Emoji Bisa Ungkap Generasi Penggunanya, dari Gen Z hingga Gen X

Senin, 7 September 2026 - 08:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Emoji (depositphotos)

Ilustrasi Emoji (depositphotos)

KABAR PAJAJARAN – Pilihan emoji saat seseorang berkomentar di media sosial atau berkirim pesan ternyata bisa memberi petunjuk tentang generasinya. Meski tidak dapat memastikan usia pengguna, kebiasaan memakai emoji menunjukkan perbedaan bahasa digital antara Gen Z, Gen Alpha, milenial, dan Gen X.

Analisis The New York Times (NYT) menemukan sejumlah emoji yang populer pada kelompok usia tertentu. Tim NYT membandingkan percakapan di beberapa forum Reddit yang mewakili generasi berbeda.

Selain itu, NYT menggunakan data Google yang mencatat sekitar 665 juta penggunaan emoji secara anonim melalui Gboard sepanjang 2025. Data tersebut tidak mencantumkan informasi demografi pengguna.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karena itu, NYT memanfaatkan forum Reddit untuk melihat pola penggunaan emoji berdasarkan kelompok usia.

Emoji Api Jadi Simbol Pujian Anak Muda

Perbedaan penggunaan emoji terlihat dari cara pengguna memberikan pujian. Anak muda kini sering memakai emoji api untuk menunjukkan sesuatu yang keren, menarik, atau luar biasa.

Sebaliknya, pengguna yang lebih tua cenderung memilih emoji angka seratus untuk menyampaikan pujian dengan makna serupa.

Pola tersebut menunjukkan bahwa emoji tidak sekadar menjadi pelengkap percakapan. Setiap generasi juga mengembangkan kebiasaan dan bahasa digitalnya sendiri.

Emoji Jempol Mulai Dianggap “Emoji Boomer”

Selama bertahun-tahun, emoji acungan jempol menjadi cara praktis untuk mengatakan “oke”, “setuju”, atau “sip”.

Gen X masih cukup sering menggunakan simbol tersebut. Namun, sebagian anak muda mulai menganggap emoji jempol sebagai sesuatu yang identik dengan generasi lebih tua.

Ahli bahasa Adam Aleksic bahkan menyebut acungan jempol sebagai “boomer emoji”.

Meski begitu, anak muda tidak sepenuhnya meninggalkan simbol tersebut. Sebagian justru memakainya secara sengaja untuk menciptakan kesan lucu atau ironis.

Popularitas emoji jempol secara global pun masih tinggi. Data Google menempatkannya di posisi kedelapan emoji yang paling banyak digunakan sepanjang 2025, turun satu peringkat dari posisi ketujuh pada tahun sebelumnya.

Gen Z Lebih Sering Menggunakan Emoji Nangis Kejer

Perbedaan generasi semakin terlihat ketika pengguna ingin menunjukkan sesuatu yang sangat lucu.

Dulu, banyak orang menggunakan emoji wajah dengan air mata bahagia atau emoji tertawa berguling untuk menunjukkan rasa geli. Kedua simbol tersebut bahkan masih masuk dalam jajaran emoji paling populer di dunia.

Namun, anak muda mulai memilih simbol lain. Analisis NYT terhadap forum Reddit r/teenagers menunjukkan penggunaan emoji wajah dengan air mata bahagia menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Sebaliknya, emoji loudly crying face atau wajah menangis tersedu-sedu justru semakin populer di kalangan pengguna muda.

Pada 2019, pengguna forum tersebut masih jarang memakai emoji itu. Memasuki periode 2023 hingga 2025, penggunaannya meningkat hingga muncul dalam lebih dari 20 persen komentar yang mengandung emoji.

Forum yang mewakili Gen X menunjukkan pola berbeda. Penggunanya masih banyak memilih emoji wajah dengan air mata bahagia dan emoji tertawa berguling. Sementara itu, emoji menangis tersedu-sedu hanya muncul dalam porsi kecil.

Perubahan ini berkaitan dengan perkembangan makna emoji. Anak muda kini memakai emoji menangis bukan hanya untuk menunjukkan kesedihan, tetapi juga untuk menggambarkan sesuatu yang sangat lucu, mengharukan, memalukan, atau terlalu emosional.

Dengan begitu, seseorang bisa membalas lelucon dengan deretan emoji menangis. Maksudnya tetap sama, yakni tertawa sampai menangis, tetapi simbolnya berubah.

Pergeseran makna tersebut ikut mendorong emoji menangis tersedu-sedu menjadi emoji paling populer di dunia pada 2025. Popularitasnya bahkan mengalahkan dua emoji tertawa yang sebelumnya mendominasi.

