KABAR PAJAJARAN – Krisis minyak dunia kembali memasuki fase yang semakin ketat. Harga minyak mentah naik, sementara harga bahan bakar olahan seperti solar atau diesel ikut melonjak tajam.
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) mencatat harga solar di Amerika Serikat (AS) menembus US$200 per barrel pada awal September 2026.
Level tersebut sekitar 94 persen lebih tinggi dibandingkan harga sebelum perang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kenaikan harga solar bahkan melampaui kenaikan harga minyak mentah. Kondisi itu menunjukkan tekanan besar terhadap pasokan produk olahan minyak di pasar global.
Harga Solar Naik Lebih Tajam dari Minyak Mentah
Dalam laporan Oil Market Report September 2026, IEA mencatat harga minyak mentah Brent rata-rata mencapai US$91 per barrel pada Agustus 2026.
Harga tersebut naik sekitar US$7,61 per barrel dari bulan sebelumnya.
Namun, pasar menghadapi tekanan yang lebih besar pada produk olahan, terutama solar. Pada awal September, harga solar AS menembus US$200 per barrel.
IEA juga mencatat kenaikan harga solar di Eropa dan Asia.
Kondisi tersebut memperlebar jarak antara harga minyak mentah dan produk olahan. Margin pengolahan minyak di kawasan Atlantik bahkan mencapai rekor tertinggi pada Agustus 2026.
Ekspor Solar dari Teluk dan Rusia Anjlok
Gangguan pasokan dari kawasan Teluk menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasar solar global.
IEA memperkirakan negara-negara Teluk hanya mengekspor sekitar 13 juta barrel minyak per hari (bph) pada Agustus 2026.
Angka tersebut hampir separuh dari tingkat sebelum perang.
Tekanan terbesar muncul pada produk olahan dan LPG. Ekspor produk olahan serta LPG dari kawasan Teluk turun hampir 60 persen atau sekitar 3,7 juta bph dibandingkan Februari 2026.
Khusus solar, negara-negara Teluk hanya mengekspor rata-rata sekitar 390.000 bph pada Agustus.
Angka tersebut hanya sedikit di atas seperempat level sebelum perang.
Rusia juga menghadapi gangguan besar pada sektor pengolahan minyak. Serangan Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia mengganggu aktivitas kilang dan memangkas ekspor produk minyak.
Jika menggabungkan Teluk dan Rusia, ekspor bersih solar turun sekitar 1,6 juta bph pada Agustus 2026 dibandingkan Februari.
Padahal, kedua kawasan tersebut sebelumnya menyumbang hampir 45 persen perdagangan diesel melalui jalur laut dunia.
Stok Minyak Dunia Berkurang 507 Juta Barrel
Gangguan ekspor bukan satu-satunya persoalan. Pasar minyak global juga menghadapi penurunan persediaan.
IEA mencatat persediaan minyak dunia kembali berkurang 95 juta barrel pada Agustus 2026.
Penurunan tersebut membuat total stok yang hilang sejak Februari mencapai 507 juta barrel.
Rata-rata, persediaan global berkurang sekitar 2,8 juta bph sejak Februari.
Pada Agustus saja, stok minyak dunia turun sekitar 3,1 juta bph.
Persediaan di negara-negara non-OECD mengalami penurunan paling besar. Stok kawasan tersebut berkurang sekitar 52 juta barrel, dengan China sebagai salah satu penyumbang utama.
Sebaliknya, negara-negara OECD menambah persediaan sekitar 23 juta barrel.
IEA menilai penurunan stok tersebut membuat cadangan penyangga pasar semakin tipis.
Kapasitas penyulingan global juga sudah mendekati batas maksimal.
Produksi Minyak Global Turun
Tekanan pasokan membuat IEA kembali memangkas proyeksi produksi minyak dunia untuk 2026.
IEA memperkirakan produksi minyak global hanya mencapai rata-rata 100,7 juta bph tahun ini.
Angka tersebut turun 5,7 juta bph dibandingkan produksi 2025.
Proyeksi terbaru itu juga lebih rendah 1,3 juta bph dari laporan IEA bulan sebelumnya.
Gangguan pasokan dari kawasan Teluk menjadi salah satu penyebab utama penurunan tersebut.
Lebih dari 10 juta bph produksi minyak di kawasan Teluk masih berhenti pada Agustus 2026 karena meningkatnya risiko keamanan.
Produksi minyak global pada Agustus juga turun menjadi 100,1 juta bph. Angka tersebut berkurang 1,6 juta bph dari Juli.
IEA memperkirakan produsen minyak Timur Tengah baru memulihkan pasokan secara penuh pada 2027.
Permintaan Minyak Dunia Ikut Turun
Kenaikan harga energi dan gangguan pasokan juga menekan konsumsi minyak dunia.
IEA memperkirakan permintaan minyak global turun sekitar 2,5 juta bph pada 2026.
Proyeksi tersebut turun 940.000 bph dari perkiraan IEA pada laporan sebelumnya.
Penurunan permintaan terutama terjadi pada produk distilat menengah, termasuk diesel, serta bahan baku petrokimia.
IEA memperkirakan Asia akan merasakan dampak penurunan tersebut secara signifikan.
Meski begitu, laju penurunan permintaan mulai melambat.
Pada kuartal II 2026, permintaan minyak turun sekitar 5,3 juta bph. IEA memperkirakan penurunan tersebut melambat menjadi 3,4 juta bph pada kuartal III dan 2 juta bph pada kuartal IV.
IEA kemudian memproyeksikan permintaan minyak global kembali meningkat pada 2027 sebesar 2,6 juta bph.
Aktivitas Kilang Belum Mampu Mengejar Kebutuhan
Di tengah tekanan pasokan minyak mentah, industri pengolahan minyak meningkatkan produksinya.
Aktivitas kilang global mencapai 81,4 juta bph pada Agustus 2026.
Angka tersebut naik sekitar 960.000 bph dari Juli.
Namun, kapasitas pengolahan tersebut masih 4,2 juta bph lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Gangguan pengolahan terjadi di Timur Tengah dan Rusia. Sejumlah negara pengimpor minyak di Asia juga mengurangi aktivitas kilang.
Untuk keseluruhan 2026, IEA memperkirakan pengolahan minyak global turun 2,6 juta bph menjadi 81,5 juta bph.
Kondisi tersebut membuat harga produk olahan semakin sensitif terhadap gangguan pasokan.
Pemulihan Pasokan Minyak Menunggu 2027
IEA menilai pemulihan pasokan minyak global masih menghadapi sejumlah hambatan.
Kebuntuan negosiasi antara AS dan Iran turut menunda prospek normalisasi arus minyak.
Gangguan di kawasan Teluk dan jalur pelayaran Bab el-Mandeb di Laut Merah juga menambah tekanan terhadap perdagangan energi.
Di sisi lain, perang Rusia-Ukraina terus mengganggu aktivitas pengolahan dan ekspor produk minyak Rusia.
IEA memperkirakan produksi minyak dunia akan kembali meningkat pada 2027.
Produsen Timur Tengah juga akan memulihkan sebagian besar pasokan yang hilang.
Namun, pasar minyak pada 2026 masih menghadapi tekanan dari tiga sisi utama, yakni pasokan yang berkurang, persediaan yang menipis, dan kapasitas kilang yang terbatas.
Situasi tersebut membuat pasar solar global tetap rentan terhadap gangguan baru hingga proses pemulihan pasokan berjalan lebih luas pada 2027. ***(Ant)






