Perubahan Iklim Makin Nyata, DLHK Sumedang Dorong Gerakan Menanam Pohon

Senin, 19 Januari 2026 - 09:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gerakan penanaman pohon terus digalakan dengan mengedukasi msayarakat untuk mengantisipasi perubahan iklim. Foto: Ilustrasi.

Gerakan penanaman pohon terus digalakan dengan mengedukasi msayarakat untuk mengantisipasi perubahan iklim. Foto: Ilustrasi.

Kabupaten Sumedang, Kabar Pajajaran – Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Sumedang, Maman Wasman, menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat terkait kesadaran menanam pohon.

Edukasi tersebut dilakukan DLHK Kabupaten Sumedang melalui berbagai kegiatan kemasyarakatan, termasuk kepada para pengunjung dan wisatawan Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Kunci.

Menurut Maman Wasman, kegiatan menanam pohon merupakan langkah strategis yang dapat dilakukan oleh setiap individu sebagai upaya mitigasi terhadap perubahan iklim yang kini semakin nyata dirasakan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Perubahan iklim sudah di depan mata, ada La nina, El nino, curah hujan sangat tinggi, sementara daya dukung alam sudah overload. Akhirnya, ketika terjadi hujan berlebihan, meskipun vegetasi masih rapat tetap terjadi longsor,” tutur Wasman di Sumedang, Kamis (15/1/2026).

Ia menambahkan, kondisi alam saat ini seharusnya menjadi bahan refleksi bersama dalam menghadapi perubahan iklim, baik melalui langkah adaptasi maupun mitigasi.

Wasman mencontohkan, pembangunan yang terus berlangsung turut berkontribusi terhadap perubahan iklim seiring dengan berkurangnya tutupan lahan sebagai konsekuensinya.

“Tutupan lahan di Sumedang ini kan sedikit banyaknya mengalami pengurangan dengan pembangunan seperti bendungan Jatigede, tol Cisumdawu, tol Cipali, dan lainnya,” sambung Wasman.

Meski pembangunan penting untuk memenuhi berbagai kebutuhan, menurutnya perlu ada langkah konkret untuk mengimbangi bahkan menggantikan tutupan lahan yang berkurang, salah satunya melalui penanaman pohon.

Kampanye tersebut kini terus digencarkan oleh DLHK Kabupaten Sumedang, di antaranya melalui ajakan dan edukasi yang secara intens disampaikan kepada para pengunjung Tahura Gunung Kunci.

“Kita, dalam konteks Gunung Kunci menyampaikan itu sebagai sub materi yang disampaikan pada siswa. Makanya ayo menanam, supaya tutupan lahan meningkat. Setiap ke sini, mereka kita kasih bibit tanaman supaya mereka gemar menanam,” imbuhnya.

Bagi Wasman, gerakan menanam pohon tidak hanya memiliki nilai duniawi, tetapi juga bernilai spiritual. Sebagai seorang muslim, ia menilai kegiatan tersebut sangat penting, bahkan jika diketahui kiamat akan terjadi keesokan harinya, sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadits.

Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa menanam pohon merupakan salah satu bentuk ibadah yang pahalanya terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia.

“Satu hadits lagi yang diriwayatkan Al Baihaqi, ada tujuh perkara yang pahalanya mengalir ke dalam kubur setelah meninggal, salah satunya adalah menanam pohon,” terangnya.

Menurutnya, hal tersebut sangat relevan karena menanam pohon memberikan manfaat luas bagi masyarakat, bahkan hingga generasi berikutnya.

“Secara, ketika kita menanam bisa dimanfaatkan orang banyak, kemudian berbuah, menghasilkan oksigen, menghasilkan air. Ayo menanam sebagai mitigasi kita terhadap perubahan iklim,” ajak Wasman.

Di tengah pesatnya pembangunan di Kabupaten Sumedang, Wasman juga menyampaikan kabar positif terkait kondisi tutupan lahan yang masih berada di atas 60 persen dari total luas wilayah.

Kondisi tersebut turut berdampak baik terhadap indeks kualitas udara di Sumedang yang masih tergolong cukup baik, meski ia memberikan catatan khusus terhadap indeks kualitas air.

“Di Sumedang, indeks tutupan lahannya masih bagus, diatas 60 persen. Kualitas udara pun masih relatif bagus. Nah, indeks kualitas air mulai memburuk, karena itu sistemik ya, tata kelola pertanian kita masih anorganik,” ungkap Wasman.

Ia menjelaskan, penggunaan pupuk anorganik di area persawahan yang aliran airnya bermuara ke sungai berpengaruh terhadap kualitas air di Sumedang, dan hal tersebut telah dibuktikan melalui penelitian.

“Kita mengambil sampel itu di upstream-nya dimana, kemudian downstream-nya dimana, kita komparasikan dan ternyata terjadi degradasi kualitas air,” tutup Wasman. ***(Nalika)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Tiga Proyek Pengendalian Banjir di Kabupaten Bandung Siap Dikerjakan Tahun 2026
Pemkot Bandung Siapkan Trotoar Lebih Tinggi untuk Cegah Parkir dan PKL
Pemprov Jabar Pastikan Pajak Kendaraan Listrik Tetap Berlaku
Perangi Banjir, Dedi Mulyadi Dorong Penambahan Danau hingga PLTSa di Kabupaten Bandung
Dishub Bandung Intensifkan Penertiban Parkir Liar, Puluhan Kendaraan Ditindak
Farhan Dorong Jalan Asia Afrika Jadi Warisan Dunia, Bandung Siapkan Revitalisasi Besar-besaran
Jalur Rel Cibeber–Lampegan Ambles, Perjalanan KA Siliwangi Dibatalkan Sementara
Air Tak Kunjung Surut, Muhammad Farhan Ungkap Penyebab Banjir Rancabolang–Derwati

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 12:19 WIB

Tiga Proyek Pengendalian Banjir di Kabupaten Bandung Siap Dikerjakan Tahun 2026

Selasa, 21 April 2026 - 18:27 WIB

Pemkot Bandung Siapkan Trotoar Lebih Tinggi untuk Cegah Parkir dan PKL

Selasa, 21 April 2026 - 17:41 WIB

Pemprov Jabar Pastikan Pajak Kendaraan Listrik Tetap Berlaku

Selasa, 21 April 2026 - 17:34 WIB

Perangi Banjir, Dedi Mulyadi Dorong Penambahan Danau hingga PLTSa di Kabupaten Bandung

Senin, 20 April 2026 - 17:07 WIB

Dishub Bandung Intensifkan Penertiban Parkir Liar, Puluhan Kendaraan Ditindak

Berita Terbaru