Washington, Kabar Pajajaran – Situasi politik Iran memasuki fase krusial menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Di tengah dinamika tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dirinya telah mengantongi tiga nama yang dinilai cocok memimpin Iran.
Dalam wawancara dengan The New York Times seperti dilansir Gulf News, Senin (2/3/2026), mengisyaratkan soal “opsi kepemimpinan” untuk Iran, Trump menyebut memiliki “tiga pilihan yang sangat bagus” untuk memimpin Iran. Namun, ia menolak mengungkap identitas nama-nama tersebut ke publik. “Saya tidak akan mengungkapkannya sekarang. Mari kita selesaikan pekerjaan ini dulu,” ujarnya.
Pernyataan Eksternal vs Proses Internal Iran
Terlepas dari pernyataan Washington, sistem politik Iran memiliki mekanisme tersendiri dalam menentukan suksesi kepemimpinan tertinggi. Berdasarkan konstitusi Iran, pengganti Pemimpin Tertinggi dipilih oleh Majelis Pakar, sebuah badan beranggotakan 88 ulama senior yang dipilih melalui pemilu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Otoritas Iran telah mengonfirmasi wafatnya Khamenei dan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Sementara itu, proses internal untuk menentukan penerusnya diperkirakan tengah berjalan.
Sejumlah Nama Muncul
Beberapa figur disebut-sebut berpotensi menjadi kandidat, di antaranya:
- Mojtaba Khamenei, putra kedua Khamenei
- Alireza Arafi, ulama senior yang dikenal dekat dengan lingkaran kepemimpinan
- Mohammad Mehdi Mirbagheri, anggota Majelis Pakar
- Hassan Khomeini, cucu pendiri Republik Islam
- Hashem Hosseini Bushehri, ulama senior dan anggota Majelis Pakar
Selain itu, nama Ayatollah Ruhollah Khomeini kembali menjadi rujukan historis mengingat warisan politik dan ideologinya yang masih kuat dalam struktur negara Iran.
Dimensi Geopolitik
Pernyataan Presiden AS mengenai “opsi kepemimpinan” mencerminkan dimensi geopolitik yang lebih luas, terutama di tengah eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Namun secara formal, penentuan pemimpin tertinggi Iran tetap menjadi kewenangan lembaga internal negara tersebut.
Para pengamat menilai, arah kebijakan Iran ke depan sangat bergantung pada figur yang terpilih. Apakah akan mempertahankan garis keras seperti sebelumnya, atau membuka ruang pendekatan yang berbeda terhadap Barat, masih menjadi tanda tanya.
Untuk saat ini, perhatian dunia tertuju pada proses suksesi di Teheran—yang bukan hanya berdampak domestik, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan dan hubungan internasional secara lebih luas. ***Anton






