PURWAKARTA, KABAR PAJAJARAN – Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau Om Zein, menyampaikan permintaan maaf setelah lagu berbahasa Sunda berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat memicu polemik di media sosial. Lagu tersebut menuai kritik karena sebagian masyarakat menilai liriknya mengandung stereotip terhadap perempuan.
Om Zein menegaskan bahwa ia tidak pernah berniat merendahkan ataupun menyudutkan perempuan melalui karya tersebut. Ia juga memahami apabila sebagian pendengar merasa kurang nyaman dengan isi lirik lagu yang beredar luas di berbagai platform media sosial.
“Maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun, saya tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Lagu itu murni bercerita tentang diri saya sendiri,” ujar Om Zein dalam keterangan tertulis, Rabu (1/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lagu Berawal dari Puisi Tahun 2020
Om Zein menjelaskan bahwa lagu tersebut bukan karya baru. Ia menulisnya dalam bentuk puisi pada 2020 sebagai refleksi atas perjalanan hidupnya sebelum akhirnya mengaransemennya menjadi lagu yang dirilis pada Januari 2026.
Menurutnya, isi puisi itu menggambarkan proses perenungan terhadap perilaku dan kenakalan yang pernah ia lakukan pada masa lalu. Karena itu, ia menolak anggapan bahwa lagu tersebut menyerang atau menghakimi perempuan.
“Lagu itu berasal dari puisi yang saya tulis pada 2020. Ceritanya tentang diri saya sendiri dan perjalanan hidup saya,” katanya.
Ungkapan dalam Lirik Berasal dari Penyesalan
Om Zein juga menjelaskan makna salah satu bagian lirik yang menyebut dirinya bersyukur terlahir sebagai laki-laki. Ia mengatakan kalimat tersebut lahir dari rasa penyesalan terhadap perilakunya di masa lalu.
Menurutnya, ia saat itu merasa belum mampu menjaga diri dengan baik. Karena itulah ia menulis ungkapan tersebut sebagai bentuk introspeksi, bukan untuk membandingkan laki-laki dengan perempuan.
Ia menambahkan bahwa seluruh isi lagu merupakan refleksi pribadi yang berangkat dari pengalaman hidupnya sendiri.
Lirik Lagu Picu Perdebatan
Polemik muncul setelah potongan lirik Lalaki Langit, Lalanang Bejat viral di media sosial. Sejumlah warganet menilai beberapa bagian lirik membandingkan laki-laki dan perempuan melalui pengalaman biologis perempuan, seperti kehamilan, menstruasi, hingga penggunaan atribut perempuan sebagai bahan humor.
Perdebatan pun berkembang menjadi diskusi mengenai batas kebebasan berekspresi dalam berkarya dan pentingnya menjaga penghormatan terhadap perempuan. Sejumlah pihak menilai penyampaian pesan dalam lagu tersebut berpotensi memperkuat stereotip gender.
Atalia Praratya Ikut Menyoroti
Kritik terhadap lagu itu juga datang dari Atalia Praratya. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, ia mengaku telah mencoba memahami isi lagu dari berbagai sudut pandang.
Namun, menurut Atalia, ia belum menemukan pesan yang mencerminkan penghormatan terhadap perempuan dalam lirik lagu tersebut.
Meski polemik masih berlangsung, Om Zein kembali menegaskan bahwa karya tersebut hanya menjadi media refleksi atas perjalanan hidupnya. Ia berharap masyarakat memahami konteks penciptaan lagu tersebut dan tidak memaknainya sebagai upaya merendahkan perempuan.***(Chq)






