KABAR PAJAJARAN – Fenomena embun upas kembali muncul di sejumlah titik kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Fenomena ini hadir bersamaan dengan musim kemarau yang membuat suhu udara turun drastis pada malam hingga pagi hari.
Warga sekitar mengenal kondisi tersebut dengan istilah bediding. Saat bediding terjadi, udara pegunungan terasa jauh lebih dingin dibanding hari biasa.
Humas Balai Besar TNBTS, Endrip Wahyutama, mengatakan embun upas umumnya muncul di area terbuka. Lokasi tersebut mengalami pendinginan udara secara cepat sepanjang malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Fenomena embun upas biasanya muncul di area terbuka yang mengalami pendinginan udara secara intensif pada malam hari,” ujar Endrip.
Muncul di Sejumlah Titik Favorit Wisatawan
Balai Besar TNBTS mencatat beberapa lokasi yang kerap menjadi tempat munculnya embun upas.
Di kawasan Gunung Bromo, wisatawan dapat melihat fenomena ini di Lautan Pasir atau Kaldera Bromo. Embun es juga sering muncul di Pusung Gedhe dan Savana Lembah Watangan atau Bukit Teletubbies.
Sementara itu, di kawasan Gunung Semeru, embun upas dapat dijumpai di Desa Ranupani dan sekitar Danau Ranu Kumbolo.
Hamparan rumput dan pasir yang berubah putih karena kristal es menjadi daya tarik tersendiri. Banyak wisatawan sengaja datang saat pagi hari untuk menyaksikan pemandangan tersebut.
Suhu Dingin Picu Terbentuknya Kristal Es
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim bediding terjadi karena tutupan awan berkurang saat kemarau.
Kondisi itu membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer pada malam hari. Akibatnya, suhu udara turun secara signifikan.
Di kawasan pegunungan tinggi seperti Bromo dan Semeru, suhu dapat mendekati 0 derajat Celsius.
Saat suhu mencapai titik rendah, embun yang menempel pada rumput, daun, pasir, dan tanah mulai membeku. Proses tersebut membentuk lapisan kristal es tipis yang dikenal sebagai embun upas.
Berbeda dengan Salju
Meski terlihat seperti salju, embun upas memiliki proses pembentukan yang berbeda.
Salju terbentuk dari presipitasi di atmosfer. Sebaliknya, embun upas terbentuk langsung di permukaan tanah akibat suhu yang sangat dingin.
Endrip menegaskan fenomena ini merupakan bagian dari siklus alam di pegunungan tropis Indonesia saat musim kemarau.
Selain menjadi fenomena alam yang unik, embun upas juga menjadi daya tarik wisata yang selalu dinantikan pengunjung.
Dalam beberapa hari terakhir, wisatawan kembali menjumpai embun upas di kawasan Gunung Bromo. Sebagian area Lautan Pasir tampak memutih karena lapisan kristal es yang muncul pada pagi hari.***






