Tongkang Batu Bara Titan Bocor di Perairan Pangandaran, Pencemaran Ancam Habitat Penyu

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebuah tongkang bernama Titan yang mengangkut batu bara dari Palembang menuju Cilacap, Jawa Tengah, mengalami kebocoran saat melintas di perairan selatan Kabupaten Pangandaran, pada Selasa (16/6/2026). Documen Polres Pangandaran(Ayu Sabrina Barokah )

Sebuah tongkang bernama Titan yang mengangkut batu bara dari Palembang menuju Cilacap, Jawa Tengah, mengalami kebocoran saat melintas di perairan selatan Kabupaten Pangandaran, pada Selasa (16/6/2026). Documen Polres Pangandaran(Ayu Sabrina Barokah )

PANGANDARAN, KABAR PAJAJARAN – Insiden kebocoran tongkang bernama Titan yang melintas di perairan selatan Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, memicu kekhawatiran serius dari kalangan pegiat lingkungan. Material batu bara yang diangkut kapal tersebut tumpah dan menyebar hingga ke sejumlah titik, termasuk kawasan Pantai Sukaresik, pada Kamis (18/6/2026).

Petugas dan warga menemukan ceceran batu bara setelah tongkang tersebut dievakuasi dan didamparkan sementara karena mengalami kendala teknis di laut.

Aktivis Konservasi: Ancaman Nyata bagi Habitat Penyu

Pengelola Yayasan Raksa Bintana Pangandaran, Kurdys Zovansckha, menilai insiden ini memberikan dampak serius terhadap ekosistem pesisir, khususnya habitat penyu yang selama ini menjadi fokus konservasi di wilayah tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menegaskan bahwa aktivitas kapal pengangkut batu bara di jalur selatan Jawa berpotensi mengganggu keberlanjutan populasi penyu yang naik ke pantai untuk bertelur.

“Setiap gangguan dari aktivitas kapal dan potensi limbahnya terbukti menurunkan jumlah penyu yang mendarat,” kata Kurdys pada Kamis (18/6/2026).

Petugas kepolisian dan aparat terkait memeriksa bongkahan batu bara yang berceceran di kawasan Pantai Sukaresik, Pangandaran, Kamis (18/6/2026). (Ayu Sabrina Barokah )

Musim Bertelur Penyu Terganggu di Momentum Krusial

Kurdys menjelaskan bahwa insiden ini terjadi pada waktu yang sangat sensitif bagi siklus hidup penyu di Pangandaran. Bulan Juni merupakan periode penting pendaratan penyu, terutama di kawasan Cibenda yang menjadi salah satu lokasi utama konservasi.

Menurutnya, tahun ini seharusnya menjadi periode peningkatan jumlah penyu yang bertelur setelah siklus sebelumnya.

Namun, ia menilai tumpahan batu bara justru mengganggu area yang sedang aktif digunakan penyu untuk bertelur.

Dampak Batu Bara Rusak Struktur Pasir dan Sarang Penyu

Kurdys menjelaskan bahwa batu bara membawa risiko pencemaran serius karena mengandung logam berat, senyawa asam, dan Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH) yang berbahaya bagi ekosistem pantai.

Ia menyebut material tersebut dapat meresap ke dalam pasir dan mengganggu proses alami penetasan telur penyu.

Selain itu, perubahan suhu dan kelembapan pasir akibat kontaminasi juga berpotensi memengaruhi perkembangan embrio penyu, termasuk menentukan jenis kelamin tukik.

“Ketika pasir tercemar, proses penetasan bisa gagal atau menghasilkan tukik yang lemah,” ujarnya.

Rantai Makanan Laut Juga Terancam

Tidak hanya penyu, Kurdys juga menyoroti dampak pencemaran terhadap biota laut lain yang menjadi bagian dari rantai makanan.

Ia menjelaskan bahwa penyu dewasa dapat terpapar material beracun melalui air laut atau makanan yang terkontaminasi.

Dalam kondisi parah, ia memperingatkan risiko gangguan pernapasan, keracunan, hingga kematian pada satwa laut.

Polisi Klarifikasi Jalur Tongkang Titan

Sementara itu, Kasat Polairud Polres Pangandaran AKP M Anang Tri Sodikin menjelaskan bahwa tongkang Titan sebenarnya tidak menjadikan perairan Pangandaran sebagai jalur utama.

Menurutnya, kapal tersebut menepi untuk berlindung setelah mengalami gangguan teknis di tengah perjalanan.

“Tongkang itu tidak sedang melintas sebagai jalur utama, tetapi merapat karena ada kendala teknis untuk menghindari risiko di laut lepas,” kata Anang.

DLH Turun Tangan Lakukan Penyelidikan

Pihak kepolisian bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kini melakukan langkah investigasi untuk menilai dampak pencemaran.

Petugas mengambil sampel air laut serta bongkahan batu bara yang tercecer di kawasan pantai sebagai bahan uji laboratorium.

Hasil pemeriksaan tersebut akan menentukan tingkat pencemaran serta langkah penanganan lanjutan di wilayah pesisir Pangandaran. ***(Chq)

 

 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Kebakaran Desa Adat Sade, Kampung Tradisional Sasak yang Bertahan 15 Generasi
KPK Bongkar Dugaan Jual-Beli Kursi Mahasiswa Baru Unsoed, 73 Kursi Diduga Dikondisikan
Kebakaran Gunung Gede Pangrango Memasuki Pekan Kedua, Titik Asap di Kawah Wadon Tak Lagi Terlihat
Kebakaran Gedung Bapenda Jakarta, Polisi Periksa 10 Saksi dan Telusuri Asal Api
Gempa M 3,2 Guncang Bogor Sabtu Pagi, Getaran Terasa di Pamijahan dan Leuwiliang
Polda Metro Minta Warga Tak Sebarkan Spekulasi soal Pagar Mal, Jakarta Tetap Kondusif
Gas Elpiji 3 Kg Langka di Indramayu, Pedagang Keliling hingga 10 Warung, Harga Tembus Rp30 Ribu
Warga Kasepuhan Ciptamulya Bangkit Usai Kebakaran, Pemkab Sukabumi Percepat Pemulihan

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 12:00 WIB

Kebakaran Desa Adat Sade, Kampung Tradisional Sasak yang Bertahan 15 Generasi

Rabu, 19 Agustus 2026 - 12:00 WIB

Kebakaran Gunung Gede Pangrango Memasuki Pekan Kedua, Titik Asap di Kawah Wadon Tak Lagi Terlihat

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:00 WIB

Kebakaran Gedung Bapenda Jakarta, Polisi Periksa 10 Saksi dan Telusuri Asal Api

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Gempa M 3,2 Guncang Bogor Sabtu Pagi, Getaran Terasa di Pamijahan dan Leuwiliang

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 17:46 WIB

Polda Metro Minta Warga Tak Sebarkan Spekulasi soal Pagar Mal, Jakarta Tetap Kondusif

Berita Terbaru

Bandung Raya

Eks Tim Sukses Dedi Mulyadi Jadi Dirut MUJ, Pengamat Beri Tanggapan

Senin, 24 Agu 2026 - 09:33 WIB