JAKARTA, KABAR PAJAJARAN – Peternak ayam rakyat menghadapi tekanan berat akibat turunnya harga ayam hidup (live bird/LB) dalam beberapa bulan terakhir. Di sisi lain, biaya produksi justru terus naik, terutama karena kenaikan harga pakan.
Ketua Umum PERMINDO, Kusnan, menegaskan bahwa kondisi ini tidak hanya muncul akibat kelebihan pasokan. Sebaliknya, ia menilai terdapat masalah struktural yang memengaruhi rantai pasok perunggasan nasional.
Saat ini, harga ayam hidup di berbagai sentra produksi berada pada kisaran Rp 17.000–Rp 18.000 per kilogram. Namun demikian, biaya pokok produksi (HPP) sudah mencapai sekitar Rp 22.000 per kilogram.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, harga pakan sebagai komponen utama biaya produksi juga meningkat. Harga pakan kini berada di level Rp 8.600–Rp 9.500 per kilogram, atau naik sekitar Rp 1.000 dibandingkan periode sebelumnya.
Akibatnya, peternak mengalami kerugian sekitar Rp 4.000–Rp 5.000 per kilogram ayam. Jika dihitung lebih lanjut, dengan bobot panen rata-rata dua kilogram per ekor, kerugian bisa mencapai Rp 8.000–Rp 10.000 per ekor.
“Dengan kondisi seperti ini, peternak tidak hanya menghadapi harga jual rendah, tetapi juga tekanan biaya yang terus meningkat,” ujar Kusnan, Rabu (24/6/2026).
Tekanan Likuiditas dan Dampak Rantai Pasok
Selain faktor harga dan biaya, Kusnan menjelaskan bahwa perubahan mekanisme impor bahan baku pakan turut memperburuk kondisi. Misalnya, sistem impor yang terpusat serta skema cash before delivery (CBD) meningkatkan kebutuhan modal kerja industri pakan.
Kemudian, tekanan likuiditas yang muncul di industri pakan merambat ke tingkat peternak. Akibatnya, banyak peternak terpaksa menjual ayam lebih cepat untuk memenuhi kewajiban pembayaran.
Di sisi lain, penjualan cepat tersebut justru memicu panic selling di berbagai daerah. Ketika pasokan meningkat secara tiba-tiba, harga ayam semakin tertekan di pasar.
Oleh karena itu, Kusnan menyebut kondisi ini sebagai bullwhip effect dalam rantai pasok. Gangguan kecil di hulu akhirnya memicu dampak besar di hilir.
“Dengan demikian, harga ayam yang rendah bukan hanya soal over supply, tetapi juga gabungan dari tekanan biaya, likuiditas, dan struktur pasar,” jelasnya.
Dorongan Perbaikan Sistem oleh Pemerintah
Sementara itu, PERMINDO meminta pemerintah mengambil langkah korektif untuk memperbaiki ekosistem usaha perunggasan. Organisasi ini menilai peternak rakyat berpotensi tersingkir jika situasi terus berlanjut.
Lebih lanjut, PERMINDO mendorong evaluasi tata kelola impor bahan baku pakan agar lebih seimbang. Selain itu, mereka juga meminta penguatan pembiayaan rantai pasok bagi industri pakan skala kecil dan menengah.
Tidak hanya itu, PERMINDO juga mengusulkan pembentukan buffer stock bahan baku nasional. Di samping itu, pemerintah diminta memperkuat program serapan ayam saat harga berada di bawah HPP.
Terakhir, organisasi tersebut menekankan pentingnya sistem data pangan nasional yang transparan. Dengan begitu, pelaku usaha dapat mengambil keputusan secara lebih akurat.
“Jika perbaikan tidak segera dilakukan, maka tekanan harga akan terus berulang dan semakin merugikan peternak rakyat,” tutup Kusnan. ***(Ant)






