Konflik Thailand–Kamboja Ungkap Markas Scam Internasional di O’Smach

Senin, 9 Februari 2026 - 12:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penampakan bagian dalam markas scam di Kamboja (AP Photo/Sakchai Lalit)

Penampakan bagian dalam markas scam di Kamboja (AP Photo/Sakchai Lalit)

O’Smach, Kabar Pajajaran – Konflik bersenjata di perbatasan Thailand dan Kamboja mengungkap keberadaan sejumlah pusat penipuan (scam) berskala besar di kawasan perbatasan, khususnya di kota O’Smach, Kamboja. Otoritas Thailand menyebut lokasi tersebut dipenuhi dokumen penipuan, uang palsu, hingga set tiruan kantor polisi dan bank.

Pada 2 Februari 2026, Kepala Direktorat Intelijen Angkatan Darat Thailand, Letnan Jenderal Theeranan Nanta-khwang, memimpin delegasi atase militer dari 20 negara, didampingi agen FBI Amerika Serikat, untuk meninjau langsung lokasi-lokasi yang diduga menjadi basis kejahatan penipuan lintas negara di sepanjang perbatasan Chong Chom–O’Smach, Provinsi Surin.

Langkah ini dilakukan setelah otoritas Thailand menemukan bukti kuat bahwa kawasan tersebut selama ini menjadi pusat operasi penipuan yang menargetkan korban dari berbagai negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kelompok ini sangat terorganisir. Mereka memiliki infrastruktur dan sistem yang baik, alur kerja yang jelas, serta beragam taktik dan teknik penipuan,” ujar Theeranan, dikutip dari Khaosod English.

Markas Scam Berskala Internasional

Delegasi internasional memeriksa sejumlah lokasi di seberang pos lintas batas internasional Chong Chom, termasuk O’Smach Resort dan kompleks Royal Hill, yang sebelumnya diduga kuat beroperasi sebagai pusat penipuan skala besar.

Di lokasi tersebut, penyidik menemukan berbagai barang bukti, antara lain daftar korban dari berbagai negara, dokumen penipuan, seragam polisi, uang palsu, serta properti yang menyerupai kantor polisi dan bank. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa aktivitas penipuan dilakukan secara sistematis dan profesional.

Theeranan menyebut perkiraan intelijen menunjukkan sekitar 8.000 hingga 10.000 orang bekerja di kawasan tersebut sebelum sebagian besar dipindahkan menyusul bentrokan perbatasan pada Desember 2025.

Seluruh barang bukti telah disita kepolisian Thailand, sementara militer tetap mengamankan area dan membantu proses investigasi yang masih berlangsung untuk mengungkap jaringan serta pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Bangunan Rusak Akibat Bentrokan

Dilansir Associated Press, Rabu (4/2/2026), markas scam tersebut kini terbengkalai dan mengalami kerusakan akibat penembakan selama beberapa pekan terakhir. Kompleks itu saat ini berada di bawah kendali pasukan Thailand, meski secara geografis terletak di wilayah Kamboja.

Bangunan enam lantai di kawasan tersebut tampak dipenuhi dokumen, peralatan komputer, dan barang-barang pribadi yang ditinggalkan secara tergesa-gesa. Militer Thailand menyatakan kompleks tersebut berhasil direbut setelah bentrokan pada Desember lalu, dan menyebut lokasi itu sebelumnya digunakan pasukan Kamboja sebagai pangkalan militer.

Kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada Desember 2025 menetapkan masing-masing pihak menahan pasukan di posisi sebelum perjanjian, termasuk kompleks O’Smach yang kini diduduki pasukan Thailand.

Replika Polisi dan Bank dari Berbagai Negara

Di dalam kompleks, penyidik menemukan puluhan ruangan bersekat bilik kayu berlapis busa peredam suara. Terdapat naskah penipuan dalam berbagai bahasa, daftar nama dan nomor telepon, monitor komputer, serta braket kosong untuk hard drive.

Selain itu, ditemukan set tiruan kantor polisi lengkap dengan seragam aparat dari sedikitnya tujuh negara, termasuk China, Australia, India, Vietnam, Singapura, dan Brasil. Ada pula ruangan yang dibuat menyerupai cabang bank Vietnam, lengkap dengan meja layanan, spanduk, dan ruang tunggu.

Para ahli menilai pengaturan tersebut merupakan bagian penting dari modus penipuan, di mana korban dihubungi oleh pelaku yang berpura-pura menjadi pejabat atau otoritas resmi. Korban kemudian diancam dengan penangkapan atau proses hukum palsu untuk memaksa mereka mengikuti instruksi pelaku.

Operasi penipuan semacam ini, menurut para pakar, telah merugikan korban di seluruh dunia hingga miliaran dolar AS, sekaligus memperdaya ribuan orang dari berbagai negara untuk bekerja di dalamnya dalam kondisi yang disebut menyerupai perbudakan modern. ***Anton

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Harga Minyak Dunia Turun Tipis ke US$98, Harapan Damai AS–Iran Jadi Penentu
Viral Travel Ugal-ugalan di Tol Padaleunyi, Sopir Diputus Mitra dan Ditilang Polisi
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Ancaman ke Kapal Dagang Picu Kekhawatiran Global
Anabul Tetap Sehat di Musim Pancaroba, Ini Perawatan yang Harus Dilakukan
Solar Mahal! Biaya Isi Penuh Fortuner dan Pajero Sport Kini Tembus Jutaan Rupiah
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika: Bandung dan Sejumlah Kota di Jawa Barat Berpotensi Hujan Sepanjang Hari
Iran Buka Jalur Pelayaran Selat Hormuz Usai Gencatan Senjata Israel–Lebanon
Jelang Tayang Global, Antusiasme dan Fakta Produksi The Devil Wears Prada 2 Terus Menguat

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 10:34 WIB

Harga Minyak Dunia Turun Tipis ke US$98, Harapan Damai AS–Iran Jadi Penentu

Selasa, 21 April 2026 - 17:28 WIB

Viral Travel Ugal-ugalan di Tol Padaleunyi, Sopir Diputus Mitra dan Ditilang Polisi

Minggu, 19 April 2026 - 09:17 WIB

Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Ancaman ke Kapal Dagang Picu Kekhawatiran Global

Sabtu, 18 April 2026 - 12:02 WIB

Anabul Tetap Sehat di Musim Pancaroba, Ini Perawatan yang Harus Dilakukan

Sabtu, 18 April 2026 - 11:13 WIB

Solar Mahal! Biaya Isi Penuh Fortuner dan Pajero Sport Kini Tembus Jutaan Rupiah

Berita Terbaru