Harga Ayam Hidup Anjlok ke Rp 17.000, Peternak Rakyat Merugi Rp 10.000 per Ekor

Rabu, 24 Juni 2026 - 11:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peternak ayam rakyat mengeluhkan anjloknya harga ayam hidup di tengah kenaikan biaya pakan. PERMINDO menyebut persoalan bukan hanya over supply, tetapi juga tekanan likuiditas dan tata kelola impor bahan baku pakan.

Peternak ayam rakyat mengeluhkan anjloknya harga ayam hidup di tengah kenaikan biaya pakan. PERMINDO menyebut persoalan bukan hanya over supply, tetapi juga tekanan likuiditas dan tata kelola impor bahan baku pakan.

JAKARTA, KABAR PAJAJARAN – Peternak ayam rakyat menghadapi tekanan berat akibat turunnya harga ayam hidup (live bird/LB) dalam beberapa bulan terakhir. Di sisi lain, biaya produksi justru terus naik, terutama karena kenaikan harga pakan.

Ketua Umum PERMINDO, Kusnan, menegaskan bahwa kondisi ini tidak hanya muncul akibat kelebihan pasokan. Sebaliknya, ia menilai terdapat masalah struktural yang memengaruhi rantai pasok perunggasan nasional.

Saat ini, harga ayam hidup di berbagai sentra produksi berada pada kisaran Rp 17.000–Rp 18.000 per kilogram. Namun demikian, biaya pokok produksi (HPP) sudah mencapai sekitar Rp 22.000 per kilogram.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, harga pakan sebagai komponen utama biaya produksi juga meningkat. Harga pakan kini berada di level Rp 8.600–Rp 9.500 per kilogram, atau naik sekitar Rp 1.000 dibandingkan periode sebelumnya.

Akibatnya, peternak mengalami kerugian sekitar Rp 4.000–Rp 5.000 per kilogram ayam. Jika dihitung lebih lanjut, dengan bobot panen rata-rata dua kilogram per ekor, kerugian bisa mencapai Rp 8.000–Rp 10.000 per ekor.

“Dengan kondisi seperti ini, peternak tidak hanya menghadapi harga jual rendah, tetapi juga tekanan biaya yang terus meningkat,” ujar Kusnan, Rabu (24/6/2026).

Tekanan Likuiditas dan Dampak Rantai Pasok

Selain faktor harga dan biaya, Kusnan menjelaskan bahwa perubahan mekanisme impor bahan baku pakan turut memperburuk kondisi. Misalnya, sistem impor yang terpusat serta skema cash before delivery (CBD) meningkatkan kebutuhan modal kerja industri pakan.

Kemudian, tekanan likuiditas yang muncul di industri pakan merambat ke tingkat peternak. Akibatnya, banyak peternak terpaksa menjual ayam lebih cepat untuk memenuhi kewajiban pembayaran.

Di sisi lain, penjualan cepat tersebut justru memicu panic selling di berbagai daerah. Ketika pasokan meningkat secara tiba-tiba, harga ayam semakin tertekan di pasar.

Oleh karena itu, Kusnan menyebut kondisi ini sebagai bullwhip effect dalam rantai pasok. Gangguan kecil di hulu akhirnya memicu dampak besar di hilir.

“Dengan demikian, harga ayam yang rendah bukan hanya soal over supply, tetapi juga gabungan dari tekanan biaya, likuiditas, dan struktur pasar,” jelasnya.

Dorongan Perbaikan Sistem oleh Pemerintah

Sementara itu, PERMINDO meminta pemerintah mengambil langkah korektif untuk memperbaiki ekosistem usaha perunggasan. Organisasi ini menilai peternak rakyat berpotensi tersingkir jika situasi terus berlanjut.

Lebih lanjut, PERMINDO mendorong evaluasi tata kelola impor bahan baku pakan agar lebih seimbang. Selain itu, mereka juga meminta penguatan pembiayaan rantai pasok bagi industri pakan skala kecil dan menengah.

Tidak hanya itu, PERMINDO juga mengusulkan pembentukan buffer stock bahan baku nasional. Di samping itu, pemerintah diminta memperkuat program serapan ayam saat harga berada di bawah HPP.

Terakhir, organisasi tersebut menekankan pentingnya sistem data pangan nasional yang transparan. Dengan begitu, pelaku usaha dapat mengambil keputusan secara lebih akurat.

“Jika perbaikan tidak segera dilakukan, maka tekanan harga akan terus berulang dan semakin merugikan peternak rakyat,” tutup Kusnan. ***(Ant)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Penumpang KM Virgo Transport 8 Masih Tidur Saat Kapal Miring, Ratusan Orang Diduga Terjebak
KPK Amankan Fahd Arafiq dalam OTT Kasus HGB
Suahasil Nazara Resmi Jadi Menteri Keuangan, Gantikan Purbaya Yudhi Sadewa
Gunung Api Indonesia Erupsi Bersamaan, Benarkah Terkait Megathrust Selat Sunda?
Kapal Virgo Transport 8 Kecelakaan di Laut Jawa, 107 Selamat dan 6 Meninggal
Gubernur Banten Minta Basarnas Pertimbangkan Perpanjang Pencarian 8 Orang Hilang di Selat Sunda
Program RBI Wajib Masuk Anggaran Pemda 2027, Mendagri Tito: yang Tidak Ada Akan Kami Kembalikan
Hari Kelima, 8 Orang Hilang di Sekitar Anak Krakatau Belum Ditemukan

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 07:00 WIB

KPK Amankan Fahd Arafiq dalam OTT Kasus HGB

Senin, 14 September 2026 - 19:58 WIB

Suahasil Nazara Resmi Jadi Menteri Keuangan, Gantikan Purbaya Yudhi Sadewa

Senin, 14 September 2026 - 17:00 WIB

Gunung Api Indonesia Erupsi Bersamaan, Benarkah Terkait Megathrust Selat Sunda?

Senin, 14 September 2026 - 16:00 WIB

Kapal Virgo Transport 8 Kecelakaan di Laut Jawa, 107 Selamat dan 6 Meninggal

Senin, 14 September 2026 - 14:00 WIB

Gubernur Banten Minta Basarnas Pertimbangkan Perpanjang Pencarian 8 Orang Hilang di Selat Sunda

Berita Terbaru

Teknologi

iOS 27 Resmi Dirilis, Ini Daftar 33 iPhone yang Kebagian Update

Selasa, 15 Sep 2026 - 13:14 WIB