Kabupaten Bandung Barat, Kabar Pajajaran – Memasuki hari ke-11 pascabencana longsor yang melanda Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, suasana di posko pengungsian GOR Desa Pasirlangu terpantau masih dipadati oleh warga yang kehilangan tempat tinggal,. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 55 kepala keluarga dengan total 166 jiwa kini menggantungkan hidup di pengungsian tersebut.
Para pengungsi terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari 13 lansia, 12 anak-anak, hingga 10 balita. Di tengah keterbatasan, keceriaan anak-anak yang bermain serta kegiatan religius seperti pembacaan Al-Qur’an bersama saat waktu Maghrib hingga Isya menjadi pemandangan yang memberikan harapan bagi para penyintas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Detik-Detik Mencekam di Kampung Pasir Kuning
Salah satu titik terdampak paling parah adalah RW 11 Kampung Pasir Kuning, di mana diperkirakan 34 rumah warga tertimbun material longsor di wilayah Babakan,. Ibu Neneng, istri Ketua RW 11, menceritakan detik-detik mencekam saat bencana terjadi sekitar pukul 12 malam,.
“Waktu itu sedang mati lampu, hujan deras, dan angin kencang. Terdengar suara gemuruh dan getaran yang sangat kuat,” kenang Ibu Neneng. Awalnya, warga tidak menyadari bahwa pemukiman di bagian atas telah habis diterjang longsor, hingga terdengar teriakan dan tangisan warga yang berlarian ke arah bawah untuk menyelamatkan diri.
Meskipun laporan menyebutkan bahwa seluruh warga yang tertimbun di titik Pasir Kuning telah ditemukan, proses identifikasi jenazah oleh tim terkait hingga kini dilaporkan belum sepenuhnya selesai.
Baca juga: Posko Longsor Pasirlangu Mulai Lengang, Pemkab KBB Siapkan Opsi Relokasi dan Bantuan Kontrakan
Kondisi Logistik dan Harapan Warga
Terkait kebutuhan dasar, para pengungsi menyampaikan bahwa bantuan logistik dari pemerintah telah terpenuhi dengan baik. Namun, mengenai janji bantuan dana kontrakan sebesar Rp10 juta yang sempat disampaikan oleh Dedi Mulyadi (KDM), warga mengaku belum mendapatkan informasi pasti terkait realisasinya.
Meskipun rumah Ibu Neneng dinyatakan berada di zona aman, ia memilih tetap bertahan di GOR untuk menemani anggota keluarganya (ibu, kakak, dan adik) yang rumahnya masuk dalam zona kuning dan merah,.
“Harapan saya ke depan penginnya aman, tidak terjadi lagi kejadian seperti ini,” pungkasnya. Hingga saat ini, pemerintah daerah masih terus memantau status kerawanan lahan guna menentukan langkah relokasi bagi warga yang rumahnya berada di zona berbahaya.***(Nalika)
















