AirAsia Dibeli Rp4.300, Kini Hadapi Tekanan Keuangan, Rute Domestik Jadi Sorotan

Jumat, 18 September 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Air Asia (Foto vietnam.vn)

Ilustrasi Air Asia (Foto vietnam.vn)

KABARPAJAJARAN.COM – AirAsia pernah menjadi simbol keberhasilan bisnis penerbangan murah di Asia Tenggara. Maskapai yang kini dikenal luas tersebut dahulu berpindah tangan dengan harga hanya 1 ringgit atau sekitar Rp4.300 jika menggunakan kurs saat ini.

Lebih dari dua dekade kemudian, AirAsia menghadapi tekanan keuangan yang jauh lebih besar. Beban utang, kenaikan harga bahan bakar pesawat, serta tekanan nilai tukar membuat kondisi maskapai kembali menjadi perhatian.

Pemerintah Malaysia bahkan disebut mulai menyiapkan skenario apabila kondisi keuangan AirAsia memburuk. Pemerintah dikabarkan telah berdiskusi dengan Malaysia Airlines dan Batik Air mengenai kemungkinan mereka mengambil sebagian rute domestik serta penumpang AirAsia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, pembicaraan tersebut belum berarti pemerintah akan mengambil alih AirAsia atau menghentikan operasional maskapai tersebut. Reuters melaporkan diskusi itu sebagai bagian dari perencanaan skenario untuk menghadapi kemungkinan memburuknya kondisi finansial AirAsia.

Pada Jumat, 18 September 2026, pendiri AirAsia Tony Fernandes membantah laporan mengenai kebutuhan bailout pemerintah. Ia juga mengatakan tidak ada pembicaraan seperti yang diberitakan mengenai penyelamatan pemerintah terhadap maskapai tersebut.

Berawal dari Maskapai yang Hampir Bangkrut

AirAsia berdiri pada 1993 dan mulai beroperasi pada 1996 sebagai maskapai konvensional. Namun, perusahaan tersebut menghadapi masalah keuangan dan menanggung utang sekitar 40 juta ringgit.

Pada September 2001, perusahaan Tune Air yang dipimpin Tony Fernandes dan Kamarudin Meranun membeli AirAsia dengan harga simbolis 1 ringgit. Pembeli juga mengambil alih kewajiban utang perusahaan.

Akuisisi tersebut kemudian mengubah arah bisnis AirAsia.

Pada 2002, AirAsia kembali beroperasi dengan konsep low-cost carrier (LCC). Maskapai menerapkan tarif murah, meningkatkan penggunaan pesawat, menekan biaya operasional, serta memanfaatkan penjualan tiket secara langsung dan online.

Model tersebut berhasil menarik pasar yang lebih luas.

AirAsia kemudian memperluas penerbangan ke Phuket, Thailand, Indonesia, Filipina, dan berbagai tujuan lain di Asia Tenggara. Pada 2004, perusahaan mencatatkan sahamnya di Bursa Malaysia.

Penumpang AirAsia Menembus 100 Juta

Ekspansi AirAsia berlangsung cepat.

Pada 2008, maskapai tersebut telah mengangkut sekitar 50 juta penumpang. AirAsia juga mulai melayani rute Kuala Lumpur-Singapura setelah pasar penerbangan rute tersebut semakin terbuka bagi maskapai berbiaya rendah.

Setahun kemudian, Skytrax menobatkan AirAsia sebagai maskapai berbiaya rendah terbaik dunia.

Jumlah penumpang terus bertambah. Pada 2010, AirAsia mencatat perjalanan penumpang ke-100 juta.

Grup tersebut juga mengembangkan AirAsia X untuk melayani penerbangan jarak menengah dan jauh. Namun, bisnis tersebut menghadapi tantangan ketika harga bahan bakar meningkat.

AirAsia X akhirnya menghentikan penerbangan ke London dan Paris pada 2012 setelah menghadapi tekanan harga avtur dan permintaan yang tidak sesuai harapan.

Tragedi QZ8501 pada 2014

Perjalanan bisnis AirAsia kemudian menghadapi salah satu peristiwa paling berat pada Desember 2014.

Pesawat AirAsia Indonesia dengan nomor penerbangan QZ8501 yang melayani rute Surabaya-Singapura jatuh di Laut Jawa. Kecelakaan tersebut menewaskan seluruh 162 orang yang berada di dalam pesawat.

