KABARPAJAJARAN.COM – Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali mengalami tiga kali erupsi pada Senin, 19 Oktober 2026. Aktivitas vulkanik tersebut berlangsung selama periode pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 WIB. Hingga laporan pengamatan itu berakhir, gunung api di Selat Sunda tersebut masih berstatus Level III atau Siaga.
Petugas Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau, Amri Puji Hidayatul Muslikhin, mencatat tiga letusan dengan amplitudo 50–55 milimeter. Durasi erupsi bervariasi, mulai dari 51 detik hingga 750 detik.
Salah satu letusan terjadi pada pukul 09.31 WIB. Saat itu, alat pemantau merekam amplitudo maksimum 50 milimeter dengan durasi erupsi sekitar 51 detik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa Gunung Anak Krakatau masih mengalami dinamika vulkanik yang perlu mendapat perhatian. Karena itu, masyarakat dan wisatawan perlu mematuhi rekomendasi keselamatan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Asap Vulkanik Membubung hingga 600 Meter
Pengamat gunung api mencatat perubahan kondisi visual Gunung Anak Krakatau selama periode pengamatan. Cuaca dan kabut membuat jarak pandang berubah, mulai dari kondisi cerah hingga tertutup kabut dengan tingkat ketebalan 0–III.
Asap kawah terlihat berwarna putih, kelabu, hingga hitam. Intensitasnya berkisar dari sedang hingga tebal, dengan ketinggian sekitar 50–600 meter di atas puncak kawah.
Namun, petugas tidak dapat mengukur tinggi kolom erupsi secara akurat pada sejumlah kejadian. Material abu vulkanik menutupi lensa kamera pengawas atau CCTV sehingga menghambat pemantauan visual.
Puluhan Gempa Terekam dalam Enam Jam
Selain mencatat tiga kali erupsi, Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau merekam puluhan kejadian gempa selama enam jam pengamatan. Data tersebut mencakup aktivitas gempa yang berkaitan dengan dinamika vulkanik maupun aktivitas tektonik.
Berikut rincian kegempaan Gunung Anak Krakatau pada periode tersebut:
- Gempa hybrid atau fase banyak: 24 kali, dengan durasi 4–18 detik.
- Gempa vulkanik dangkal: 16 kali, dengan durasi 7–15 detik.
- Gempa vulkanik dalam: 7 kali, dengan durasi 11–17 detik.
- Gempa embusan: 5 kali, dengan durasi 19–31 detik.
- Gempa frekuensi rendah: 3 kali, dengan durasi 9–13 detik.
- Gempa tektonik jauh: 1 kali, dengan durasi 166 detik.
Petugas juga merekam tremor menerus atau microtremor dengan amplitudo 1–14 milimeter. Amplitudo yang paling dominan tercatat sebesar 5 milimeter.
Sementara itu, cuaca di sekitar gunung terpantau berawan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat laut, dengan suhu udara 25,7–32 derajat Celsius dan kelembapan 69–85 persen.
PVMBG Larang Aktivitas dalam Radius 5 Kilometer
PVMBG menetapkan sejumlah batasan untuk mengurangi risiko bagi masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau. Masyarakat, pengunjung, dan wisatawan dilarang mendekati pusat erupsi dalam radius 5 kilometer.
Petugas juga meminta masyarakat menghindari area dalam radius 1 kilometer dari pulau baru yang terbentuk di sektor barat laut dan tenggara.
Selain membatasi akses ke zona berbahaya, PVMBG mengingatkan masyarakat mengenai potensi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, dan aliran lava. Warga juga perlu mewaspadai kemungkinan erupsi sekunder ketika lava panas bersentuhan dengan air laut atau air hujan.
Risiko tersebut membuat masyarakat perlu mengikuti arahan petugas dan tidak memasuki kawasan terlarang selama aktivitas vulkanik masih berlangsung.
Warga Banten dan Lampung Diminta Tetap Tenang
PVMBG mengimbau masyarakat pesisir Banten dan Lampung agar tetap tenang serta menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa dengan memperhatikan informasi resmi.
Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai kabar yang belum terverifikasi, terutama informasi mengenai ancaman tsunami yang beredar melalui media sosial maupun pesan berantai.
Untuk memperoleh informasi terbaru mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau, masyarakat dapat memantau pengumuman BPBD setempat atau menghubungi Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau di Pasauran, Banten, maupun kantor PVMBG.
Masyarakat diharapkan terus mematuhi rekomendasi keselamatan dan menjauhi zona berbahaya. Langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko selama Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. ***(Ant)






