Gempa Pangalengan Berulang, Pakar Ungkap Fenomena Earthquake Swarm

Kamis, 17 September 2026 - 08:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dilanda rangkaian aktivitas seismik yang terhitung cukup intensif pada Rabu (16/9/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 26 kali gempa bumi mengguncang wilayah tersebut sejak pagi hingga sore hari.

Wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dilanda rangkaian aktivitas seismik yang terhitung cukup intensif pada Rabu (16/9/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 26 kali gempa bumi mengguncang wilayah tersebut sejak pagi hingga sore hari.

KABUPATEN BANDUNG, KP – Aktivitas gempa bumi kembali meningkat di kawasan Pangalengan dan sekitarnya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Rentetan gempa terjadi sejak Rabu (16/9/2026) dan berlanjut hingga Kamis (17/9/2026).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat puluhan aktivitas gempa di wilayah tersebut. Sejumlah gempa juga dirasakan warga Pangalengan dan Kertasari.

Gempa terbaru yang tercatat BMKG terjadi pada Kamis pukul 04.59 WIB dengan magnitudo 2,6. Gempa tersebut berpusat di darat pada koordinat 7,22 Lintang Selatan dan 107,60 Bujur Timur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pusat gempa berada sekitar 23 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung dengan kedalaman hanya 3 kilometer. BMKG mencatat getaran gempa tersebut dirasakan di Pangalengan dan Kertasari dengan intensitas III MMI.

Pakar Sebut Gempa Pangalengan sebagai Earthquake Swarm

Pakar kebencanaan sekaligus pengurus Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan pola gempa di Pangalengan sebagai earthquake swarm atau gempa swarm.

Fenomena tersebut terjadi ketika beberapa gempa muncul berulang di wilayah yang relatif berdekatan dalam periode tertentu. Polanya tidak menunjukkan satu gempa utama yang jauh lebih dominan dibandingkan gempa lainnya.

Daryono mengatakan masyarakat tidak bisa langsung mengartikan gempa swarm sebagai tanda bahwa gempa besar akan terjadi.

“Keberadaan swarm tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa energi tektonik sedang dilepaskan habis-habisan atau bahwa gempa besar pasti akan terjadi,” kata Daryono, Kamis (17/9/2026).

Menurut dia, para ahli perlu melihat sejumlah parameter untuk memahami perkembangan aktivitas tersebut.

Analisis itu mencakup persebaran episenter, kedalaman gempa, mekanisme sumber, pola migrasi aktivitas, serta perubahan aktivitas secara temporal dan spasial.

Sesar Aktif Berperan dalam Aktivitas Gempa

Daryono menjelaskan bahwa Pangalengan berada di wilayah selatan Jawa Barat yang memiliki struktur kerak bumi kompleks.

Kawasan tersebut juga berdekatan dengan sistem Sesar Garsela atau Sesar Garut Selatan. Sesar aktif tersebut menjadi salah satu bagian dari sistem tektonik yang memengaruhi aktivitas gempa di Jawa Barat.

Selain aktivitas sesar, proses tektonik regional juga berpengaruh. Lempeng Indo-Australia terus bergerak dan menunjam ke bawah Lempeng Eurasia atau Sunda di selatan Pulau Jawa.

Pergerakan tersebut membentuk tekanan di dalam kerak bumi. Ketika tekanan mencapai kondisi tertentu, batuan dapat mengalami pergeseran pada bidang sesar.

Proses tersebut kemudian memicu gempa bumi, termasuk gempa dengan sumber dangkal di wilayah daratan.

Mengapa Gempa Dangkal Lebih Terasa?

Kedalaman sumber gempa menjadi salah satu faktor yang membuat guncangan terasa oleh masyarakat.

Gempa dengan sumber dangkal melepaskan energi lebih dekat ke permukaan bumi. Kondisi itu dapat membuat masyarakat merasakan getaran meskipun magnitudonya relatif kecil.

Data BMKG menunjukkan beberapa gempa di sekitar Pangalengan memiliki kedalaman hanya beberapa kilometer. Salah satunya gempa M 2,6 pada 17 September 2026 yang memiliki kedalaman 3 kilometer.

Kondisi tanah juga dapat memengaruhi kuat-lemahnya guncangan. Lapisan sedimen atau material vulkanik tertentu dapat memperkuat gelombang seismik ketika gelombang tersebut mencapai permukaan.

