Jawa Barat Mulai Dilanda Kemarau, Puluhan Daerah Hadapi Ancaman Krisis Air dan Gagal Panen

Senin, 22 Juni 2026 - 08:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Kemarau (Freepik)

Ilustrasi Kemarau (Freepik)

BANDUNG, KABAR PAJAJARAN – Musim kemarau mulai meluas di Jawa Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sekitar 39 persen wilayah Jawa Barat telah memasuki musim kemarau. Kondisi ini meningkatkan risiko krisis air bersih, kekeringan lahan pertanian, penurunan debit air, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

BMKG memprakirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026. Pada periode tersebut, sebagian besar wilayah Jawa Barat berpotensi mengalami curah hujan di bawah kondisi normal.

BMKG Prediksi Kemarau Lebih Kering dari Biasanya

BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan sekitar 93 persen wilayah Jawa Barat akan menerima curah hujan di bawah rata-rata selama musim kemarau tahun ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi tersebut membuat sejumlah daerah menghadapi ancaman kekeringan yang lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Wilayah Pantai Utara (Pantura), dataran rendah, kawasan Priangan, hingga Cekungan Bandung menjadi daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan.

Beberapa wilayah bahkan telah mengalami hari tanpa hujan selama lebih dari tiga pekan. Situasi itu mulai memengaruhi ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat.

Sejumlah Daerah Masuk Zona Rawan Krisis Air Bersih

Pemerintah memetakan sejumlah daerah yang berpotensi mengalami kekeringan dan kesulitan air bersih selama musim kemarau.

Di wilayah utara Jawa Barat, daerah rawan meliputi Kota Depok, Kabupaten dan Kota Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Bogor bagian timur, Purwakarta bagian utara, Kabupaten Indramayu, serta Kota dan Kabupaten Cirebon.

Sementara itu, wilayah selatan Jawa Barat juga menghadapi ancaman serupa. Kabupaten Bandung, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Kabupaten Garut, Ciamis bagian selatan, Kota Banjar, dan Pangandaran bagian utara masuk dalam daerah yang perlu mengantisipasi dampak kekeringan.

Kawasan Bodebek dan Pantura Jadi Sorotan

Di kawasan Bodebek, potensi krisis air bersih mengancam Kota Depok, Kabupaten dan Kota Bekasi, serta wilayah timur Kabupaten Bogor seperti Jonggol dan sekitarnya.

Adapun di kawasan Pantura, Kabupaten Indramayu, Kabupaten dan Kota Cirebon, Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, serta wilayah utara Kabupaten Purwakarta diperkirakan menghadapi tekanan paling besar akibat berkurangnya pasokan air selama musim kemarau.

Karakteristik wilayah yang didominasi dataran rendah membuat daerah-daerah tersebut lebih rentan mengalami kekeringan ketika curah hujan turun drastis.

Bekasi Mulai Rasakan Dampak Kekeringan

BNPB melaporkan dampak kekeringan sudah muncul di Kabupaten Bekasi sejak awal Juni 2026. Sejumlah warga mengalami kesulitan memperoleh air bersih sehingga pemerintah daerah harus menyalurkan bantuan air.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi menyalurkan bantuan air bersih ke beberapa wilayah terdampak, termasuk Desa Ridogalih di Kecamatan Cibarusah dan Desa Nagasari di Kecamatan Serang Baru.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.

Sektor Pertanian Terancam Kekurangan Pasokan Air

Musim kemarau juga memberi tekanan besar terhadap sektor pertanian. Berkurangnya curah hujan menyebabkan debit air irigasi menurun sehingga petani menghadapi risiko kekurangan air di lahan pertanian.

Jika kondisi ini berlanjut, produktivitas tanaman pangan seperti padi dapat menurun. Risiko gagal panen atau puso pun meningkat, terutama di daerah yang mengandalkan pasokan air hujan dan irigasi.

Penurunan hasil panen berpotensi memengaruhi ketersediaan pangan sekaligus mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas di pasar.

Debit Waduk Berpotensi Menurun

Selain mengganggu pertanian, musim kemarau berisiko menurunkan volume air di sejumlah waduk yang menjadi sumber pasokan utama bagi masyarakat dan industri.

Penurunan debit waduk dapat mengurangi ketersediaan air baku untuk kebutuhan rumah tangga, irigasi pertanian, hingga aktivitas industri di berbagai daerah.

Pemerintah daerah mulai memantau kondisi sumber daya air untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas apabila kemarau berlangsung lebih panjang.

Risiko Karhutla Ikut Meningkat

Cuaca yang lebih panas dan minim hujan juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Jawa Barat.

Vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menyebar ketika terjadi pembakaran terbuka atau percikan api di kawasan rawan. Karena itu, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran selama musim kemarau.

BNPB dan BPBD daerah terus memperkuat langkah mitigasi guna menekan risiko bencana yang mungkin muncul sepanjang periode kemarau 2026. ***(Chq)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

10 Kabupaten/Kota Jabar-Jateng Siap Deklarasikan Dukungan Penuh untuk Bandara Kertajati
Dedi Mulyadi Evaluasi Angkot Tua dan Siapkan Bandara Husein Beroperasi Kembali Mulai Agustus
Era Baru Transportasi Bandung Raya Dimulai, BRT Modern Siap Beroperasi pada 2027
Pertama di Indonesia, Dedi Mulyadi Letakkan Batu Pertama Pabrik Alat Berat Elektrik di Karawang
Dedi Mulyadi Buka Sayembara Tangkap Begal, Warga Berpeluang Dapat Hadiah hingga Rp50 Juta
Hadapi Tantangan Media Digital, Puluhan Wartawan Ikuti UKW di Majalengka
Aksi Ekologi Tutup MPLS Pancawaluya 2026, Sekda Jabar Ajak Siswa Bangun Karakter dari Kebiasaan Sederhana
Hari Jadi Purwakarta ke-195, KDM Ajak Warga Jaga Ekosistem Wujudkan Purwakarta Istimewa

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 12:00 WIB

10 Kabupaten/Kota Jabar-Jateng Siap Deklarasikan Dukungan Penuh untuk Bandara Kertajati

Jumat, 24 Juli 2026 - 09:30 WIB

Dedi Mulyadi Evaluasi Angkot Tua dan Siapkan Bandara Husein Beroperasi Kembali Mulai Agustus

Jumat, 24 Juli 2026 - 09:00 WIB

Era Baru Transportasi Bandung Raya Dimulai, BRT Modern Siap Beroperasi pada 2027

Jumat, 24 Juli 2026 - 07:55 WIB

Pertama di Indonesia, Dedi Mulyadi Letakkan Batu Pertama Pabrik Alat Berat Elektrik di Karawang

Kamis, 23 Juli 2026 - 09:00 WIB

Dedi Mulyadi Buka Sayembara Tangkap Begal, Warga Berpeluang Dapat Hadiah hingga Rp50 Juta

Berita Terbaru