Gen Alpha Punya “Emoji Kepala Batu”

Gen Alpha juga mengembangkan kebiasaan emoji yang semakin khas. Salah satu contohnya adalah emoji Moai, yang menampilkan kepala batu dari Pulau Paskah.

Emoji tersebut sebenarnya masuk kategori “travel and places” pada keyboard ponsel. Akan tetapi, pengguna muda memanfaatkannya untuk menyampaikan ekspresi yang berbeda.

Di kalangan Gen Alpha, Moai sering muncul sebagai respons datar atau deadpan. Pengguna juga memakainya untuk menunjukkan ekspresi seperti mengangkat sebelah alis atau tidak terlalu terkesan.

Popularitas emoji ini meningkat tajam. Pada 2021, Moai berada di peringkat ke-482. Empat tahun kemudian, posisinya melonjak ke peringkat ke-33 emoji paling populer pada 2025.

Analisis NYT menunjukkan Gen Alpha menjadi kelompok yang paling sering menggunakan emoji tersebut. Gen Z menggunakannya dalam jumlah lebih sedikit, sedangkan pengguna dari kalangan milenial dan Gen X hampir tidak memakainya.

Emoji Wajah dengan Kantung Mata Jadi Ciri Gen Z dan Gen Alpha

Emoji baru juga memperlihatkan perbedaan antargenerasi yang semakin jelas.

Salah satunya adalah emoji wajah dengan kantung mata yang hadir pada akhir 2024. Ekspresi tersebut menggambarkan wajah lelah dengan kantung mata besar.

Pengguna dapat memakai emoji itu untuk menunjukkan rasa capek, kurang tidur, kehabisan energi, atau sudah tidak sanggup menghadapi suatu keadaan.

Menurut analisis NYT, Gen Z dan Gen Alpha hampir mendominasi penggunaan emoji tersebut. Sebaliknya, pengguna dari kalangan milenial dan Gen X hampir tidak menggunakannya.

Emoji Terus Mengikuti Perubahan Bahasa Internet

Perbedaan penggunaan emoji menunjukkan bahwa bahasa digital terus berkembang. Simbol yang dulu memiliki satu makna dapat memperoleh arti baru ketika generasi berbeda menggunakannya.

Karena itu, pilihan emoji tidak bisa menjadi patokan pasti untuk menentukan usia seseorang. Namun, kebiasaan tersebut dapat memberikan gambaran mengenai tren bahasa digital yang berkembang di kelompok usia tertentu.

Bagi pengguna yang lebih tua, emoji jempol atau wajah tertawa mungkin terasa biasa. Sebaliknya, anak muda bisa menganggap simbol yang sama sebagai sesuatu yang kuno, ironis, atau bahkan lucu.

Pada akhirnya, emoji bukan sekadar gambar kecil dalam percakapan. Simbol-simbol tersebut telah menjadi bagian dari bahasa internet yang terus berubah mengikuti tren dan kebiasaan penggunanya.

Facebook Comments Box

Sumber Berita: The New York Times

Berita Terkait

AC Mobil Langsung Maksimal Setelah Terjemur Matahari, Apakah Aman?
Lampu Indikator BBM Menyala, Berapa Kilometer Mobil Masih Bisa Jalan?
Cicak Sering Muncul di Rumah? 4 Bahan Alami Ini Bisa Bantu Mengusirnya
Penelitian Ungkap Berapa Kali Manusia Kentut dalam Sehari
7 Jenis Nama yang Bisa Ditolak Dukcapil, Cek Aturannya Sebelum Dicatat di KTP
Revaldo Kembali Tersandung Kasus Narkoba, Polisi Sita Sabu dan Obat Psikotropika
Desta Pamit dari Vindes Corp, Lima Tahun Bersama Berakhir
Google Gemini Tembus 1 Miliar Pengguna Aktif Bulanan, Pertumbuhannya Kalahkan Produk Google Lain

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 11:00 WIB

AC Mobil Langsung Maksimal Setelah Terjemur Matahari, Apakah Aman?

Selasa, 15 September 2026 - 10:00 WIB

Lampu Indikator BBM Menyala, Berapa Kilometer Mobil Masih Bisa Jalan?

Minggu, 13 September 2026 - 13:00 WIB

Cicak Sering Muncul di Rumah? 4 Bahan Alami Ini Bisa Bantu Mengusirnya

Minggu, 13 September 2026 - 08:30 WIB

Penelitian Ungkap Berapa Kali Manusia Kentut dalam Sehari

Kamis, 10 September 2026 - 08:00 WIB

7 Jenis Nama yang Bisa Ditolak Dukcapil, Cek Aturannya Sebelum Dicatat di KTP

Berita Terbaru

Teknologi

iOS 27 Resmi Dirilis, Ini Daftar 33 iPhone yang Kebagian Update

Selasa, 15 Sep 2026 - 13:14 WIB