Hari ke-7 Perang Iran vs AS-Israel, Dunia Khawatir Konflik Makin Meluas

Minggu, 8 Maret 2026 - 10:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sistem pertahanan udara Israel, Kubah Besi, mencegat rudal-rudal yang ditembakkan oleh Iran, seperti yang tampak di Ashkelon, Israel, 1 Oktober 2024. (Foto: Amir Cohen/Reuters)

Sistem pertahanan udara Israel, Kubah Besi, mencegat rudal-rudal yang ditembakkan oleh Iran, seperti yang tampak di Ashkelon, Israel, 1 Oktober 2024. (Foto: Amir Cohen/Reuters)

Kabar Pajajaran – Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus meningkat setelah konflik yang dipicu serangan militer memasuki hari ketujuh. Situasi bahkan berkembang menjadi perang regional setelah Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah negara Arab yang disebut sebagai sekutu AS.

Eskalasi konflik juga melibatkan negara lain. Inggris dilaporkan mengizinkan militer AS menggunakan pangkalan militernya di Siprus untuk mendukung operasi di kawasan tersebut.

Meski pertempuran masih berlangsung, berbagai pihak telah menyampaikan gambaran tentang bagaimana mereka ingin perang ini berakhir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Definisi “Kemenangan” Menurut Trump

Presiden AS Donald Trump sejak awal menyatakan bahwa tujuan utama operasi militer adalah menghancurkan kemampuan militer Iran, terutama program rudalnya.

Trump mengatakan AS ingin melumpuhkan industri rudal Iran serta menekan kelompok-kelompok milisi yang selama ini didukung Teheran di kawasan Timur Tengah.

Ia juga menuduh Iran sedang mengembangkan rudal yang mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat serta hampir memiliki senjata nuklir. Namun, klaim tersebut kerap diperdebatkan karena tidak sepenuhnya didukung oleh penilaian intelijen AS.

Dalam pernyataannya, Trump bahkan mendorong rakyat Iran untuk bangkit dan menggulingkan pemerintahan di Teheran.

Menurutnya, momentum perang ini bisa menjadi kesempatan bagi rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka sendiri.

Namun sejumlah analis menilai strategi tersebut sangat berisiko. Sejarah menunjukkan pergantian rezim jarang terjadi hanya melalui serangan udara tanpa dukungan pasukan darat atau pemberontakan besar dari dalam negeri.

Ambisi Netanyahu Melemahkan Iran

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyatakan tujuan yang hampir serupa.

Netanyahu menegaskan bahwa Israel ingin menghancurkan kekuatan militer Iran serta jaringan milisi yang selama ini dianggap mengancam keamanan Israel di kawasan Timur Tengah.

Selama puluhan tahun, Netanyahu memandang Iran sebagai ancaman utama bagi negaranya, terutama karena dugaan program nuklir Iran.

Di tengah situasi politik domestik yang cukup sulit, kemenangan militer dalam konflik ini juga berpotensi meningkatkan posisi politik Netanyahu menjelang pemilu yang akan digelar akhir tahun ini.

Apakah Pemerintah Iran Bisa Runtuh?

Meski serangan militer telah menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, banyak analis menilai pemerintahan di Teheran tidak mudah runtuh.

Sistem politik Iran dibangun dengan struktur institusi yang kuat sejak Revolusi Islam 1979 yang dipimpin oleh Ruhollah Khomeini.

Selain militer reguler, pemerintah Iran juga didukung oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), pasukan elite yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas rezim.

IRGC diperkirakan memiliki sekitar 190 ribu personel aktif dan ratusan ribu cadangan, serta didukung oleh kelompok paramiliter Basij yang dikenal sangat loyal terhadap pemerintah.

Dengan kekuatan tersebut, banyak pihak menilai tujuan utama Iran dalam konflik ini bukanlah kemenangan militer mutlak, melainkan bertahan dari tekanan militer dan politik.

Risiko Jika Rezim Iran Runtuh

Para analis juga mengingatkan bahwa kejatuhan rezim di Iran bisa memicu ketidakstabilan besar di kawasan.

Pengalaman di Irak setelah jatuhnya Saddam Hussein pada 2003 dan di Libya setelah tumbangnya Muammar Gaddafi pada 2011 menunjukkan bahwa perubahan rezim sering kali diikuti konflik berkepanjangan.

Dengan populasi lebih dari 90 juta jiwa dan wilayah yang sangat luas, ketidakstabilan di Iran berpotensi memicu krisis yang lebih besar di Timur Tengah.

Karena itu, meskipun operasi militer AS dan Israel telah melemahkan kemampuan militer Iran, masa depan kawasan Timur Tengah masih dipenuhi ketidakpastian. *** (Ant)

Sumber BBC Indonesia

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Harga Minyak Mentah Naik ke Level Tertinggi Enam Pekan, Konflik AS-Iran Memanas
Harga Minyak Dunia Naik 2,7 Persen, Brent Tembus 90 Dollar AS
Banjir Bandang Nepal-Tibet: 2.980 Orang Masih Hilang, 682 Jenazah Ditemukan
Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 160 Orang, Ratusan Turis Masih Hilang
Banjir Bandang Nepal Tewaskan 157 Orang, Ratusan Masih Hilang
Apple PHK Lebih dari 200 Karyawan, Tim Vision Pro dan Siri Kena Imbas
Kabut Asap Karhutla Indonesia Pengaruhi Kualitas Udara Malaysia, 29 Wilayah Masuk Kategori Tidak Sehat
16 Negara yang Merayakan Kemerdekaan dan Hari Nasional pada Agustus, Indonesia 17 Agustus

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 08:12 WIB

Harga Minyak Mentah Naik ke Level Tertinggi Enam Pekan, Konflik AS-Iran Memanas

Selasa, 1 September 2026 - 11:00 WIB

Harga Minyak Dunia Naik 2,7 Persen, Brent Tembus 90 Dollar AS

Minggu, 30 Agustus 2026 - 18:00 WIB

Banjir Bandang Nepal-Tibet: 2.980 Orang Masih Hilang, 682 Jenazah Ditemukan

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 160 Orang, Ratusan Turis Masih Hilang

Kamis, 27 Agustus 2026 - 10:18 WIB

Banjir Bandang Nepal Tewaskan 157 Orang, Ratusan Masih Hilang

Berita Terbaru

Teknologi

iOS 27 Resmi Dirilis, Ini Daftar 33 iPhone yang Kebagian Update

Selasa, 15 Sep 2026 - 13:14 WIB