KABAR PAJAJARAN – Gerhana Matahari Total (GMT) pada 12 Agustus 2026 akan menghadirkan pemandangan korona Matahari yang berbeda dari gerhana sebelumnya. Aktivitas Matahari yang masih cukup tinggi diperkirakan membuat struktur korona terlihat lebih kompleks.
Gerhana Matahari Total menjadi salah satu fenomena astronomi yang paling menarik untuk diamati. Saat Bulan bergerak tepat di antara Bumi dan Matahari, Bulan akan menutupi seluruh permukaan terang Matahari selama fase totalitas.
Dalam beberapa menit tersebut, pengamat dapat melihat bagian luar atmosfer Matahari yang biasanya tersembunyi. Lapisan itu bernama korona Matahari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Korona akan muncul sebagai sulur-sulur cahaya putih yang mengelilingi bayangan hitam Bulan. Bentuknya tidak selalu sama karena aktivitas magnetik Matahari terus berubah.
Mengapa Korona Matahari Selalu Berbeda?
Korona Matahari terdiri atas plasma yang sangat panas dan bermuatan listrik. Medan magnet Matahari mengendalikan pergerakan plasma tersebut sekaligus membentuk struktur korona.
Karena medan magnet Matahari terus mengalami perubahan, bentuk korona juga ikut berubah. Kondisi itu membuat setiap Gerhana Matahari Total menghasilkan pemandangan yang khas.
Pengamat bahkan dapat melihat struktur korona yang membentang hingga beberapa kali diameter Matahari. Di sekitar tepian Bulan, cahaya kemerahan juga dapat muncul dari prominensa Matahari.
Prominensa merupakan struktur plasma berukuran besar yang berada di atas permukaan Matahari.
Aktivitas Matahari Memengaruhi Bentuk Korona
Aktivitas Matahari mengikuti siklus sekitar 11 tahun. Dalam siklus tersebut, aktivitas magnetik Matahari meningkat hingga mencapai solar maximum, kemudian berangsur-angsur menurun menuju solar minimum.
Ketika aktivitas Matahari rendah, jumlah bintik Matahari juga cenderung sedikit. Kondisi itu membuat korona terlihat lebih sederhana dan relatif simetris.
Sebaliknya, aktivitas Matahari yang tinggi menghasilkan struktur korona yang lebih rumit. Bintik Matahari dapat menciptakan pola cahaya yang tampak seperti duri dan menyebar ke berbagai arah.
Fisikawan Matahari sekaligus penulis Little Book of Eclipses, Ryan French, menjelaskan bahwa perbedaan aktivitas tersebut sangat memengaruhi penampakan korona ketika gerhana berlangsung.
Menurut French, saat Matahari mencapai puncak aktivitas, korona dapat terlihat sangat kompleks dengan banyak struktur runcing yang muncul dari berbagai wilayah Matahari.
Aktivitas tinggi juga dapat memicu suar Matahari atau solar flare serta lontaran massa korona atau coronal mass ejection (CME).
GMT 12 Agustus 2026 Tidak Berlangsung Saat Solar Maximum
Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 tidak bertepatan dengan puncak aktivitas Matahari. Data NASA dan NOAA menunjukkan bahwa Siklus Matahari 25 mencapai puncaknya pada Oktober 2024.
Dengan demikian, GMT 2026 berlangsung hampir dua tahun setelah puncak tersebut.
Meski aktivitas Matahari mulai menurun, kondisi Matahari pada Agustus 2026 masih tergolong aktif. Karena itu, pengamat tetap berpeluang menyaksikan korona dengan struktur yang cukup kompleks.
Ryan French menyebut kondisi korona pada GMT 2026 kemungkinan berada di antara dua keadaan. Bentuknya tidak akan sesederhana ketika Matahari memasuki fase aktivitas minimum, tetapi juga tidak serumit saat aktivitas berada di sekitar puncaknya.
Jumlah Bintik Matahari Masih Menunjukkan Aktivitas Tinggi
Perbedaan aktivitas tersebut terlihat dari jumlah bintik Matahari. Pada April 2024, ketika aktivitas Matahari masih sangat tinggi, jumlah bintik Matahari bulanan mencapai sekitar 144.
Sementara itu, jumlah bintik Matahari pada Agustus 2026 diperkirakan berada di kisaran 102.
Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan periode puncak aktivitas. Namun, Matahari masih menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi.
Kondisi itu membuat Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 menarik bagi para pengamat langit. Korona yang muncul kemungkinan akan menampilkan perpaduan antara struktur yang lebih sederhana dan pola cahaya yang masih cukup kompleks.
Korona Matahari Hanya Terlihat Saat Kondisi Tertentu
Dalam kondisi normal, manusia tidak dapat melihat korona dengan mata telanjang karena cahaya dari permukaan Matahari jauh lebih terang.
Saat Gerhana Matahari Total terjadi, Bulan menutup permukaan terang Matahari. Kondisi tersebut mengurangi silau sehingga cahaya korona dapat terlihat dari Bumi.
Fenomena inilah yang membuat fase totalitas menjadi momen paling dinantikan dalam sebuah gerhana.
Foto yang diambil kamera dapat merekam struktur korona dengan cukup detail. Namun, pengamatan langsung tetap memberikan pengalaman berbeda karena mata manusia dapat melihat bentuk dan bentangan cahaya korona secara langsung.
GMT 2026 Jadi Kesempatan Melihat Kondisi Matahari
Setiap Gerhana Matahari Total sebenarnya memberikan kesempatan untuk melihat kondisi atmosfer luar Matahari pada waktu tertentu.
Karena aktivitas Matahari terus berubah, struktur korona yang muncul pada 12 Agustus 2026 tidak akan kembali dengan susunan yang sama pada gerhana berikutnya.
Bagi pemburu gerhana, perbedaan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama. Mereka tidak hanya mengejar momen ketika Bulan menutupi Matahari, tetapi juga ingin melihat bagaimana aktivitas Matahari membentuk korona pada saat totalitas berlangsung.
Jika cuaca mendukung, GMT 12 Agustus 2026 akan memperlihatkan korona yang masih cukup aktif. Pemandangan tersebut sekaligus menjadi gambaran kondisi Matahari beberapa tahun setelah mencapai puncak Siklus Matahari 25.






