KABAR PAJAJARAN – Kelanjutan pembangunan Jalan Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci) kembali berada di persimpangan. Proyek yang sempat digadang menjadi jalan tol terpanjang di Indonesia itu hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda bergerak maju setelah tertunda sejak awal 2020-an.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengungkapkan, rendahnya minat investor menjadi hambatan utama proyek tersebut. Menurutnya, faktor paling menentukan dalam investasi jalan tol adalah proyeksi trafik kendaraan. Jika pergerakan kendaraan dinilai minim, investor cenderung menahan diri.
“Biasanya kalau proyek yang ditawarkan tidak banyak peminat, penyebab utamanya karena trafiknya kurang,” ujar Dody.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Trafik Rendah, Dukungan Negara Terbatas
Dalam skema pembangunan tol, pemerintah kerap memberikan dukungan pendanaan atau chip in agar proyek tetap menarik secara finansial. Namun kondisi fiskal saat ini membuat ruang dukungan tersebut semakin terbatas.
Situasi ini memaksa pemerintah meninjau ulang prioritas pembangunan infrastruktur nasional. Dody menyebut pemerintah kini harus memilih antara tetap memberi dukungan pada Tol Getaci atau mempercepat proyek lain yang dinilai lebih mendesak.
Pilihan itu tidak mudah, terutama ketika kebutuhan pengendalian banjir di kawasan industri Jawa Barat semakin mendesak.
Bendungan Jadi Prioritas Baru
Pemerintah kini mengarahkan perhatian pada pembangunan Bendungan Cibeet dan Bendungan Cijurey. Kedua proyek ini diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir di wilayah industri padat penduduk seperti Karawang dan Bekasi.
Dody menargetkan pembangunan bendungan tersebut dapat rampung bertahap pada 2027–2028. Ia menegaskan, percepatan proyek menjadi krusial setelah melihat langsung ancaman banjir yang masih menghantui kawasan tersebut.
“Kalau tidak segera diselesaikan, saya khawatir Karawang dan Bekasi akan banjir lagi,” katanya.
Dilema Prioritas Infrastruktur
Kondisi ini menempatkan Tol Getaci dalam posisi tidak pasti. Di satu sisi, proyek tol tersebut diharapkan membuka konektivitas baru di selatan Pulau Jawa. Namun di sisi lain, kebutuhan mitigasi bencana banjir dianggap lebih mendesak bagi masyarakat dan kawasan industri.
Keputusan akhir pemerintah akan sangat bergantung pada ketersediaan anggaran dan skema pendanaan yang memungkinkan proyek tetap berjalan tanpa membebani keuangan negara secara berlebihan. Untuk sementara, Tol Getaci harus kembali menunggu momentum yang tepat.***(Ant)
