Peristiwa tersebut turut memberikan tekanan terhadap bisnis AirAsia Indonesia. Pada kuartal pertama 2015, jumlah penumpang AirAsia Indonesia turun 26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan juga turun 14 persen.

Harga Avtur Mulai Menekan Keuangan

AirAsia masih mencatat keuntungan pada 2018. Namun, kenaikan harga bahan bakar mulai memberikan tekanan terhadap biaya operasional.

Harga rata-rata bahan bakar meningkat dari sekitar 69 dolar AS per barel menjadi 92 dolar AS per barel. AirAsia memperkirakan kenaikan tersebut menambah tagihan bahan bakar sekitar 703 juta ringgit pada 2018.

Setahun kemudian, grup AirAsia mencatat rugi bersih sekitar 283 juta ringgit.

Pandemi Covid-19 kemudian memperburuk kondisi perusahaan.

Pada 2020, AirAsia hanya mengoperasikan sekitar 29 persen kapasitas dibandingkan 2019. Pendapatan turun 74 persen menjadi 3,1 miliar ringgit, sedangkan kerugian bersih melonjak hingga 5,9 miliar ringgit.

Restrukturisasi Utang Setelah Pandemi

Krisis pandemi membuat AirAsia X masuk dalam status PN17 di Malaysia pada Oktober 2021. Capital A, perusahaan yang sebelumnya menggunakan nama AirAsia Group, menyusul pada Januari 2022.

AirAsia X kemudian menyelesaikan restrukturisasi utang besar pada Maret 2022.

Masalah belum sepenuhnya berakhir. Ketika penerbangan mulai pulih, harga avtur kembali naik. Pada kuartal II 2022, harga rata-rata bahan bakar AirAsia mencapai 151 dolar AS per barel.

Pemulihan penerbangan pada 2023 dan 2024 memang meningkatkan kembali permintaan. Namun, perusahaan tetap menghadapi biaya besar untuk mengaktifkan kembali pesawat yang lama tersimpan.

Konsolidasi AirAsia pada 2026

AirAsia memasuki babak baru pada Januari 2026.

AirAsia X menyelesaikan akuisisi AirAsia Berhad dan AirAsia Aviation Group Limited dari Capital A. Transaksi tersebut menggabungkan maskapai bermerek AirAsia ke dalam satu platform penerbangan.

Dalam transaksi tersebut, AirAsia X juga mengambil alih kewajiban sebesar 3,8 miliar ringgit yang sebelumnya menjadi utang Capital A kepada AirAsia Berhad.

Konsolidasi tersebut seharusnya membuat operasional AirAsia lebih terintegrasi. Namun, tekanan baru muncul hanya beberapa bulan kemudian.

Konflik Timur Tengah Mendorong Harga Avtur

Konflik di Timur Tengah kembali mengerek harga bahan bakar pesawat pada awal 2026.

Harga avtur bahkan menembus 200 dolar AS per barel pada akhir Maret. AirAsia memperkirakan kenaikan tersebut menambah biaya bahan bakar operasional Malaysia sekitar 200 juta ringgit hanya dalam satu bulan.

AirAsia kemudian menaikkan tarif dan menerapkan biaya tambahan bahan bakar untuk menghadapi kenaikan biaya operasional.

Perusahaan juga mulai menata ulang jaringan penerbangannya. AirAsia Group menangguhkan 21 rute dan memangkas kapasitas sekitar 10 persen pada kuartal kedua 2026.

AirAsia Thailand memangkas kapasitas sekitar 30 persen. Sementara itu, AirAsia Indonesia menghentikan sejumlah rute, termasuk Melbourne-Bali dan Adelaide-Bali. Layanan langsung Singapura-Jakarta dan Singapura-Bali juga dihentikan pada pertengahan 2026.

Kerugian AirAsia Mencapai Rp3,59 Triliun

Tekanan keuangan terlihat dalam laporan kuartal II 2026.

AirAsia Group mencatat rugi bersih 830,5 juta ringgit atau sekitar Rp3,59 triliun. Kerugian tersebut antara lain dipengaruhi rugi selisih kurs sebesar 331 juta ringgit.

Pada periode yang sama, harga rata-rata avtur mencapai 183 dolar AS per barel. Biaya bahan bakar AirAsia melonjak 58 persen secara tahunan.

Meski mencatat rugi bersih, AirAsia menyebut pendapatan grup tetap berada di sekitar 5,1 miliar ringgit. Perusahaan juga mencatat EBITDA positif 442,6 juta ringgit.

