KABAR PAJAJARAN – Satreskrim Polrestabes Surabaya mengungkap praktik kejahatan siber internasional yang menggunakan modus unik untuk memperdaya korban. Para pelaku mengubah sebuah kamar kedap suara menjadi kantor polisi palsu dan memanfaatkannya saat melakukan panggilan video kepada calon korban.
Polisi juga menangkap warga negara China berinisial D alias XS yang berperan sebagai koordinator jaringan tersebut. Penangkapan itu melengkapi pengungkapan kasus yang sebelumnya menjerat puluhan anggota sindikat.
Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, menyebut penyidik telah mengamankan 45 orang yang terlibat dalam jaringan penipuan lintas negara tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pelaku Ciptakan Suasana Kantor Polisi untuk Menekan Korban
Para pelaku lebih dulu menghubungi calon korban melalui telepon. Mereka kemudian mengaku sebagai anggota kepolisian dan menuduh korban terlibat kasus pencucian uang.
Selanjutnya, para pelaku mengajak korban melakukan panggilan video. Dalam sesi tersebut, mereka menampilkan ruangan yang menyerupai kantor polisi lengkap dengan atribut dan latar belakang layaknya ruang penyidik.
Strategi itu membuat banyak korban percaya karena mereka melihat suasana yang tampak resmi dan meyakinkan.
Ruangan Kedap Suara Perkuat Modus Penipuan
Sindikat tersebut tidak hanya mengandalkan tampilan visual. Mereka juga memanfaatkan kamar kedap suara untuk menciptakan suasana yang tenang selama komunikasi berlangsung.
Ruangan itu membantu para pelaku menghilangkan suara bising dari luar. Selain itu, mereka dapat menjalankan operasi penipuan tanpa mengganggu lingkungan sekitar.
Kondisi yang senyap membuat percakapan terdengar lebih profesional sehingga korban semakin yakin dengan identitas palsu yang mereka gunakan.
Tersangka D Sediakan Fasilitas Operasional Sindikat
Penyidik menemukan peran penting D alias XS dalam jaringan tersebut. Ia mengatur kebutuhan operasional dan menyediakan berbagai perangkat komunikasi untuk menjalankan aksi penipuan.
Selain mengoordinasikan aktivitas di Surabaya, D juga mendukung operasional kelompok yang beraktivitas di Solo, Jawa Tengah.
Menurut polisi, tersangka memastikan seluruh anggota jaringan memperoleh fasilitas yang mereka perlukan untuk menghubungi target dan menjalankan aksinya.
Polisi Temukan Puluhan Ribu Data Target Korban
Tim penyidik melakukan pemeriksaan digital terhadap perangkat elektronik yang mereka sita dari lokasi kejadian. Dari hasil pemeriksaan itu, polisi menemukan sekitar 30 ribu data calon korban asal Jepang.
Penyidik juga menemukan puluhan ribu data target lain yang berasal dari China. Para pelaku menyusun daftar tersebut untuk memperluas jangkauan penipuan mereka.
Mayoritas target berasal dari kalangan pegawai kantoran dan pelaku usaha.
Indonesia Jadi Basis Operasi Sindikat
Polisi belum menemukan laporan kerugian dari warga negara Indonesia dalam kasus ini. Sejauh ini, para pelaku lebih banyak menyasar korban dari luar negeri.
Penyidik menduga para pelaku memilih Indonesia sebagai tempat menjalankan operasi karena ingin menghindari pengawasan aparat di negara asal mereka.
Karena itu, kepolisian terus meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas jaringan kejahatan internasional yang berpotensi memanfaatkan wilayah Indonesia.
Polisi Kejar Pelaku yang Masih Buron
Polrestabes Surabaya kini bekerja sama dengan kepolisian Jepang dan China melalui Divisi Hubungan Internasional Polri untuk mengembangkan penyidikan.
Tim penyidik juga mengantongi identitas sejumlah pelaku yang masih buron. Saat ini polisi terus memburu mereka guna mengungkap seluruh jaringan yang terlibat.
Luthfie menegaskan bahwa aparat tidak akan membiarkan Indonesia menjadi tempat aman bagi pelaku kejahatan internasional.
Ke-45 tersangka kini menghadapi proses hukum sesuai ketentuan KUHP dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Polisi menjerat mereka dengan sejumlah pasal terkait penipuan dan kejahatan siber lintas negara.***(Ant)






