Sekda KBB Ungkap Kendala Identifikasi Korban Longsor Pasirlangu: Banyak Keluarga yang Tidak Memiliki Sanak Saudara Lagi

Selasa, 3 Februari 2026 - 17:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi terkini di tempat pengungsian warga terdampak longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Foto: Istimewa.

Kondisi terkini di tempat pengungsian warga terdampak longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Foto: Istimewa.

Kabupaten Bandung Barat, Kabar Pajajaran – Memasuki hari ke-11 pascabencana longsor yang menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), upaya pencarian dan identifikasi korban masih terus berlangsung. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 85 kantong jenazah telah dievakuasi oleh tim SAR gabungan ke tim DVI.

Sekretaris Daerah (Sekda) KBB, Ade Zakir, mengungkapkan bahwa dari total kantong jenazah tersebut, sebanyak 68 jenazah telah berhasil teridentifikasi. Sementara itu, masih terdapat 17 kantong jenazah lainnya yang belum teridentifikasi.

Kendala Identifikasi dan Sinkronisasi Data

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terdapat perbedaan antara jumlah kantong jenazah yang ditemukan dengan daftar laporan 80 warga yang dinyatakan hilang. Ade Zakir menjelaskan bahwa beberapa kantong jenazah terkadang merujuk pada satu identitas yang sama.

“Dari identifikasi 88 kantong (data dinamis), teridentifikasi 66 jiwa. Setelah dicocokkan dengan daftar 80 warga yang dilaporkan hilang, ada 51 orang yang cocok,” ujar Ade Zakir dalam wawancara pada Selasa (3/2).

Tim DVI menghadapi kendala dalam proses tes DNA bagi korban lainnya karena beberapa keluarga korban tidak lagi memiliki sanak saudara atau famili yang bisa memberikan data pendukung. Saat ini, pemerintah fokus pada pencarian 80 warga yang telah dideklarasikan oleh Kepala Desa sebagai warga yang hilang saat bencana terjadi.

Baca juga: Posko Longsor Pasirlangu Mulai Lengang, Pemkab KBB Siapkan Opsi Relokasi dan Bantuan Kontrakan

Krisis Air Bersih dan Kondisi Pengungsi

Hingga Selasa pagi, jumlah pengungsi yang bertahan mencapai 51 KK atau 166 jiwa. Jumlah ini mengalami peningkatan karena warga mulai kesulitan mendapatkan akses air bersih. Pipanisasi air bersih yang bersumber dari mata air di atas gunung hancur diterjang longsor.

Sebagai langkah cepat, pemerintah daerah telah melakukan pengeboran empat sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih para pengungsi. Saat ini, pusat pengungsian difokuskan di GOR Desa Pasir Langu, mengingat aula desa telah dialihfungsikan menjadi gudang logistik.

Skema Relokasi dan Bantuan Rumah

Terkait pemulihan pascabencana, pemerintah telah mendata sebanyak 132 bangunan yang terdampak, dengan rincian 43 rumah terkena longsor, 35 bangunan rusak/tidak bisa dihuni, dan 54 bangunan terancam.

Pemerintah menawarkan dua skema relokasi bagi warga yang rumahnya hancur:

1. Tukar Menukar Tanah: Menggunakan Tanah Kas Desa untuk pembangunan sekitar 53 rumah melalui mekanisme musyawarah desa. Eks lahan warga yang terdampak nantinya akan dihijaukan kembali oleh pihak desa.

2. Relokasi Mandiri: Warga yang memiliki tanah di lokasi keluarga yang lebih aman dapat mengajukan pembangunan rumah yang biayanya akan disiapkan oleh BNPB.

Selain itu, warga yang rumahnya rusak juga mendapatkan santunan masing-masing Rp10 juta dari Dedi Mulyadi (KDM) untuk membantu biaya kontrak rumah atau kebutuhan hidup.

Baca juga: Temui Penjual Es Gabus Viral, Dedi Mulyadi Tegur Soal Ketidakjujuran

Penyebab Bencana dan Larangan ‘Wisata Bencana’

Berdasarkan pengamatan di lapangan, Ade Zakir menjelaskan bahwa mahkota longsoran berada di kawasan hutan puncak Gunung Burangrang, bukan di lahan pemukiman atau perkebunan. Longsor menerjang pemukiman karena posisi rumah warga yang berada di jalur aliran longsoran tersebut.

Masyarakat diimbau untuk tidak mendatangi lokasi longsor hanya karena penasaran. “Ini bukan tempat wisata. Kami sangat khawatir adanya longsor susulan, dan dari sisi kesehatan, kondisi di lokasi sudah mulai membahayakan sehingga tim SAR pun harus menggunakan APD lengkap,” tegas Ade.

Masa tanggap darurat bencana di Cisarua ini telah ditetapkan selama dua minggu dan direncanakan akan berakhir pada Jumat, 6 Februari mendatang.*** (Radit)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pemprov Jabar Libatkan 25.000 Mahasiswa untuk Atasi Sampah Bandung Raya
Nawala Marching Band Genap 30 Tahun, Perkuat Komitmen Regenerasi dan Prestasi
Harvest Moon Terangi Langit Bandung, BMKG Ungkap Waktu Terbaik Melihat Bulan Purnama
Dua Pelajar SMA Ditangkap Tim Prabu Bandung Usai Acungkan Samurai ke Polisi
Dedi Mulyadi Berduka atas Wafatnya Guruh Soekarnoputra, Sebut Karyanya Akan Abadi
Erwin Ungkap Perannya di Pemkot Bandung: Kini Lebih Banyak Turun ke Masyarakat
Kasus ILI dan ISPA di Kabupaten Bandung Melonjak, Dinkes Minta Warga Tak Panik
Wagub Erwan Setiawan Sampaikan Pesan di HJKB ke-216, Tekankan Kolaborasi Bandung-Jabar

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Pemprov Jabar Libatkan 25.000 Mahasiswa untuk Atasi Sampah Bandung Raya

Senin, 28 September 2026 - 19:43 WIB

Nawala Marching Band Genap 30 Tahun, Perkuat Komitmen Regenerasi dan Prestasi

Minggu, 27 September 2026 - 14:00 WIB

Harvest Moon Terangi Langit Bandung, BMKG Ungkap Waktu Terbaik Melihat Bulan Purnama

Minggu, 27 September 2026 - 13:06 WIB

Dua Pelajar SMA Ditangkap Tim Prabu Bandung Usai Acungkan Samurai ke Polisi

Minggu, 27 September 2026 - 10:00 WIB

Dedi Mulyadi Berduka atas Wafatnya Guruh Soekarnoputra, Sebut Karyanya Akan Abadi

Berita Terbaru