platform X, ia menyebut kesepakatan sebenarnya hampir tercapai sebelum AS mengubah posisi dan memilih jalur blokade.

Ketegangan terbaru ini berpotensi meningkatkan risiko geopolitik di jalur energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu rute pengiriman minyak paling vital di dunia. ***(Ant)

Facebook Comments Box

Sumber Berita: AFP, Wall Street Journal

Berita Terkait

Harga Minyak Mentah Naik ke Level Tertinggi Enam Pekan, Konflik AS-Iran Memanas
Harga Minyak Dunia Naik 2,7 Persen, Brent Tembus 90 Dollar AS
Banjir Bandang Nepal-Tibet: 2.980 Orang Masih Hilang, 682 Jenazah Ditemukan
Muktamar ke-35 NU Ricuh, Massa dan Panitia Terlibat Kericuhan soal Syarat Ketum PBNU
Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 160 Orang, Ratusan Turis Masih Hilang
Banjir Bandang Nepal Tewaskan 157 Orang, Ratusan Masih Hilang
Apple PHK Lebih dari 200 Karyawan, Tim Vision Pro dan Siri Kena Imbas
Kabut Asap Karhutla Indonesia Pengaruhi Kualitas Udara Malaysia, 29 Wilayah Masuk Kategori Tidak Sehat

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 08:12 WIB

Harga Minyak Mentah Naik ke Level Tertinggi Enam Pekan, Konflik AS-Iran Memanas

Selasa, 1 September 2026 - 11:00 WIB

Harga Minyak Dunia Naik 2,7 Persen, Brent Tembus 90 Dollar AS

Minggu, 30 Agustus 2026 - 18:00 WIB

Banjir Bandang Nepal-Tibet: 2.980 Orang Masih Hilang, 682 Jenazah Ditemukan

Minggu, 30 Agustus 2026 - 16:22 WIB

Muktamar ke-35 NU Ricuh, Massa dan Panitia Terlibat Kericuhan soal Syarat Ketum PBNU

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 160 Orang, Ratusan Turis Masih Hilang

Berita Terbaru

Teknologi

iOS 27 Resmi Dirilis, Ini Daftar 33 iPhone yang Kebagian Update

Selasa, 15 Sep 2026 - 13:14 WIB