BANDUNG, KP — Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan pertumbuhan fisik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berlangsung cepat. Meski demikian, PVMBG menyebut kondisi gunung api tersebut masih aman.
Kepala PVMBG Rita Susilawati mengatakan pertumbuhan Gunung Anak Krakatau merupakan bagian dari proses alami pembentukan gunung api muda.
Menurut Rita, perkembangan tubuh gunung yang berlangsung cepat belum menunjukkan tanda bahaya serius. Kondisi itu juga belum mengarah pada potensi keruntuhan lereng yang dapat memicu tsunami.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Potensi erupsi masih ada, tetapi jangan terlalu dikhawatirkan karena ini memang bagian dari dinamika pertumbuhan Anak Krakatau yang merupakan gunung api muda yang sedang membentuk tubuhnya,” kata Rita di Bandung, Kamis (17/9/2026), dikutip dari Antara.
Aktivitas Anak Krakatau Mulai Menurun
PVMBG mencatat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau saat ini kembali mengikuti pola erupsi strombolian.
Pola tersebut menghasilkan letusan dengan intensitas relatif kecil dan durasi singkat. Karakter seperti ini umum terjadi pada gunung api muda yang masih aktif membentuk tubuhnya.
PVMBG juga melihat penurunan aktivitas setelah erupsi pada awal September 2026.
Pada Senin (14/9/2026) dan Selasa (15/9/2026), petugas tidak mencatat adanya letusan Gunung Anak Krakatau.
Meski aktivitas menurun, PVMBG tetap mengingatkan bahwa potensi erupsi masih ada. Kondisi tersebut menjadi bagian dari siklus aktivitas gunung api.
Ini Penyebab Anak Krakatau Cepat Tumbuh
PVMBG menjelaskan sejumlah faktor yang membuat pertumbuhan fisik Gunung Anak Krakatau berlangsung relatif cepat.
Perubahan arah subduksi lempeng tektonik dari wilayah Sumatera menuju Selat Sunda menjadi salah satu faktornya. Selain itu, sistem magma yang sudah terbuka memudahkan magma bergerak menuju permukaan.
Karakter magma yang encer atau memiliki viskositas rendah juga mempercepat proses tersebut. Frekuensi erupsi yang relatif tinggi kemudian ikut mendorong pembentukan tubuh Gunung Anak Krakatau.
Kombinasi faktor geologi tersebut membuat Anak Krakatau terus mengalami perubahan morfologi.
PVMBG Sebut Risiko Tsunami Masih Kecil
Pertumbuhan Gunung Anak Krakatau sempat memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan runtuhnya tubuh gunung dan munculnya tsunami.
Namun, PVMBG menyatakan kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini belum menunjukkan ancaman tersebut.
Rita menjelaskan bahwa tubuh Gunung Anak Krakatau masih relatif kecil dan stabil. Ketinggiannya saat ini berada di kisaran 150 meter dengan kemiringan lereng yang masih landai.
“Pertumbuhan Gunung Anak Krakatau ini belum mengkhawatirkan bisa menjadi ancaman keruntuhan, karena tubuhnya sekarang ketinggiannya masih sekitar 150-an meter dan slope-nya juga masih landai,” ujar Rita.
Karena kondisi tersebut, Rita menilai runtuhan yang terjadi saat ini tidak akan memicu tsunami.
Pemantauan Anak Krakatau Berlangsung 24 Jam
PVMBG terus memantau Gunung Anak Krakatau selama 24 jam. Pemantauan tersebut bertujuan mendeteksi perubahan aktivitas vulkanik sedini mungkin.
Pengawasan mencakup kondisi gunung serta aktivitas kegempaan dan erupsi. PVMBG menggunakan hasil pemantauan untuk menilai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Pemantauan juga penting bagi keselamatan masyarakat yang beraktivitas di perairan sekitar Selat Sunda, termasuk wilayah perairan Banten dan Lampung.
Di tengah proses pencarian sejumlah jurnalis yang masih hilang di kawasan tersebut, PVMBG mengimbau masyarakat tetap tenang.
PVMBG juga meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi mengenai Gunung Anak Krakatau yang belum melalui proses verifikasi. ***(Ant)






