Trump Cap Perusahaan AI Ini Berbahaya, Tapi Militernya Tetap Pakai?

Selasa, 3 Maret 2026 - 09:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ledakan akibat serangan, Foto Istimewa

Ledakan akibat serangan, Foto Istimewa

Kabar Pajajaran – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam operasi militer Amerika Serikat kembali menjadi sorotan. Kali ini, teknologi milik perusahaan AI Anthropic disebut ikut digunakan dalam operasi terhadap Iran pada akhir Februari 2026.

Isu ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga memunculkan perdebatan besar tentang etika, regulasi, hingga relasi antara pemerintah dan perusahaan teknologi swasta.

Apa Itu Anthropic dan Claude?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Anthropic merupakan perusahaan riset AI berbasis di Amerika Serikat yang didirikan pada 2021 oleh Dario Amodei dan Daniela Amodei. Perusahaan ini dikenal fokus pada pengembangan AI yang aman, transparan, dan tetap berada dalam kendali manusia.

Produk andalannya adalah Claude, model AI generatif yang dirancang untuk membantu analisis data, pemrosesan informasi kompleks, hingga simulasi skenario berbasis teks. Anthropic berstatus Public Benefit Corporation (PBC), artinya perusahaan ini secara hukum memiliki tanggung jawab sosial di luar sekadar mengejar keuntungan.

Kontroversi dengan Gedung Putih

Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyebut Anthropic sebagai “supply chain risk”. Label tersebut biasanya diberikan kepada perusahaan yang dianggap berpotensi membahayakan keamanan nasional.

Trump bahkan sempat memerintahkan penghentian kerja sama pemerintah dengan perusahaan tersebut. Pernyataan itu memicu kontroversi karena Anthropic adalah perusahaan berbasis AS, bukan entitas asing.

Namun, di tengah kebijakan tersebut, laporan media menyebut teknologi Claude tetap digunakan dalam kebutuhan intelijen dan analisis militer.

Sejauh Mana AI Digunakan?

Detail teknis tidak dipublikasikan secara terbuka. Namun, sumber menyebut AI dimanfaatkan untuk:

  • Analisis intelijen dalam skala besar
  • Pemodelan dan simulasi skenario operasi
  • Pengolahan data strategis secara cepat

Belum ada indikasi bahwa AI secara langsung mengendalikan sistem senjata atau mengambil keputusan serangan. Meski begitu, penggunaan AI dalam tahap analisis dan perencanaan tetap menimbulkan pertanyaan etis.

Ketegangan dengan Pentagon

Perselisihan antara Anthropic dan Departemen Pertahanan AS disebut semakin tajam ketika Menteri Pertahanan Pete Hegseth meminta akses lebih luas terhadap model AI tersebut.

Anthropic menegaskan bahwa kebijakan penggunaan Claude melarang pemanfaatan untuk kekerasan, senjata otonom, atau pengawasan massal. Perusahaan juga dikabarkan hanya memberikan masa transisi terbatas sebelum mengakhiri kerja sama tertentu.

OpenAI Masuk Menggantikan

Di tengah memanasnya hubungan tersebut, OpenAI disebut mengambil alih sebagian peran penyediaan teknologi AI untuk kebutuhan militer AS. CEO OpenAI, Sam Altman, menyatakan adanya kesepakatan pemanfaatan sistem AI dalam jaringan rahasia pemerintah.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa persaingan industri AI kini tidak hanya terjadi di sektor komersial, tetapi juga dalam proyek-proyek pertahanan bernilai strategis tinggi.

AI dan Wajah Baru Perang Modern

Kasus Anthropic menjadi gambaran bagaimana AI semakin terintegrasi dalam sistem keamanan nasional. Meski perusahaan teknologi mengusung prinsip etika dan pembatasan penggunaan, realitas geopolitik sering kali menghadirkan tekanan berbeda.

Ke depan, isu yang kemungkinan terus mencuat adalah soal batas pemanfaatan AI dalam konflik bersenjata serta siapa yang memiliki kendali akhir atas teknologi tersebut — negara atau pengembangnya.

Perdebatan ini belum berakhir. Justru, bisa jadi ini baru permulaan dari babak baru hubungan antara industri teknologi dan militer global. *** (Anton)

Sumber : Reuters, The Guardian

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Kabar Mengejutkan dari Timur Tengah: Selat Hormuz Akan Dibuka Lagi?
Sembilan WNI Mengaku Mengalami Kekerasan Saat Ditahan Aparat Israel
WHO Tegaskan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Bukan Awal Pandemi Baru
Harga Minyak Dunia Turun Usai Iran Kirim Proposal Damai ke Mediator Pakistan
Bus Jemaah Haji Indonesia Kecelakaan di Jabal Magnet, 10 Orang Luka dan Dirawat
Penembakan di Jamuan Gedung Putih Disorot, Trump Puji Aparat dan Dorong Proyek Ballroom Antipeluru
Malaysia dan Singapura Tolak Wacana Tarif Kapal di Selat Malaka
Harga Minyak Dunia Turun Tipis ke US$98, Harapan Damai AS–Iran Jadi Penentu

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 12:00 WIB

Kabar Mengejutkan dari Timur Tengah: Selat Hormuz Akan Dibuka Lagi?

Jumat, 22 Mei 2026 - 10:00 WIB

Sembilan WNI Mengaku Mengalami Kekerasan Saat Ditahan Aparat Israel

Jumat, 8 Mei 2026 - 14:00 WIB

WHO Tegaskan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Bukan Awal Pandemi Baru

Sabtu, 2 Mei 2026 - 10:30 WIB

Harga Minyak Dunia Turun Usai Iran Kirim Proposal Damai ke Mediator Pakistan

Rabu, 29 April 2026 - 19:47 WIB

Bus Jemaah Haji Indonesia Kecelakaan di Jabal Magnet, 10 Orang Luka dan Dirawat

Berita Terbaru

Nasional

Konversi LPG ke CNG Dinilai Bisa Kurangi Impor Energi

Selasa, 26 Mei 2026 - 21:00 WIB