SUBANG, KABAR PAJAJARAN – Musim kemarau yang mulai menguat memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat. Penurunan intensitas hujan selama beberapa pekan terakhir membuat debit air tanah menurun dan sejumlah sumur warga mulai mengering.
Wilayah Pantura seperti Sukasari, Pusakanagara, Legonkulon, dan Blanakan menjadi daerah yang paling terdampak. Kondisi serupa juga terjadi di kawasan selatan Subang, termasuk Kecamatan Ciater dan sekitarnya.
Warga mengaku semakin sulit memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Cuaca panas yang terus berlangsung memperparah kondisi dan meningkatkan kebutuhan air rumah tangga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
BPBD Kerahkan Distribusi Air Bersih
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Subang, Enda, mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan langkah cepat untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.
BPBD bersama PDAM Tirta Rangga menyalurkan pasokan air bersih menggunakan mobil tangki ke sejumlah titik yang mengalami krisis air.
“Setiap musim kemarau, beberapa wilayah di Subang memang rentan mengalami kekurangan air bersih. Kami terus memantau kondisi di lapangan dan menyalurkan bantuan sesuai kebutuhan masyarakat,” ujar Enda, Senin (22/6/2026).
Program Sumur Bor Jadi Solusi Jangka Panjang
Selain mendistribusikan air bersih, BPBD juga menjalankan program jangka panjang untuk mengurangi dampak kekeringan.
BPBD bekerja sama dengan BNPB membangun sumber air melalui pengeboran sumur di daerah rawan kekeringan. Program tersebut sudah berjalan di sekitar 10 titik yang tersebar di wilayah Pantura maupun selatan Subang.
Beberapa kecamatan yang menjadi lokasi pengeboran antara lain Sukasari, Ciasem, Legonkulon, Pamanukan, Pusakanagara, Ciater, Jalancagak, Kasomalang, Cijambe, dan Cipunagara.
Pemerintah berharap keberadaan sumur bor dapat memperkuat ketahanan air masyarakat saat musim kemarau berlangsung lebih lama.
Debit Air Tanah Terus Menurun
Enda menjelaskan, minimnya curah hujan menyebabkan cadangan air tanah berkurang secara signifikan.
Di wilayah Ciater dan Palasari, sejumlah mata air yang biasa dimanfaatkan warga mulai kehilangan debit bahkan mengering. Sementara itu, masyarakat di kawasan Pantura menghadapi kesulitan saat memompa air dari dalam tanah.
Sebagian warga harus menggunakan pompa dengan daya lebih besar agar air dapat naik ke permukaan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak musim kemarau mulai dirasakan secara luas di berbagai wilayah Kabupaten Subang.
Warga Sukasari Mulai Mengubah Pola Penggunaan Air
Rahmawati, warga Kecamatan Sukasari, mengaku harus menunggu lebih lama saat mengambil air dari sumurnya.
Menurutnya, air tidak lagi mengalir secepat biasanya meski pompa sudah dinyalakan.
“Dulu pompa langsung mengeluarkan air. Sekarang harus menunggu sekitar 15 sampai 20 menit baru air keluar,” kata Rahmawati.
Ia juga menyebut sebagian air yang tersedia memiliki rasa asin. Meski demikian, keluarganya tetap memanfaatkan air tersebut untuk mandi dan mencuci.
Untuk kebutuhan konsumsi, Rahmawati memilih membeli air minum dalam kemasan galon.
BPBD Minta Warga Mulai Menghemat Air
BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan penghematan penggunaan air selama musim kemarau berlangsung.
Berdasarkan prakiraan BMKG, kemarau tahun ini berpotensi berlangsung hingga September 2026. Kondisi tersebut dapat memperbesar risiko kekeringan dan krisis air bersih di berbagai daerah.
Pemerintah daerah meminta masyarakat menggunakan air secara bijak, menyimpan cadangan air secukupnya, serta segera melapor apabila wilayahnya mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih.***(Ant)






