Kabupaten Indramayu, Kabar Pajajaran – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendorong petani untuk mulai menerapkan pola tanam yang lebih berkelanjutan dengan menanam kedelai dan kacang-kacangan secara bergantian guna menjaga kesuburan tanah pertanian.
Hal tersebut disampaikan Dedi Mulyadi saat menghadiri kegiatan penanaman kedelai di lahan seluas 210 hektare dalam program dukungan swasembada kedelai 2026 di lahan Hak Guna Usaha (HGU) PT PG Rajawali II, Desa Sukamulya, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, Rabu (10/6/2026).
Dalam kesempatan itu, Dedi yang akrab disapa KDM berharap penanaman kedelai dapat menghasilkan panen yang optimal sekaligus menjadi langkah nyata mendukung kemandirian pangan nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Baca juga: Dedi Mulyadi Soroti Aplikasi SPMB Jabar, Sebut Tak Terintegrasi dengan Diskominfo
“Mudah-mudahan kedelainya bisa mekar, airnya bisa terpancar, kemudian hasilnya nanti memuaskan semua pihak dan produktivitas kedelainya meningkat,” ujar KDM.
Menurutnya, petani perlu meninggalkan sejumlah kebiasaan yang dapat menurunkan produktivitas lahan, termasuk memanen tanaman saat belum matang sempurna dan melakukan penanaman tanpa jeda sepanjang tahun.
KDM menyoroti intensitas penanaman padi yang semakin tinggi akibat ketersediaan air yang melimpah dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut, menurutnya, berdampak pada penurunan kualitas tanah.
“Penanaman padi saat ini tidak pernah berhenti. Dalam setahun bisa tiga sampai empat kali tanam. Akibatnya tingkat kesuburan tanah menurun dan kondisi pH tanah menjadi rendah,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, KDM mengusulkan penerapan sistem tumpang sari maupun rotasi tanaman dengan kedelai dan kacang-kacangan sebagai bagian dari upaya pemulihan unsur hara tanah.
“Kepada Dinas Pertanian, setahun sekali menanam kedelai dan kacang harus dilakukan untuk menjaga kesuburan tanah. Tanpa itu, kondisi tanah akan semakin berat,” tegasnya.
Baca juga: WIITEX 2026 Siap Digelar, Jabar Bidik Pasar Global untuk Teh, Kopi, dan Kakao
Sementara itu, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Sujono Djojohadikusumo, mengatakan Indonesia saat ini masih mengimpor kedelai dari sejumlah negara seperti Brasil, Argentina, dan Amerika Serikat.
Menurut Hashim, keberhasilan program swasembada kedelai akan mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus membantu menekan harga bahan pangan berbasis kedelai seperti tahu dan tempe.
Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto menargetkan luas tanam kedelai nasional mencapai satu juta hektare dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Untuk mendukung target tersebut, pemerintah akan menyalurkan benih unggul kepada petani di berbagai daerah.
Di lokasi yang sama, Penasehat Koperasi Bareng Bareng Sugih (BBS), Mulyadi, menyatakan program penanaman kedelai merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Ia berharap Kabupaten Indramayu dapat semakin memperkuat perannya sebagai salah satu lumbung pangan nasional.***(BePe)






