Harga Minyak Dunia Naik 2,7 Persen, Brent Tembus 90 Dollar AS

Selasa, 1 September 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Minyak Dunia, Harga minyak dunia sempat anjlok tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan perang dengan Iran hampir selesai. Namun, analis menilai penurunan harga tersebut belum mencerminkan kondisi pasokan energi global yang masih terganggu. (Google)

Ilustrasi Minyak Dunia, Harga minyak dunia sempat anjlok tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan perang dengan Iran hampir selesai. Namun, analis menilai penurunan harga tersebut belum mencerminkan kondisi pasokan energi global yang masih terganggu. (Google)

KABAR PAJAJARAN – Harga minyak dunia kembali melonjak pada akhir perdagangan Senin (31/8/2026) waktu setempat atau Selasa (1/9/2026) pagi WIB.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat dalam serangan militer. Situasi tersebut membuat pasar kembali mencemaskan kemungkinan gangguan terhadap pasokan minyak global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 2,39 dollar AS atau 2,71 persen menjadi 90,49 dollar AS per barrel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,36 dollar AS atau 2,83 persen ke level 85,76 dollar AS per barrel.

Harga Brent Sempat Tembus 91 Dollar AS

Pergerakan harga Brent bahkan sempat mencapai 91,52 dollar AS per barrel dalam perdagangan.

Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 25 Agustus 2026. Pelaku pasar langsung mencermati perkembangan konflik AS dan Iran karena eskalasi militer dapat mengancam kelancaran distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.

Kekhawatiran tersebut meningkat setelah Iran meluncurkan rudal ke dua pangkalan militer AS di Yordania pada Minggu malam.

Serangan itu menjadi respons Iran terhadap serangan AS ke Pulau Larak, Iran.

Presiden AS Donald Trump kemudian memberikan pernyataan keras terkait serangan tersebut.

“Kami akan menghantam mereka dengan keras. Akan ada balasan.”

Pasar kini menunggu perkembangan selanjutnya. Investor dan pelaku perdagangan minyak menilai konflik tersebut dapat kembali mereda atau justru berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas.

Selat Hormuz Jadi Perhatian Pasar

Selain aksi militer, kondisi Selat Hormuz juga menjadi perhatian utama pasar minyak dunia.

Sebelum perang pecah pada akhir Februari, jalur strategis tersebut menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan itu berpotensi memberikan tekanan besar terhadap pasokan energi global.

Mediator hingga kini masih berusaha mencapai kesepakatan yang memungkinkan pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, proses tersebut belum menemukan titik temu.

Data pelayaran menunjukkan aktivitas kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada akhir pekan turun menjadi sekitar lima kapal per hari.

Kondisi itu membuat pasar kembali memasukkan risiko gangguan pasokan ke dalam perhitungan harga minyak.

Analis Gelber & Associates menilai sebagian minyak dari kawasan Teluk masih berhasil bergerak melalui selat tersebut. Kondisi itu membantu membatasi lonjakan harga.

Namun, pertukaran serangan militer langsung antara AS dan Iran dalam sebulan terakhir kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dalam jangka pendek.

Trump Sebut Pusat Energi Iran Diserang

Ketegangan juga meningkat setelah Trump menyatakan pusat energi Iran di Pulau Kharg sedang dihancurkan.

Pernyataan tersebut Trump sampaikan melalui unggahan di media sosial pada Minggu. Namun, hingga kini belum terdapat bukti yang menunjukkan bahwa serangan benar-benar menghantam Pulau Kharg.

Iran membantah adanya serangan terhadap Pulau Kharg. Pemerintah Iran juga menyatakan aktivitas minyak di kawasan tersebut tetap berlangsung.

Wakil Presiden AS JD Vance kemudian mengatakan pada Senin bahwa unggahan Trump tersebut merupakan pesan yang ditujukan kepada Iran.

Situasi tersebut membuat pasar minyak menghadapi ketidakpastian baru. Setiap perkembangan konflik berpotensi memengaruhi harga minyak mentah dalam perdagangan berikutnya.

Cadangan Minyak AS Beri Sedikit Kelegaan

Di tengah kekhawatiran terhadap pasokan, pasar mendapat sentimen positif dari rencana pengisian kembali cadangan minyak strategis AS atau Strategic Petroleum Reserve (SPR).

Trump mengatakan minyak yang diperoleh melalui kesepakatan dengan Venezuela akan masuk ke cadangan strategis AS.

Langkah tersebut penting karena posisi SPR kini mendekati level terendah dalam 44 tahun.

Pada pekan lalu, persediaan minyak mentah dalam SPR berkurang sekitar 3,1 juta barrel menjadi 286,6 juta barrel.

Tambahan pasokan dari Venezuela berpotensi membantu pemerintah AS memperkuat kembali cadangan strategis sekaligus meredam kekhawatiran pasar.

Proyek Energi Venezuela Bisa Tambah Pasokan

Sejumlah perusahaan energi juga dikabarkan segera menyelesaikan kesepakatan final terkait proyek energi di Venezuela.

Beberapa perusahaan yang terlibat antara lain Chevron dan GE Vernova dari AS, ONGC dari India, Eni dari Italia, serta GeoPark dari Kolombia.

Kesepakatan tersebut berpotensi meningkatkan produksi dan distribusi minyak Venezuela.

Tambahan pasokan itu dapat memberikan sedikit keseimbangan bagi pasar ketika konflik AS dan Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Untuk sementara, perhatian pasar minyak masih tertuju pada perkembangan konflik AS-Iran, kondisi Selat Hormuz, serta kemampuan negara-negara produsen menjaga kelancaran pasokan global. ***(Ant)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Perekrutan Tentara Rusia Tak Pandang Usia, WNI Cukup Lolos Tes Kesehatan
Malaysia Desak Aturan Tegas untuk Perusahaan Terkait Kabut Asap dari Indonesia
Singapura Siap Bantu Indonesia Padamkan Karhutla, Kabut Asap Masih Ganggu Kualitas Udara
Harga Minyak Dunia Naik, Brent Tembus 103,50 Dollar AS per Barrel
Pesawat Flydubai FZ1073 Mendarat Darurat di Arab Saudi, Pilot Ditikam di Kokpit
China Siapkan Strategi Baru Kuasai AI, Gandeng BRICS Bangun Ekosistem Open Source
Konflik Houthi-Arab Saudi Memanas, Pemerintah Diminta Siapkan Skenario Evakuasi Jemaah Umrah
AirAsia Dibeli Rp4.300, Kini Hadapi Tekanan Keuangan, Rute Domestik Jadi Sorotan

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 12:00 WIB

Perekrutan Tentara Rusia Tak Pandang Usia, WNI Cukup Lolos Tes Kesehatan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Malaysia Desak Aturan Tegas untuk Perusahaan Terkait Kabut Asap dari Indonesia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 12:29 WIB

Singapura Siap Bantu Indonesia Padamkan Karhutla, Kabut Asap Masih Ganggu Kualitas Udara

Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Harga Minyak Dunia Naik, Brent Tembus 103,50 Dollar AS per Barrel

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Pesawat Flydubai FZ1073 Mendarat Darurat di Arab Saudi, Pilot Ditikam di Kokpit

Berita Terbaru