JAKARTA, KABAR PAJAJARAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau perkembangan Siklon Tropis Mekkhala yang saat ini berada di Laut Filipina. Meskipun bergerak menjauhi Indonesia, sistem cuaca tersebut masih memicu dampak tidak langsung berupa peningkatan gelombang laut di sejumlah wilayah timur Indonesia.
BMKG Pantau Perkembangan Mekkhala
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa Siklon Tropis Mekkhala berkembang dari Bibit Siklon Tropis 92W yang masuk ke area pemantauan Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta pada 19 Juni 2026.
Selanjutnya, sistem tersebut terus mengalami penguatan hingga mencapai status siklon tropis pada 20 Juni 2026. Sejak saat itu, BMKG melakukan pemantauan intensif terhadap pergerakan dan kekuatan siklon guna mengantisipasi pengaruhnya terhadap cuaca di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bergerak ke Barat-Barat Laut
Analisis BMKG pada Senin (22/6/2026) pukul 07.00 WIB menunjukkan Mekkhala berada di Laut Filipina pada koordinat 17,5 derajat Lintang Utara dan 127,9 derajat Bujur Timur.
Posisi tersebut berada sekitar 1.600 kilometer di utara Tahuna, Sulawesi Utara.
Saat ini, siklon bergerak ke arah barat-barat laut dengan kecepatan sekitar 25 kilometer per jam. Arah pergerakan itu menandakan Mekkhala semakin menjauh dari wilayah Indonesia.
Kecepatan Angin Capai 155 Km Per Jam
Data BMKG menunjukkan kecepatan angin maksimum di sekitar pusat siklon mencapai 155 kilometer per jam atau 85 knots. Sementara itu, tekanan udara minimum tercatat sebesar 950 hPa.
Berdasarkan parameter tersebut, BMKG mengategorikan Mekkhala sebagai siklon tropis kategori 3.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa sistem cuaca tersebut masih memiliki energi yang cukup besar dan berpotensi mengalami penguatan lebih lanjut.
Intensitas Diperkirakan Terus Bertambah
Dalam prakiraan 24 jam ke depan, posisi Mekkhala diperkirakan bergeser ke koordinat 18,9 derajat Lintang Utara dan 125,2 derajat Bujur Timur atau sekitar 1.730 kilometer di utara Tahuna.
Kecepatan geraknya diprediksi melambat menjadi sekitar 10 kilometer per jam. Di sisi lain, kekuatan angin justru berpotensi meningkat hingga 175 kilometer per jam atau 95 knots.
Tekanan udara di pusat siklon juga diperkirakan turun menjadi 935 hPa. Penurunan tekanan tersebut biasanya menandakan peningkatan kekuatan sistem cuaca.
Karena itu, BMKG memperkirakan Mekkhala naik ke kategori 4 dalam satu hari ke depan.
Gelombang Laut Berpotensi Meningkat
Walaupun pusat siklon berada jauh dari Indonesia, aktivitasnya tetap memengaruhi kondisi laut di kawasan timur.
Gelombang dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter berpotensi muncul di sejumlah wilayah perairan, meliputi:
- Perairan Kepulauan Sangihe–Kepulauan Talaud
- Laut Maluku
- Samudra Pasifik Utara Maluku
- Samudra Pasifik Utara Papua Barat Daya
Potensi tersebut diperkirakan berlangsung hingga 23 Juni 2026 pukul 07.00 WIB.
Nelayan dan Operator Kapal Perlu Waspada
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG meminta nelayan, operator kapal, dan pengguna transportasi laut untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di perairan yang terdampak.
Selain memperhatikan kondisi gelombang, masyarakat juga perlu mengikuti pembaruan informasi cuaca dari BMKG secara berkala. Langkah itu penting agar aktivitas pelayaran tetap berjalan dengan aman.
Dengan pemantauan yang berkelanjutan, para pelaku kegiatan maritim dapat mengambil keputusan lebih cepat ketika terjadi perubahan kondisi cuaca maupun gelombang laut akibat pengaruh Siklon Tropis Mekkhala. ***(Ant)






