BANDUNG – Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat mencapai 5,89 persen pada triwulan III 2026. Capaian tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,47 persen. Lonjakan belanja pemerintah dan peningkatan investasi menjadi sejumlah faktor yang menopang kinerja ekonomi daerah.
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat pertumbuhan ekonomi tersebut secara tahunan atau year-on-year (y-on-y) dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati mengatakan, sejumlah komponen pengeluaran mencatat pertumbuhan tinggi. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) bahkan tumbuh mencapai 28,34 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Angka tersebut menjadi pertumbuhan tertinggi dibandingkan komponen pengeluaran lainnya. Kondisi ini menunjukkan peningkatan aktivitas belanja pemerintah turut memberikan dorongan terhadap perekonomian Jawa Barat.
Selain belanja pemerintah, investasi melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tumbuh sebesar 8,85 persen. Sementara itu, konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) meningkat 8,66 persen.
Konsumsi rumah tangga yang menjadi salah satu penopang utama ekonomi daerah juga menunjukkan kinerja positif. Komponen ini tumbuh sebesar 5,93 persen pada triwulan III 2026.
Sektor Akomodasi dan Transportasi Tumbuh Dua Digit
Dari sisi lapangan usaha, sejumlah sektor mencatat pertumbuhan signifikan. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum memimpin dengan pertumbuhan 14,54 persen.
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib menyusul dengan pertumbuhan 14,46 persen. Sementara itu, Transportasi dan Pergudangan tumbuh 13,61 persen.
Sektor Jasa Lainnya juga mencatat pertumbuhan dua digit sebesar 12,18 persen.
Pada sektor dengan kontribusi dominan, Konstruksi mencatat pertumbuhan 9,10 persen. Industri Pengolahan tumbuh 4,98 persen, sedangkan Perdagangan meningkat 4,13 persen.
Data tersebut memperlihatkan aktivitas ekonomi Jawa Barat bergerak positif di berbagai sektor. Pertumbuhan tidak hanya datang dari industri pengolahan, tetapi juga konstruksi, perdagangan, transportasi, hingga jasa.
Ekspor Belum Mampu Mengimbangi Impor
Meski mencatat pertumbuhan ekonomi di atas nasional, Jawa Barat masih menghadapi tantangan dari sisi perdagangan luar negeri.
BPS mencatat ekspor barang dan jasa tumbuh 3,02 persen. Namun, impor barang dan jasa justru meningkat lebih tinggi, yakni 6,11 persen.
Perbedaan pertumbuhan tersebut membuat komponen ekspor neto mengalami kontraksi sebesar 7,73 persen.
Margaretha menyampaikan data tersebut dalam Rilis Berita Resmi Statistik di Kantor BPS Jawa Barat, Kamis (5/11/2026).
Capaian pertumbuhan 5,89 persen menempatkan Jawa Barat di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Ke depan, penguatan investasi, konsumsi masyarakat, serta kinerja ekspor menjadi faktor penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah. ***(Chq)