Kondisi keuangan setiap unit bisnis juga tidak sama. Operasi penerbangan jarak pendek di Malaysia dan Kamboja masih mencatat keuntungan, sementara tekanan lebih besar muncul pada sejumlah bisnis di Thailand, Filipina, Indonesia, serta penerbangan jarak jauh di Malaysia.

Kewajiban Lancar Capai Rp79,7 Triliun

Pada 30 Juni 2026, AirAsia mencatat kewajiban lancar sekitar 18,4 miliar ringgit atau sekitar Rp79,7 triliun.

Di sisi lain, kas dan saldo bank perusahaan berada di sekitar 954 juta ringgit atau sekitar Rp4,13 triliun.

AirAsia juga tengah mencari sumber pendanaan baru. Perusahaan mengejar hingga 1 miliar dolar AS dari pasar utang internasional serta fasilitas kredit lokal sekitar 700 juta ringgit.

Menurut sumber yang dikutip Reuters, kebutuhan modal segar AirAsia dapat mencapai sedikitnya 3 miliar dolar AS.

Malaysia Siapkan Skenario Jika Kondisi Memburuk

Tekanan tersebut membuat pemerintah Malaysia memantau kondisi AirAsia dengan lebih dekat.

Reuters melaporkan pemerintah Malaysia telah menanyakan kepada Malaysia Airlines dan Batik Air mengenai kemampuan mereka menyerap rute domestik dan penumpang AirAsia jika diperlukan.

Pembicaraan itu berlangsung sebagai bagian dari perencanaan skenario. Pemerintah belum memutuskan pengambilalihan rute atau operasi AirAsia.

Di sisi lain, manajemen AirAsia tetap menyatakan fokus menjaga operasional maskapai. Tony Fernandes juga membantah adanya pembicaraan mengenai bailout pemerintah.

Dengan demikian, masa depan AirAsia masih bergantung pada kemampuan perusahaan memperkuat neraca, mengelola utang, menyesuaikan kapasitas penerbangan, serta menghadapi biaya bahan bakar yang tinggi.

Maskapai yang dahulu dibeli hanya dengan 1 ringgit itu kini menghadapi ujian finansial baru. Namun, laporan mengenai skenario pemerintah Malaysia tidak sama dengan keputusan untuk mengambil alih AirAsia. Hingga saat ini, operasional maskapai tetap berjalan. ***(Ant)

Facebook Comments Box

Sumber Berita: Channel News Asia, Reuteurs

Berita Terkait

China Siapkan Strategi Baru Kuasai AI, Gandeng BRICS Bangun Ekosistem Open Source
Konflik Houthi-Arab Saudi Memanas, Pemerintah Diminta Siapkan Skenario Evakuasi Jemaah Umrah
Drone Houthi Mengarah ke Mekkah, Sistem Pertahanan Udara Saudi Berhasil Mencegat
Harga Solar AS Tembus US$200 per Barrel, IEA Ungkap Krisis Pasokan Global
Harga Minyak Mentah Naik ke Level Tertinggi Enam Pekan, Konflik AS-Iran Memanas
Harga Minyak Dunia Naik 2,7 Persen, Brent Tembus 90 Dollar AS
Banjir Bandang Nepal-Tibet: 2.980 Orang Masih Hilang, 682 Jenazah Ditemukan
Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 160 Orang, Ratusan Turis Masih Hilang

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 15:00 WIB

Konflik Houthi-Arab Saudi Memanas, Pemerintah Diminta Siapkan Skenario Evakuasi Jemaah Umrah

Jumat, 18 September 2026 - 12:00 WIB

AirAsia Dibeli Rp4.300, Kini Hadapi Tekanan Keuangan, Rute Domestik Jadi Sorotan

Rabu, 16 September 2026 - 13:00 WIB

Drone Houthi Mengarah ke Mekkah, Sistem Pertahanan Udara Saudi Berhasil Mencegat

Rabu, 16 September 2026 - 10:00 WIB

Harga Solar AS Tembus US$200 per Barrel, IEA Ungkap Krisis Pasokan Global

Selasa, 8 September 2026 - 08:12 WIB

Harga Minyak Mentah Naik ke Level Tertinggi Enam Pekan, Konflik AS-Iran Memanas

Berita Terbaru

Pelaku penganiaya perempuan di Senayan City ditangkap Subdit Jatanras Polda Metro Jaya, Jumat (18/9/2026)

Regional

Pria Penendang Wanita di Senayan City Jadi Tersangka

Senin, 21 Sep 2026 - 12:45 WIB