Akibatnya, warga di lokasi berbeda bisa merasakan intensitas guncangan yang tidak sama meskipun memiliki jarak yang relatif mirip dari sumber gempa.

Earthquake Swarm Tidak Selalu Berujung Gempa Besar

Daryono mengingatkan masyarakat agar tidak menarik kesimpulan hanya berdasarkan banyaknya gempa yang terjadi.

Earthquake swarm dapat berlangsung selama periode tertentu lalu mereda secara bertahap. Dalam sejumlah kasus, aktivitas swarm juga dapat berkaitan dengan pergerakan sesar, proses hidrotermal, atau dinamika bawah permukaan lainnya.

Karena itu, para ahli perlu memantau perkembangan gempa secara berkelanjutan.

“Swarm tidak selalu berarti gempa akan terus membesar. Sebagian rangkaian swarm dapat mereda secara bertahap,” ujar Daryono.

Ia menegaskan bahwa jumlah kejadian gempa saja tidak cukup untuk memprediksi perkembangan aktivitas seismik.

Para ahli perlu menggabungkan berbagai data seismologi untuk melihat perubahan pola gempa di kawasan Pangalengan dan sekitarnya.

BMKG Pantau Aktivitas Gempa Pangalengan

BMKG sebelumnya mencatat 26 kejadian gempa di Kabupaten Bandung pada Rabu (16/9/2026) hingga sore hari. Aktivitas tersebut kemudian masih berlanjut hingga Kamis pagi.

Data BMKG juga mencatat beberapa gempa yang dirasakan warga Pangalengan. Pada 16 September, misalnya, gempa M 2,9 dengan kedalaman 5 kilometer dirasakan di Pangalengan dan Kertasari.

BMKG terus memantau aktivitas tersebut dan memperbarui parameter gempa berdasarkan data jaringan seismograf.

Masyarakat di sekitar Pangalengan dan wilayah terdampak tetap perlu mengikuti informasi resmi BMKG serta tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi.

Hingga Kamis pagi, aktivitas gempa masih tercatat di kawasan tersebut. ***(Chq)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Bukan Gajah Mengamuk, Ini Kronologi Mahut Cedera di Lembang Park & Zoo
Teras Cihampelas Akan Ditata, Pemprov Jabar Siapkan Bantuan untuk PKL
18 Bangunan Liar di Cicendo Bandung Ditertibkan, 10 Dibongkar Satpol PP
Pemprov Jabar Siapkan Uang Tunggu Rp7 Juta untuk 12 Korban Selamat Kapal Virgo
HJKB ke-216 Usung “Solidarity in Harmony”, Bandung Tegaskan Semangat Kebersamaan
Prabowo Salurkan 260 Becak Listrik ke Kabupaten Bandung, Pengayuh Lansia Jadi Prioritas
PPPK Paruh Waktu Kota Bandung Dapat Kabar Bahagia, Kontrak Diperpanjang 2027
Pemprov Jabar Tebar Diskon Pajak Kendaraan 10 Persen Selama GIIAS Bandung

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 10:00 WIB

Bukan Gajah Mengamuk, Ini Kronologi Mahut Cedera di Lembang Park & Zoo

Kamis, 17 September 2026 - 08:00 WIB

Gempa Pangalengan Berulang, Pakar Ungkap Fenomena Earthquake Swarm

Rabu, 16 September 2026 - 12:00 WIB

Teras Cihampelas Akan Ditata, Pemprov Jabar Siapkan Bantuan untuk PKL

Rabu, 16 September 2026 - 11:00 WIB

18 Bangunan Liar di Cicendo Bandung Ditertibkan, 10 Dibongkar Satpol PP

Rabu, 16 September 2026 - 09:00 WIB

Pemprov Jabar Siapkan Uang Tunggu Rp7 Juta untuk 12 Korban Selamat Kapal Virgo

Berita Terbaru

Wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dilanda rangkaian aktivitas seismik yang terhitung cukup intensif pada Rabu (16/9/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 26 kali gempa bumi mengguncang wilayah tersebut sejak pagi hingga sore hari.

Bandung Raya

Gempa Pangalengan Berulang, Pakar Ungkap Fenomena Earthquake Swarm

Kamis, 17 Sep 2026 - 08:00 WIB