Kota Cimahi, Kabar Pajajaran – Meskipun Kota Cimahi tercatat sebagai daerah dengan Indeks Risiko Bencana (IRB) terkecil nomor dua di Jawa Barat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi menegaskan tidak akan terlena. Fokus kewaspadaan jangka panjang kini diarahkan pada potensi ancaman Sesar Lembang yang membayangi kawasan aglomerasi Bandung Raya.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, mengungkapkan bahwa ancaman Sesar Lembang telah masuk dalam dokumen kajian risiko bencana sebagai salah satu dari 10 ancaman utama di wilayah tersebut. Berdasarkan kesepakatan BPBD di seluruh Bandung Raya, jika Sesar Lembang beraktivitas dengan kekuatan magnitudo 6,8 ke atas, maka hampir seluruh wilayah Bandung Raya akan terdampak secara masif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Cimahi berada dalam aglomerasi bencana Sesar Lembang. Walaupun secara ukuran indeks risiko kita kecil, kami tetap menjaga kesiapsiagaan sebagai prioritas nomor satu,” tegas Fithriandy. Ia menambahkan bahwa posisi geografis Cimahi yang berada di bawah wilayah lain membuat mitigasi terhadap pergerakan sesar ini menjadi sangat krusial.
Lebih lanjut, Fithriandy menekankan bahwa tantangan terbesar dalam menghadapi ancaman jangka panjang ini adalah konsistensi edukasi masyarakat. Menurutnya, edukasi kebencanaan harus dilakukan secara berkesinambungan dan tidak boleh terputus karena generasi akan terus berputar. Masyarakat yang sekarang sudah paham mitigasi suatu saat akan digantikan oleh generasi baru yang juga perlu mendapatkan pemahaman serupa.
“Kita tidak boleh capek dan tidak boleh bosan memberikan sosialisasi. Jika terjadi bencana yang parah karena kita abai, maka semua pihak akan merasakan kesusahan,” pungkasnya. Oleh karena itu, BPBD terus menyasar seluruh lapisan atau “matra”, mulai dari keluarga, sekolah, hingga komunitas disabilitas, agar kesiapan menghadapi potensi gempa bumi akibat Sesar Lembang tetap terjaga di level tertinggi.*** (Radit)
















